Aroma Mark-up Whoosh, Ketua KPK Minta Mahfud Laporkan Data Lengkap

  • Bagikan
PROYEK RUGI: Penampakan dua penumpang sedang turun dari kereta cepat Whoosh. Proyek tersebut diduga terjadi mark-up yang sangat besar.

INDOSatu.co – JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) merespon serius terkait adanya dugaan mark up anggaran proyek Whoosh. Bahkan, Ketua KPK Setyo Budiyanto, angkat bicara mengenai dugaan penggelembungan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung itu. Meski demikian, inormasi dugaan mark up itu menurut Setyo harus ditopang dengan data yang memadai.

Pernyataan itu disampaikan Setyo merespon eks Menko Polhukam Mahfud MD yang mengungkit dugaan mark up proyek Whoosh. Setyo berharap, informasi dari Mahfud tersebut harus memiliki data lengkap.

Baca juga :   Sekjen PKS Optimistis Pasangan Anies-Imin Raup Banyak Suara di Jawa dan Luar Jawa

“Kalau pak Mahfud menyampaikan seperti itu mudah-mudahan ada informasi, ada data dan dokumen yang bisa mendukung kejelasan dari yang disampaikan,” kata Setyo kepada wartawan dikutip pada Sabtu (18/10).

Jenderal polisi aktif itu mengklaim sampai sekarang belum memperoleh informasi serupa soal dugaan mark up proyek Whoosh. Meski demikian, Setyo menunggu Mahfud menyerahkan informasi itu secara langsung.

Setyo mengaku bahwa setiap informasi yang ada bakal dikaji. Sayangnya, Setyo tak memberi sinyal soal jemput bola terkait informasi dari Mahfud tersebut.

Baca juga :   Soal Pembagian Kuota Haji Tambahan, Ketua KPK Curiga Ada Intervensi dari Travel

“Biar ditelaah dulu di level kedeputian apa yang harus dilakukan dengan informasi tersebut,” ujar Setyo.

Sebelumnya, Mahfud menyentil dugaan mark up proyek Whoosh dalam akun YouTube Mahfud MD Official. Mahfud mengendus adanya selisih antara biaya pembangunan versi Indonesia dan versi China.

Mahfud menyebut kalkulasi versi Indonesia di angka sekitar 52 juta dolar AS per kilometer. Padahal dari hitungan pihak China hanya sekitar 17–18 juta dolar AS per kilometer. Karena itu, Mahfud mencurigai kenaikan tiga kali lipat dari biaya yang mestinya dikucurkan pemerintah di zaman pemerintahan Joko Widodo.

Baca juga :   Dugaan Mark up Kereta Cepat Whoosh: Anthony: KPK Wajib Usut Tuntas

Bahkan, kini proyek yang tidak visibel tersebut dirudung hutang yang terus menggunung oleh Bank China. Belakangan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menolak mentah-mentah hutang Whoosh itu dibebankan ke APBN. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *