INDOSatu.co – JAKARTA – Wakil Ketua Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA), Rizal Fadillah menganggap mantan Presiden Joko Widodo lucu karena “pede” atau “pura-pura pede” mengirim sinyal akan memaafkan sebagian penuduh ijazah palsu S-1 nya.
Rizal menganggap lucu saja, karena hingga kini belum ada pihak dinyatakan benar dan salah. Karena itu, bisa-bisanya menyatakan akan memaafkan. Bagi “pemburu” yang kemudian berstatus tersangka, justru hingga kini sangat meyakini bahwa ijazah Jokowi memang palsu.
”Artinya Jokowi adalah pihak yang bersalah,” kata Rizal dalam keterangannya kepada INDOSatu.co, Jumat (26/12).
Jokowi yang bermain dengan Kepolisian membuat manuver seolah-olah ia memiliki ijazah yang asli. Semakin yakin setelah Polda Metro menunjukkan ijazahnya saat gelar perkara khusus.
Sebaliknya, penampakan ijazah itu membuat para tersangka sumringah karena semakin mantap bahwa ijazah Jokowi itu palsu. Uji forensik Polda diragukan motif dan akurasinya. ”Dituntut agar uji forensik dilakukan oleh lembaga independen,” kata Rizal.
Di tengah proses yang belum tuntas tersebut tiba-tiba muncul wacana maaf-maafan. Hal itu pertama dikemukakan oleh Willem Frans Arsanay, pengurus Bara JP saat keluar dari bertemu Jokowi di rumahnya.
Kedua, kata Rizal, berasal dari Jokowi sendiri yang menyinggung maaf-maafann sebagai sikap pribadinya. Akan tetapi, Kuasa Hukum Ahmad Khozinudin menyebut hal ini sebagai upaya untuk memecah belah.
Permainan khas Jokowi yang selalu merasa tidak pernah salah dan mahir dalam berbohong itu patut untuk diabaikan. Psy-war sekaligus upaya untuk membangun citra diri sebagai victim dalam kasus ijazah palsu ini akan berakhir sia-sia.
”Keyakinan publik atas palsunya ijazah Jokowi sudah terlalu mendalam. Tuntutan utama adalah Jokowi menerima hukuman atas kejahatan politik dan hukum yang telah dilakukannya,” kata Rizal.
Sulit memaafkan perilaku pengkhianatan jabatan Jokowi. Negara bukan dibuat maju tapi mundur, rakyat tidak semakin sejahtera melainkan menderita, konstitusi dilanggar dan hukum dirusak, KKN menjadi habitat serta China yang merajalela.
”Hutang luar negeri menumpuk “salaput hulu” atau menenggelamkan. Jokowi adalah pemimpin yang merusak,” tukas Rizal.
Saat ini, fokus saja pada uji forensik ijazah Jokowi secara independen. Jika benar bahwa Polda Metro Jaya telah menguji dan hasilnya asli, mengapa takut atas uji ulang independen atau komparasi? Lepaskan dong pada uji publik. Tidak perlu takut apapun hasilnya.
”Polisi adalah penegak hukum bukan pembela Jokowi untuk berapa pun bayarannya. Yang bersalah harus dihukum. Mau Jokowi, Widodo, Joko, Mulyono, atau siapapun,” beber Rizal.
Rizal mengatakan, Lebaran Idul Fitri masih lama, karenanya bukan saatnya untuk maaf-maafan. Ramadan saja belum masuk. Sampai saat ini rakyat belum memiliki niat untuk memaafkan Jokowi. ”Lebaran masih lama, pak,” pungkas alumni Fakultas Hukum Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung itu. (*)



