SEBAGAI sesama Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA), tentu sangat prihatin atas sorotan tajam publik yang menimpa Eggi Sudjana setelah bersama Hari Damai Lubis datang menemui Jokowi ke tempat kediamannya di Solo.
Banyak yang terkejut dan memberi tafsiran beragam tentang motif dan isi pertemuan unik tersebut. Unik karena Eggi adalah tokoh sejak dahulu gigih berjuang untuk membongkar ijazah palsu Jokowi.
Kehadiran keduanya yang dibersamai pengacara Elyda Netti dan Ketua Relawan Jokowi (Rejo) Darmizal serta Sekjen M. Rahmad dibenarkan Ajudan Jokowi Syarif M. Fitriansyah. Konon ada polisi lain ikut. Berbagai media memuat kunjungan “istimewa” dan tertutup itu.
Tanpa foto, video, maupun rekaman. Berujung tanpa konpers baik dari pihak Jokowi maupun Eggi. Isi pertemuan dibuat misteri, hanya sinyal kehangatan berupa pelukan haru. Demikian menurut Rahmad, Sekjen Rejo.
Ditunggu klarifikasi Jokowi dan Eggi hingga publik faham apakah penjelasannya sama atau berbeda. Uji kejujuran atas informasi keduanya. Kronologis hingga terjadinya pertemuan perlu pula untuk diungkapkan.
Masyarakat khususnya pengkritik merasa heran, kok bisa? Berseteru, bertemu, menyerahkan buku, lalu berpelukan haru. Pertemuan rahasia telah terbuka, tinggal cerita fakta untuk menghilangkan curiga.
Bola liar tafsir wajar terjadi karena kasus ijazah palsu Jokowi bukan lagi domein privat. Skandal yang telah mendunia ini sangat sensitif dalam pola penyikapannya. Rekayasa misteri dapat memporakporandakan harga diri.
Siapapun apakah itu Jokowi, pendukung, ataupun pemburu yang mendekat. Medan magnetik Jokowi sangat kuat dan dapat merusak reputasi. Dan Eggi tentu tahu hal tersebut.
Eggi Sudjana berjanji untuk klarifikasi. Kita semua menanti. Jokowi mungkin akan menutup diri sebagaimana biasa dilakukan selama ini. Bola liar tafsir tidak boleh dibiarkan dan bergerak kesana-sini.
Masalah harus jelas, apakah membahas status tersangka, pencekalan, pemaafan atau kesepakatan. Semua bisa terjadi di ruang remang-remang apalagi ruang itu gelap. sangat gelap.
Fitnah dapat terjadi. Kedatangan terlapor atau tersangka kepada pelapor secara diam-diam itu sudah menjadi fitnah tersendiri. Agama mengajarkan agar herhati-hati terhadap perbuatan yang dapat menimbulkan fitnah. Apalagi ada pernyataan pujian bahwa Jokowi CBM Cerdas, Berani, Militan. Hmmm…
Tidak perlu berlama-lama untuk klarifikasi karena waktu bisa menghukum. Eggi Sudjana harus cepat menjelaskan. Apapun risikonya. Biarlah nanti publik yang menilai dan menggelar peta kebenaran dan kejujuran. Apakah permakluman, pemaafan, atau mungkin penghukuman. Que sera sera, whatever will be will be. (*)
M. Rizal Fadillah;
Penulis adalah Pemerhati Politik dan Kebangsaan, tinggal di Bandung.



