INDOSatu.co – JAKARTA – Tokoh nasional, Anies Baswedan mengecam keras tindakan militer Israel yang menargetkan Markas Pasukan Penjaga Perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lebanon (UNIFIL). Akibat serangan tersebut, satu prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) gugur serta seorang lainnya luka berat, dan dua luka ringan.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Kami sangat murka. Seorang penjaga perdamaian Indonesia dibunuh. Seorang lainnya sedang berjuang demi nyawanya. Israel mengebom pangkalan tempat mereka bertugas,” ujar Anies melalui pernyataannya di media sosial miliknya, dikutip Selasa (31/3).
“Ini jelas bukan kecelakaan, bukan pula kerusakan kolateral (tidak sengaja). Ini adalah cara rezim Netanyahu menunjukkan, sekali lagi, bahwa mereka tidak peduli pada hukum internasional, pada personel PBB, dan pada nyawa mereka yang mendedikasikan diri untuk perdamaian,” tukasnya menjelaskan.
Anies juga menyoroti peran besar Indonesia, termasuk mengirimkan lebih dari 1.200 personel di bawah bendera PBB serta aktif dalam Dewan Perdamaian. Namun, kontribusi dan niat baik itu justru dibalas dengan serangan mematikan.
“Kita telah mengulurkan tangan dengan niat baik. Namun jawaban atas niat baik itu adalah bom yang dijatuhkan di pangkalan prajurit kita. Mereka meludahi setiap upaya yang telah dilakukan Indonesia untuk perdamaian,” tutur Anies.
Ia juga menambahkan daftar pelanggaran rezim Benjamin Netanyahu sudah sangat panjang, mencakup pembunuhan warga sipil, jurnalis, hingga pekerja bantuan tanpa adanya konsekuensi yang berarti dari dunia internasional.
“Rezim Netanyahu telah menunjukkan berulang kali bahwa mereka tidak peduli dengan seruan dunia untuk menahan diri. Mereka mengabaikan resolusi PBB. Mereka menyerang fasilitas PBB. Mereka membunuh warga sipil, jurnalis, pekerja bantuan, dan sekarang penjaga perdamaian. Tidak ada yang terlarang bagi mereka. Tidak ada yang aman,” tegasnya.
Lebih lanjut, Anies mendesak Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB, Antonio Guterres untuk mengambil langkah lebih konkret daripada sekadar pernyataan belasungkawa atau kecaman diplomatik. Ia menekankan bahwa kredibilitas PBB kini berada di ujung tanduk.
“Kepada Sekretaris Jenderal PBB, kami menghargai kecaman dan belasungkawa Anda. Namun kata-kata saja tidak lagi cukup. PBB harus melangkah lebih jauh dari sekadar pernyataan. Tindakan nyata, yang dapat ditegakkan, dan mendesak adalah apa yang dituntut saat ini,” ucap Anies.
Dengan begitu, ia menyerukan kepada komunitas internasional untuk bersatu menyeret pihak-pihak yang bertanggung jawab ke pengadilan internasional guna memastikan adanya akuntabilitas.
“Hukum internasional hanya sekuat kemauan negara-negara untuk mempertahankannya. Kemauan itu telah diuji berulang kali oleh rezim Netanyahu. Untuk kesekian kalinya, dunia telah gagal dalam ujian tersebut. Tuntut keadilan. Tuntut pertanggungjawaban,” pungkasnya. (*)



