INDOSatu.co – JAKARTA – Kebijakan politik luar negeri Indonesia untuk Timur Tengah terlihat membingungkan, tidak memiliki konsep, arah dan tujuan yang jelas. Penilaian tersebut disampaikan Pengamat politik dan ekonomi internasional dari Universitas Indonesia (UI) Watch, Hasril Hasan.
”Politik luar negeri Indonesia di Timur Tengah tidak mempunyai tujuan dan prioritas yang jelas. Citra politik kita babak belur dan kepentingan ekonomi tidak bisa dicapai secara optimal,” kata Hasril.
Pernyataan Hasril itu disampaikan untuk merespon seberapa besar peluang keuntungan yang diraih atas konflik yang berlangsung di Timur Tengah sekarang ini. Perang antara AS-Israel melawan Iran sudah berlangsung lebih sebulan, tetapi, Indonesia tidak mampu memaksimalkan kepentingannya dalam perang itu.
Di masa awal perang, Presiden Prabowo menawarkan dirinya menjadi juru damai karena merasa dekat dengan Presiden AS Donald J Trump dan merasa mempunyai hubungan baik dengan Iran sebagai sesama negara muslim yang tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam (OIC).
”Tetapi, tawaran itu tidak ditanggapi serius oleh pihak-pihak yang bertikal. Keinginan menjadi juru damai itu sekarang tidak terdengar lagi. Layu sebelum berkembang,” kata Hasril.
Iran tentu tidak mau menanggapi tawaran itu karena mengetahui bahwa Prabowo dinilai lebih condong kepada pihak lawannya (AS dan Israel). Karena dia masuk ke dalam Board of Peace (BoP) Gaza yang digagas oleh Trump. Posisi sebagai anggota Dewan Perdamaian (Board of Peace= BoP) itu dikecam Iran karena berada satu grup dengan Israel yang terbukti telah melakukan genosida terhadap rakyat Palestina di Gaza.
”Selain Indonesia, di BoP juga ada negera-negara Teluk seperti Arab Saudi, Bahrain, UEA dan lain-lain yang mendukung AS-Israel dalam konflik dengan Iran,” kata Hasril.
Posisi Indonesia yang tidak dianggap oleh Iran juga terlihat dalam kasus dua tanker Pertamina yang tidak bisa melewati Selat Hormuz yang ditutup Iran menyusul pecahnya Perang. Iran melarang AS, Israel dan negara-negara pendukung AS untuk lewat membawa minyak melewati selat yang lebarnya cuma 30 mil laut itu.
”Yang bisa lewat hanya negara-negara yang dipandang sebagai sahabat Iran, seperti China, Rusia, Malaysia, India, Perancis dan lain-lain,” kata Hasril.
Tertahannya tanker Pertamina itu menunjukkan Iran tidak lagi menganggap Indonesia sebagai negara sahabat. Itu terjadi karena posisi salah yang diambil Prabowo. Hubungan yang terlalu dekat dengan Trump membuat Iran memandang bahwa Indonesia bukan sahabat yang bisa diajak kompromi.
”Iran mengetahui, Prabowo memberikan segalanya kepada AS, termasuk dalam perjanjian Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang sangat merugikan kepentingan Indonesia itu,” pungkas Hasril. (*)



