INDOSatu.co – ISLAMABAD – Sebelum menaiki helikopter yang terparkir di halaman Gedung Putih menuju Las Vegas, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan pernyataan mengenai kesepakatan damai sejak perang dengan Iran.
Trump mengiba segera damai dengan Iran di tengah tekanan dunia, termasuk publik AS sendiri. Sayangnya, Trump juga terkesan membual dengan mengeluarkan statemen menurut versinya sendiri, tetapi dipaksakan seolah sudah ada persetujuan dengan Iran.
“Kita sudah sangat dekat untuk mencapai kesepakatan dengan Iran. Mereka sepenuhnya setuju dengan hal itu (tidak ada senjata nuklir). Mereka telah menyetujui hampir semuanya (tuntutan Amerika, Red), jadi mungkin jika mereka bisa duduk di meja perundingan, akan ada perbedaan,” kata Trump dilansir Al Jazeera.
Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa Iran telah setuju untuk menyerahkan persediaan uranium yang diperkaya, material yang, jika diperkaya lebih lanjut, dapat digunakan untuk membuat senjata nuklir.
“Mereka telah setuju untuk mengembalikan debu nuklir yang berada jauh di bawah tanah karena serangan yang kami lakukan dengan pesawat pembom B-2,” katanya, merujuk pada serangan AS pada Juni 2025 lalu .
Ia menambahkan, kesepakatan itu bisa tercapai “pada akhir pekan”. Trump mengaku akan mempertimbangkan untuk melakukan perjalanan ke Islamabad sendiri jika kesepakatan ditandatangani di sana. “Jika kesepakatan ditandatangani di Islamabad, saya mungkin akan pergi. Mereka ingin saya pergi.”
Kementerian Luar Negeri Iran menyajikan gambaran yang berbeda. Juru bicara Esmaeil Baghaei membenarkan bahwa lobi-lobi sedang dilakukan melalui Pakistan, tetapi Iran bersikap tegas mengenai pengayaan uranium.
Baghaei mengatakan bahwa, Iran dengan kebutuhannya akan terus dan harus mampu melanjutkan pengayaan uranium. Belum ada pejabat Iran yang mengkonfirmasi persetujuan untuk menyerahkan cadangan uranium yang telah diperkaya milik negara tersebut seperti dikatakan Trump. Posisi publik Teheran, bahwa pengayaan uranium adalah hak kedaulatan, tetap tidak berubah.
Asif Durrani, mantan diplomat Pakistan yang menjabat sebagai duta besar Islamabad untuk Teheran dari tahun 2016 hingga 2018, mengatakan bahwa menggambarkan situasi tersebut sebagai jurang pemisah antara kedua belah pihak yang tidak ada titik temunya.
“Sebenarnya tidak ada celah. Jika Trump telah membaca NPT atau Perjanjian tentang Non-Proliferasi Senjata Nuklir, dia akan tahu bahwa setiap negara berhak mengakses teknologi nuklir untuk tujuan damai,” kata Durrani kepada Al Jazeera.
“Iran telah berulang kali mengatakan bahwa mereka tidak menginginkan senjata. Yang mereka inginkan adalah penggunaan nuklir sipil, dalam kerangka NPT dan JCPOA.”
NPT bertujuan untuk mencegah penyebaran senjata nuklir sekaligus mempromosikan energi nuklir untuk tujuan damai dan perlucutan senjata.
JCPOA, atau Rencana Aksi Komprehensif Bersama, adalah perjanjian tahun 2015 antara Iran dan enam kekuatan dunia yang membatasi pengayaan uranium Teheran dan menempatkan fasilitasnya di bawah pengawasan internasional sebagai imbalan atas pencabutan sanksi.
Namun, perjanjian tersebut justru dikhianati Amerika Serikat. Melalui Trump, AS menarik diri dari kesepakatan itu pada tahun 2018 selama masa jabatan pertama Trump, memberlakukan kembali sanksi dan memulai pengikisan bertahap terhadap batasan-batasan yang diberlakukan pada program nuklir Iran. Saat itulah, Iran tidak percaya pada Amerika.
Seyed Mojtaba Jalalzadeh, seorang analis hubungan internasional, mengatakan bahwa realitanya lebih kompleks daripada yang disarankan oleh pernyataan publik.
“Kita harus menghindari penyederhanaan biner seperti ‘satu pihak berbohong’,” katanya kepada Al Jazeera. “Perbedaan yang terlihat antara pernyataan Trump dan posisi kementerian luar negeri Iran lebih merupakan cerminan dari sifat negosiasi yang kompleks, berlapis-lapis, dan masih belum selesai.”
Ketika Trump berbicara tentang kesepakatan total, kata Jalalzadeh, ia kemungkinan besar menawarkan interpretasi paling maksimalis yang mungkin dari proses negosiasi.
Masih belum jelas apakah pernyataan Trump mencerminkan kemajuan nyata melalui jalur komunikasi rahasia atau merupakan taktik tekanan menjelang batas waktu gencatan senjata 22 April, tetapi deskripsi Trump dan Iran melukiskan gambaran yang sama sekali berbeda tentang negosiasi yang sama.
Sementara itu, bersamaan dengan pergerakan diplomatik, Iran menunjukkan sikap yang sangat tegas dalam perang menghadapi AS dan Israel.
Mohsen Rezaei, mantan komandan IRGC dan sekarang penasihat militer untuk Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei, mengatakan di sebuah saluran televisi milik negara, bahwa dia tidak mendukung perpanjangan gencatan senjata.
“Tidak seperti Amerika yang takut akan perang yang berkelanjutan, kami sepenuhnya siap dan terbiasa dengan perang yang panjang,” kata Mohsen Rezaei menurut Kantor Berita Tasnim.
Sedangkan menurut Mayor Jenderal Ali Abdollahi, komandan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran, komando operasional Korps Garda Revolusi Islam .mengatakan konflik tersebut berakar dari “kesalahan perhitungan” oleh pihak lawan mengenai dukungan publik dan kekuatan militer Iran. Ia menambahkan bahwa pasukan Iran tetap siap untuk pertahanan komprehensif.
Jenderal Ali Abdollahi juga menepis anggapan adanya perpecahan internal. Dia merasa tidak ada perpecahan yang nyata di Iran. Sebagai seorang militer, Jenderal Ali Abdollahi akan berbicara sebagai seorang militer;
”Anda tidak dapat mengharapkan seorang kepala militer untuk mengatakan bahwa negaranya tidak akan membela diri. Sistem Iran berfungsi, dan pemimpin tertinggi adalah otoritas terakhir,” pungkasnya. (*)



