Tak Lihat Hilal, Kemenag Lamongan Awal Ramadan 19 Februari

  • Bagikan
IKUT MABIMS: Para perukyat menggelar jumpa pers terkait penetapan awal Ramadan 1447 Hijriyah yang diawali dengan pemantauan hilal di di Markaz Rukyatul Hilal Tanjung Kodok pada Selasa (17/2)

INDOSatu.co – LAMONGAN – Pemantauan hilal yang dilakukan Badan Hisab dan Rukyat (BHR) Lamongan di Markaz Rukyatul Hilal Tanjung Kodok pada Selasa (17/2), menunjukkan bahwa hilal tidak terlihat dari Lamongan.

Secara astronomis, tinggi hilal dilihat dari Tanjung Kodok berada pada minus satu derajat baik secara hakiki maupun mar’i dengan elongasi 01⁰ 05′ 24″ dan posisi hilal masih di bawah ufuk.

Baca juga :   Kunjungi Lamongan, Kepala Kantor Staf Presiden RI Tinjau SPPG

Ketua BHR Lamongan Khoirul Anam mengatakan bahwa, hingga waktu pengamatan berakhir, para perukyat tidak dapat melihat hilal. Posisi ketinggian hilal yang berada pada minus satu derajat ini dikatakan mereka secara astronomis mustahil dapat melihat hilal.

“Ketinggian hilal di Tanjung Kodok minus satu derajat. Secara astronomis tidak mungkin terlihat, dalam istilah ilmu falak kondisi ini disebut rukyat yang mustahil,” ungkapnya.

Baca juga :   Peraih Suara Terbanyak Tak Bersedia Jadi Ketua, Suwito Kembali Pimpin PD Muhammadiyah

Sebagaimana diketahui, kriteria imkanur rukyah (kemungkinan terlihatnya hilal) yang ditetapkan Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), yakni jika posisi hilal saat matahari terbenam mencapai ketinggian minimal 3 derajat di atas ufuk dan sudut elongasi (jarak sudut bulan – matahari) minimal 6,4 derajat.

Dari laporan hasil pengamatan tersebut, Sidang Isbat Kementerian Agama RI kemudian memutuskan awal puasa, 1 Ramadhan 1447 Hijriyah jatuh pada esok hari yakni Kamis 19 Februari 2026. (*)

Baca juga :   Gelar Muscab, PPP Bojonegoro Dipatok Kursi DPRD Lebih Banyak
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *