Angkat Swasembada Air dan Pangan, Sedekah Bumi di Punduttrate Meriah

  • Bagikan
UNGKAPAN SYUKUR: Para tokoh agama dan perangkat desa Punduttrate, Kecamatan Benjeng, Kabupaten Gresik ungkapkan rasa syukur setelah pelaksanaan Sedekah Bumi berjalan lancar dan meriah.

INDOSatu.co – GRESIK – Gelaran Sedekah Bumi di Desa Punduttrate, Kecamatan Benjeng, Kabupaten Gresik berlangsung meriah. Acara rutin tahunan itu tak hanya dihadiri warga setempat, tetapi juga menyuguhkan ragam hiburan yang membuat pengunjung betah melihatnya.

Menariknya, acara tersebut juga terilhami tradisi warisan leluhur yang dijadikan momentum untuk menjawab persoalan nyata di tengah masyarakat, yakni ketersediaan air dan ketahanan pangan.

Mengusung tema “Menuju Desa Swasembada Air dan Swasembada Pangan”, Sedekah Bumi yang digelar Sabtu (12/9) menjadi penanda tumbuhnya kesadaran warga untuk membangun kemandirian desa dari bawah.

Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB itu dihadiri Camat Benjeng Nurul Fuad, Kepala Desa Punduttrate Mohammad Muslik SH, tokoh agama Haji Mohammad Khosim, tokoh masyarakat, serta masyarakat Desa Punduttrate.

Bagi warga setempat, tema swasembada bukan sekadar rangkaian kata dalam acara seremonial. Ada persoalan yang hendak dijawab dan ada langkah yang mulai dijalankan untuk diwujudkan dalam misi mulia tersebut.

Baca juga :   Medhayoh Night Run; Pratikno: Lari Bikin Senang, Jangan Lari dari Kenyataan

Kekeringan dan kebutuhan air bersih menjadi salah satu pemicu lahirnya gerakan warga untuk membangun sarana tampungan air bersih. Gagasan tersebut berangkat dari musyawarah dan swadaya masyarakat, dengan mengandalkan semangat gotong royong serta potensi yang dimiliki desa.

Menariknya, inisiatif tersebut tidak bertumpu pada pembiayaan dari APBN, APBD maupun APBDes. Warga memilih mengawali gerakan dari kemampuan dan kekuatan mereka sendiri.

Di titik inilah makna Sedekah Bumi Desa Punduttrate menjadi lebih luas. Tradisi tidak hanya dimaknai sebagai ungkapan syukur atas tanah dan hasil bumi, tetapi juga sebagai ruang untuk membangun kesadaran bersama bahwa persoalan kebutuhan dasar harus mulai dijawab secara kolektif.

Di sektor pertanian, masyarakat didorong mengoptimalkan lahan dan potensi desa untuk memperkuat ketahanan pangan. Pengelolaan sumber daya secara mandiri diharapkan mampu mengurangi ketergantungan sekaligus memastikan kebutuhan pangan masyarakat dapat ditopang dari kekuatan lokal.

Baca juga :   Pemberhentian Presdir Tabrak Tiga UU, Komisi B Bantah Kinerja PT ADS Buruk

Kepala Desa Punduttrate Mohammad Muslik menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang telah bergotong royong menjaga tradisi sekaligus mendukung agenda kemandirian desa.

“Melalui Sedekah Bumi ini, kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala nikmat tanah dan air. Tetapi yang lebih penting, kita ingin memperteguh tekad bersama agar Desa Punduttrate mampu mandiri dalam memenuhi kebutuhan air dan pangan,” ujar salah satu perwakilan warga.

Sedekah Bumi kemudian berlangsung dalam suasana kebersamaan. Rangkaian kegiatan meliputi doa bersama, syukuran, kirab hasil bumi, kirab tumpeng, pembacaan doa Sedekah Bumi, hingga makan bersama.

Tokoh agama, tokoh masyarakat, sesepuh desa, jajaran pemerintahan desa dan masyarakat umum turut terlibat dalam kegiatan tersebut. Namun, pesan terbesar dari perhelatan Sedekah Bumi tahun ini bukan semata kemeriahan acara. Punduttrate sedang mencoba menggeser cara pandang terhadap tradisi: dari sekadar mengenang warisan leluhur menjadi energi untuk menghadapi persoalan masa kini.

Baca juga :   Bupati Tekankan Penguatan Daya Saing SDM Inklusif di Pembangunan Lamongan 2023

Gotong royong yang dahulu menjadi kekuatan masyarakat desa kini diarahkan untuk membangun sarana air bersih dan memperkuat sektor pangan. Dengan cara tersebut, nilai-nilai tradisional memperoleh relevansi baru di tengah tantangan kebutuhan dasar masyarakat.

Sedekah Bumi Punduttrate akhirnya bukan hanya tentang rasa syukur atas hasil bumi. Ia menjadi simbol tekad warga untuk membangun desa yang mampu berdiri di atas kekuatan sendiri.

Jika gerakan tersebut mampu dipertahankan secara konsisten, Punduttrate dapat menjadi contoh bahwa kemandirian desa tidak selalu harus menunggu program dari atas. Perubahan bisa dimulai dari bawah—dari musyawarah warga, swadaya, gotong royong, dan keberanian mengelola potensi desa sendiri.

Dari tradisi, lahir gerakan. Dari gotong royong, tumbuh kemandirian. Dan dari Punduttrate, sebuah gagasan sederhana mulai ditegaskan: desa yang mandiri air dan pangan harus dibangun oleh masyarakatnya sendiri. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *