INDOSatu.co – JAKARTA – Usai gelaran acara Gerakan Nusantara Bersatu pada Sabtu (26/11) di Stadion Gelora Bung Karno (GBK), selain Presiden Joko Widodo yang bikin heboh dengan kriteria capres rambut putih dan wajah kerut menjadi perhatian publik, ternyata ada sosok lain yang mendapat perhatian serupa.
Sosok tersebut adalah Benny Rhamdani, kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (dulu BNP2TKI). BRANI, begitu sapaan akrabnya, menjadi viral karena beredarnya sebuah video yang diduga menghasut secara represif agar pemerintah berhadap-hadapan dengan rakyatnya.
Lantas bagaimana sebenarnya kinerja dia sebagai kepala BP2MI selama ini? Dari segi prestasi ternyata nol besar. Bahkan, banyak kalangan telah me-warning, jika sudah tidak becus mengurus Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia TKI/BP2MI, Benny tidak usah bermain-main politik, termasuk meminta penjarakan orang-orang yang berlawanan dengan pemerintah Jokowi.
Faktanya, sejak era Jokowi, jumlah TKI/PMI yang meninggal dunia justru naik pesat. Artinya, manajemen pengelolaan TKI ala Benny amburadul. Hal itu bisa dibandingkan saat TKI diurus Moh. Jumhur Hidayat sebagai Kepala BNP2TKI.
Menurut Andrianto, pemerhati Ketenagakerjaan, data BNP2TKI yang dilansir oleh katadata.co.id (28/02/17), pada tahun 2014 saat Jumhur Hidayat lepas jabatan Kepala BNP2TKI, jumlah TKI yang meninggal bisa ditekan hingga 226 orang saja dan tahun sebelumnya tahun 2013 yang meninggal 372 orang.
Sejak ganti pemerintahan itu, ungkap Andrianto, jumlah TKI meninggal meningkat pesat. Menurut Kepala BP2MI Benny Ramdhani, selama dua tahun dari 2020-2022, TKI yang meninggal berjumlah 1.445 orang. Kalau dibagi rata saja, kata Andrianto, artinya lebih dari 722 TKI meninggal dunia. Berarti terjadi kenaikan 3 kali lipat lebih banyak dibandingkan tahun 2014.
‘’Sudah kerja keras Jumhur turunkan angka kematian TKI, namun ketika Jumhur diganti, TKI yang meninggal malah meningkat. Harusnya kan turun terus hingga ke angka alamiah,’’ kata Andrianto, dalam rilis resminya kepada INDOSatu.co, Senin (28/11).
Saat menjadi Kepala BNP2TKI, Jumhur meninggalkan aktivitas politiknya dan berkonsentrasi penuh pada tugasnya mengurus TKI.
‘’Jadi, ya nyatalah hasilnya. Nah, kalau pegang jabatan hanya untuk petantang-petenteng kayak preman main politik, ya begitulah jadinya, rakyat jadi korbannya,’’ kata Andrianto. (adi/red)



