SOAL manuver, Ketua Umum DPP PAN Zulkifli Hasan (Zulhas) jagonya. Urusan pilpres, Zulhas selalu terdepan. Nama Zulhas atau kader PAN paling awal ditawarkan. Sayagnya, selama ini, tawaran nama dari Zulhas hampir semua tak laku. Alias nihil. Kenapa? Mari kita bedah.
Pertama, PAN itu identik dengan Muhammadiyah. Menggandeng kader Muhammadiyah mendorong lawan untuk ambil tokoh NU. Jumlah pemilih NU jauh lebih besar dan preferensi psikologisnya lebih kuat. Karena itu, capres, siapapun dia, akan berhitung ribuan kali untuk menggandeng kader PAN.
Suka tidak suka, inilah fakta politiknya. Butuh waktu untuk mengubah cara berpikir pemilih. Karena politik, urusannya adalah kemenangan dan bagaimana cara menang. Karena itu, suara mayoritas akan menjadi prioritas.
Kedua, PAN bukan partai besar. Capres akan lebih memilih tokoh yang di-support oleh partai besar. Golkar misalnya, jauh lebih potensial. Memang, kompetisi pilpres adalah kompetisi tokoh. Tokoh yang punya elektabilitas tinggi potensial untuk didorong maju, baik sebagai capres maupun cawapres.
Inilah persoalan ketiga, bahwa Zulhas bukan tokoh yang mudah dijual. Jejakmya selalu dikait-kaitkan dengan kasus di kementerian kehutanan. Ini telah menjadi memori publik yang sulit di-recovery. Ini problem yang cukup resisten. Meski, kasus ini belum tentu terbukti kebenarannya. Sebab, bukti itu adanya di pengadilan. Sementara politik, itu urusan persepsi.
Cari pasangan di pilpres bukan soal kedekatan dan kesetiaan. Zulhas dan PAN mungkin adalah pihak yang setia terhadap Prabowo. Tapi, kesetiaan tidak memiliki hubungan rasionalitas terhadap elektabilitas.
Any way, bicara pasangan pilpres bagi partai saat ini adalah sesuatu yang tabu. Pilpres masih tiga tahun lagi. Partai, khususnya yang masuk koalisi, lebih elok kalau bicara program untuk rakyat. Belum waktunya masuk dalam diskursus kontestasi. Ora elok. Gak bagus. Biarlah ini urusan para pengamat dan analis politik.
Betul kata Hasto, sekjen PDIP: pemilu masih lama. Fokus saja pada urusan rakyat. Hasto menjadi terlihat cerdas dan sangat kritis sejak menjadi oposisi. Tentu, berbeda ketika Hasto masih dalam koalisi. Hasto adalah representasi dari umumnya para politisi. Kritis saat jadi oposisi. Akan jadi “musisi” ketika masuk dalam koalisi.
Komentar Hasto menjadi warning buat PAN. Gak elok bicara capres-cawapres hari ini. Kecuali, jika manuver PAN ini memang dimaksudkan untuk menunjukan kesetiaannya kepada Prabowo. Kalau itu maksudnya, maka publik akan menilai PAN berlebihan dalam menjilat penguasa.
Jika pemerintahan Prabowo kedepan mulus, dan Prabowo berkesempatan untuk nyapres 2029, siapa yang akan dipilih Prabowo sebagai cawapres? Masihkah Prabowo akan tetap berpasangan dengan Gibran? Atau justru Prabowo menggandeng tokoh lain dan Gibran jadi rivalnya? Semua serba memungkinkan. (*)
Tony Rosyid;
Penulis adalah Pemerhati Politik dan Kebangsaan.



