INDOSatu.co – JAKARTA – Wakil Ketua Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA), Rizal Fadillah menilai, Eggi Sudjana (ES) dan Damai Hari Lubis (DHL) saat ini berada di simpang jalan, setelah menggelar pertemuan tertutup dengan mantan Presiden Joko Widodo, di Surakarta, Jawa Tengah, Kamis (8/1).
Rizal menilai, langkah mendatangi kediaman Jokowi berdampak di luar dugaan. Kepercayaan publik anjlok dan sangat mengancam bagi reputasi Eggi Sudjana ke depan. Bahkan, Rizal menengarai, bahwa sedikit demi sedikit rahasia di balik pertemuan itu akan terkuak dengan sendirinya.
”Komitmen sebagai pertemuan rahasia tidak mungkin dipertahankan atau dijalankan konsisten. Ia pasti bocor atau dibocorkan demi kepentingan pragmatis,” kata Rizal kepada INDOSatu.co, Senin (12/1).
Naluri para jurnalis yang selalu penasaran dan cepat dalam memburu berita, kata Rizal, menyebabkan masifnya informasi sangat tersebar. Peristiwa itu yang mungkin awalnya dianggap sumir, tetapi kini menjadi istimewa. Bagaimana tidak, Eggi Sudjana yang awal boleh disebut ikut mempelopori perjuangan membongkar ijazah palsu Jokowi, tiba-tiba “nyelonong” menemui Jokowi di kediamannya.
”Sekali lagi, itu semua perlu penjelasan. Konon ada maaf-maafan dan pelukan haru disana. Itu yang muncul kepermukaan dari kesaksian termul. Bila benar, memang dramatis dan ironis,” kata Rizal.
Meski telah mengambil alih kembali kedudukan sebagai Ketua TPUA, kata Rizal, tetapi dipastikan pertemuan tersebut bersifat pribadi. Tidak ada kesepakatan para pengurus TPUA. Eggi dan DHL adalah sama-sama Tersangka atas kasus laporan Jokowi.
”Narasi pemaafan yang ditebar Jokowi sebelumnya bagaikan jala yang dilempar. Membuat ikan yang terperangkap menggelepar lalu segera dibakar,” kata Rizal menganologikan pertemuan Eggi dan Jokowi itu.
Jokowi, ungkap Rizal, biasa membuat orang lain kelimpungan oleh ulahnya, apakah pejabat, aparat, pimpinan ormas, partai politik, juga Presiden. Aktivis pun tidak terkecuali. Jkowi dikenal sebagai orang yang jago pecah belah, menjebak dan menjerat. Tampilan sederhana namun berbahaya.
”Apakah Eggi Sudjana dan DHL itu masuk jebakan atau memang silaturahmi berbasis kesadaran? Perlu klarifikasi cepat,” kata Rizal.
Jika satu pekan depan baru akan dilakukan klarifikasi resmi, kata Rizal, jelas sangat lambat. Guliran kecurigaan, gunjingan, bahkan penghukuman sudah menggumpal. Sulit memulihkan kepercayaan dengan secarik klarifikasi yang berlama-lama. Prinsipnya adalah bahwa pertemuan di rumah Jokowi itu memang blunder atau salah besar.
Persimpangan jalannya, kata Rizal, jika membenarkan dan membuat perdamaian atas kasus ijazah palsu Jokowi, bahkan ditindaklanjuti dengan mekanisme hukum untuk “menolong” ES dan DHL, maka sebutan pengkhianat menjadi wajar dan harus diterima sebagai konsekuensi.
Akan tetapi, kata Rizal, jika tetap mendeklarasikan untuk melawan Jokowi pasca pertemuan, maka pembalasan Jokowi dengan “squad” nya juga akan semakin keras. Bos mafia itu merasa dipermainkan. Apalagi jika sudah ada kompensasi. Biar publik yang menilai.
Rizal menegaskan, publik perlu ketegasan. ada dimana kedua tokoh ini? Jika sudah mengambil putusan, maka biarlah kereta bergerak di rel nya masing-masing. Tapi jika putusan itu masih dalam gerbong yang sama, maka pemulihan kepercayaan butuh energi ekstra yang tidak cukup dengan sekedar postingan ayat. Agenda dan implementasi harus konsisten.
”Jadi, mutlak mengesampingkan kepentingan atau keselamatan pribadi dan keluarga.
Rakyat, bangsa, umat, khususnya agama harus didahulukan,” kata alumni Fakultas Hukum Universitas Padjajaran (Unpad), Bandung itu.
Saat ini kepentingan utama bangsa adalah membuktikan bahwa ijazah Jokowi itu palsu. Perlu fokus dan perjuangan keras untuk hal ini.
”Bang Eggi dan bang DHL ke sini arah dan misi perjuangan kita. Bukan menyelamatkan diri dengan berdialog, bernegosiasi, atau bermaaf-maafan. Apalagi pakai pelukan haru,” pungkas Rizal. (*)



