Proyek Whoosh Bukan untuk Cari Laba, Anthony: Ngelantur, Jokowi Panik

  • Bagikan
PROYEK RUGI: Joko Widodo saat melakukan uji coba Kereta Cepat Jakarta-Bandung, Rabu (13/9)saat masih menjabat sebagai presiden RI. Kini proyek tersebut diduga terjadi mark-up besar-besaran.

INDOSatu.co – JAKARTA – Pernyataan mantan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) bahwa Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) atau Whoosh dibangun bukan untuk mencari keuntungan finansial, melainkan sebagai investasi sosial bagi masyarakat memicu sentimen publik.

Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan menilai, Jokowi sedang panik dan mencoba cuci tangan dari skandal Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) yang merugikan keuangan negara secara nyata dalam jumlah besar Rp 73,5 triliun.

”Setelah permasalahan KCJB terbuka lebar, Jokowi berdalih, Proyek Kereta Cepat bukan mencari laba, tetapi investasi sosial. Dalih ini jelas untuk menghindar dari tanggung jawab atas kerugian keuangan negara yang super besar,” kata Anthony dalam keterangannya kepada INDOSatu.co, Selasa (28/10).

Alasan yang diberikan Jokowi itu, kata Anthony, semakin memperlihatkan karakter aslinya, pembohong, seperti yang sudah berkali-kali dilakukan selama ini. Misalnya kasus Esemka, atau IKN (Ibu Kota Negara) yang katanya sudah banyak investor antre untuk investasi di sana, dan ternyata semuanya bohong besar.

Baca juga :   KPK Panggil Sejumlah Pihak, Jubir KPK: Yang Tahu soal Whoosh

Alasan Jokowi bahwa Kereta Cepat tidak mencari laba tetapi investasi sosial tidak dapat diterima akal sehat. Alasannya, kata Anthony, kalau tidak mencari laba, seharusnya bukan BUMN dalam bentuk perseroan (perusahaan terbatas, PT) yang menangani Proyek KCJB ini. Karena PT adalah bentuk usaha yang bermotif mencari laba. ”Itu yang yang pertama,” kata Anthony.

Kedua, kata Anthony, kalau Proyek KCJB tidak bermotif laba, tetapi investasi sosial, maka sejak awal proyek ini seharusnya ditanggung atau dijamin APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara), dan harus melalui persetujuan DPR.

Ketiga, kata dia, jika Proyek KCJB bermotif sosial dan ditanggung APBN maka pihak Jepang yang seharusnya ditunjuk sebagai pemenang pelaksana proyek, karena total biaya penawaran Jepang, termasuk bunga, lebih murah dari penawaran China.

Baca juga :   Komjen Pol Rudy Heriyanto, Calon Pengganti Kapolri Jenderal Listyo Sigit

Keempat, ungkap Anthony, Jepang gagal, atau digagalkan, ditunjuk sebagai pemenang Proyek Kereta Cepat ini justru karena Jokowi secara explisit menyatakan bahwa Proyek ini tidak dijamin APBN, tetapi mengikuti skema business-to-business (B to B), yang jelas-jelas bermotif laba.

Kelima, masalah KCJB saat ini bukan masalah mencari laba atau investasi sosial, tetapi masalah korupsi yang harus diusut tuntas sampai ke aktor utamanya. Proyek KCJB terindikasi kuat ada mark-up dan penyimpangan dalam proses penunjukan pemenang yang merugikan keuangan negara paling sedikit Rp 73,5 triliun.

Keenam, pernyataan Jokowi bahwa Proyek Kereta Cepat tidak mencari laba tetapi investasi sosial justru semakin memperkuat fakta bahwa ada pemufakatan jahat dalam pelaksanaan proses tender pengadaan barang Kereta Cepat ini, untuk mendiskualifikasi Proyek Jepang yang lebih murah, dengan memilih Proyek China yang lebih mahal, dengan alasan skema business-to-business yang jelas-jelas bermotif laba.

Baca juga :   Prabowo Panggil Calon Menteri di Kertanegara, Dasco Pastikan Mereka Siap Membantu

”Jadi, alasan yang dikemukan Jokowi ngelantur dan tidak relevan sama sekali, tetapi hanya bentuk pembelaan diri yang sudah terpojok,” beber Anthony.

Karena itu, alasan Jokowi bahwa Proyek KCJB tidak mencari laba tetapi investasi sosial tidak dapat diterima sepenuhnya. Fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya. Jokowi tidak bisa berkelit lagi, tetapi harus bertanggung jawab atas kerugian keuangan negara super raksasa ini.

”Sekali lagi, Jokowi panik dan ketakutan, karena fakta-fakta yang dikemukakan banyak pihak mengerucut pada dirinya sebagai aktor utama atau otak dibalik pemilihan Kereta Cepat Jakarta Bandung yang memenangkan China itu,” pungkas ekonom senior alumni Erasmus University, Rotterdam, Belanda, itu. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *