INDOSatu.co – PARIS – Setelah Museum Louvre disatroni kawanan perampok, otoritas Prancis benar-benar terpukul dan merasa kecolongan. Karena selain delapan permata peninggalan Napoleon raib, hingga kini polisi juga belum mengendus, apalagi menemukan jejak para pelaku.
Hingga ini otoritas Prancis untuk sementara hanya bisa menghitung kerugian Museum Louvre. Berdasar penghitungan dari seorang jaksa Prancis, bahwa kerugian finansial akibat perampokan di Museum Louvre diperkirakan mencapai 88 juta euro. Jika estimasi per 1 euro sebesar Rp 19.272 (per hari ini), maka kerugian hampir mencapai Rp 1,7 triliun.
Dilansir AFP, saat ini yang dilakukan otoritas Prancis adalah mengerahkan 60 petugas khusus yang bertugas untuk memburu kawanan yang melakukan perampokan nekat di siang bolong tersebut.
Jaksa Paris, Laure Beccuau mengatakan, bahwa kurator museum telah memperkirakan kerugian sebesar itu, tetapi para pencuri tidak akan mendapatkan jumlah yang setara jika mereka memiliki ide yang sangat buruk untuk melebur permata-permata ini atau menjualnya.
Pencurian ini merupakan yang terbaru yang terjadi di museum-museum Prancis dalam beberapa bulan terakhir, yang telah membuat pihak berwenang berupaya keras untuk meningkatkan tindakan perlindungan.
Dalam kasus terpisah, seorang jaksa mengatakan bahwa belum lama ini seorang wanita Tionghoa telah didakwa karena mengambil bagian dalam pencurian bongkahan emas senilai lebih dari $1 juta dari museum Paris lainnya bulan lalu.
Terkait kasus perampokan terbaru, puluhan penyidik masih mencari pelaku pada hari Ahad, dengan mengembangkan teori bahwa kawanan perampok itu adalah kelompok terorganisasi yang memanjat tangga truk untuk membobol museum.
Beccuau mengonfirmasi bahwa empat orang terlibat dalam perampokan tersebut. Dan pihak berwenang sedang menganalisis sidik jari yang ditemukan di tempat kejadian perkara (TKP).
Pencurian tersebut telah memicu kembali pertikaian mengenai longgarkan pengamanan di museum-museum Prancis. Sebelum Museum Louvre, dua museum lain juga dirampok bulan lalu. Usulan pengamanan ekstra terus disuarakan, tetapi Badan Pemeriksa Keuangan Prancis justru terus menunda terhadap pengamanan di Louvre.
Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati juga mengaku terpukul dengan peristiwa perampokan di Museum Louvre itu. Rachida pun berjanji akan segera melakukan renovasi untuk pengamanan Museum Louvre agar lebih terjamin. Menteri blesteran ayah Maroko dan ibu Aljazair itu mengaku bahwa renovasi sangat mendesak untuk dilakukan.
Dalam kronologi perampokan hari Ahad pagi itu, kawanan perampok memarkir truk dengan tangga yang dapat diperpanjang menuju ruang permata Napoleon tersimpan. Mereka memanjat dan menggunakan peralatan pemotong untuk melewati jendela dan membuka etalase untuk mencuri perhiasan.
Mereka membawa lari delapan barang berharga, termasuk kalung zamrud dan berlian yang diberikan Napoleon I kepada istrinya, Permaisuri Marie-Louise, dan sebuah diadem yang dulunya milik Permaisuri Eugénie, yang dihiasi hampir 2.000 berlian. (*)





