INDOSatu.co – CIANJUR – Petani adalah pahlawan. Mereka yang menyediakan pangan. Tanpa mereka, dipastikan terancam krisis pangan. Karena itu, jangan pandang sebelah mata terhadap petani. Keberadaan mereka perlu dipertahankan, dihormati, dan dihargai. Penghargaan kepada petani sama ibaratnya dengan bagaimana murid menghargai guru.
“Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, sedang petani adalah pahlawan pangan,” ujar Neng Eem Marhamah Zulfa Hiz S. Th.I,. MM.
Penyataan tersebut disampaikan anggota MPR dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu dikatakan saat dirinya bertemu dengan ratusan petani yang berkumpul di Ciloto, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, pada Ahad (28/5). Acara yang bertema ‘Satukan Aspirasi dan Potensi Menuju Kesejahteraan Pangan’ itu diselenggarakan Humas Setjen MPR bekerja sama dengan Gabungan Kelompok Tani Cianjur.
Perempuan yang akrab dipanggil Neng Eem itu menegaskan pentingnya petani, sebab NIng Eem merasa khawatir dengan masa depan sektor ini. Menurut dia, nasib petani di Indonesia berbeda dengan nasib petani di luar negeri. Kepemilikan lahan petani di sini mayoritas kurang dari 1 hektare.
“Beda dengan petani luar negeri yang lahannya sangat luas. Teknologi untuk pertaniannya pun juga sangat modern,” beber Neng Eem.
Dirinya prihatin kepemilikan lahan petani di Indonesia sangat minim, padahal lahan merupakan alat produksi utama bagi mereka. Lebih memprihatinkan lagi diungkapkan oleh anggota DPR dari Dapil Cianjur dan Kota Bogor itu bahwa banyak di antara mereka yang berstatus buruh tani.
“Mereka kerja maro (bagi hasil) Mereka mengerjakan sawah atau ladang milik orang lain. Beginilah kondisi petani di Indonesia,” ungkap Neng Eem.
Kondisi petani yang memiliki lahan kurang dari 1 hektare dan banyak yang kerja ‘maro’ dengan menjadi buruh tani berdampak pada kesejahteraan mereka. “Bisa dibayangkan kesejahteraan yang mereka dapat. Inilah yang membuat anak petani tidak mau menjadi petani,” tambah dia.

Dengan kondisi tersebut, Neng Eem meyakini tidak ada regenerasi dalam dunia pertanian sebab dunia pertanian tidak menarik bagi anak muda karena tidak menjanjikan seperti pekerjaan lain.
Bila ada yang tetap mau menjadi petani, menurut alumni PMII itu, karena tidak ada pilihan. Setelah tidak dapat kerja di mana-mana, akhirnya mereka memilih menjadi petani.
Bila tidak ada regenerasi petani dan tidak menjanjikannya sektor ini, Neng Eem khawatir akan masa depan umat manusia. Dirinya mempertanyakan siapa yang akan memproduksi pangan. Bila tidak ada yang memproduksi pangan maka umat manusia akan terancam krisis pangan.
Karena itu, dirinya meminta pemerintah agar memperhatikan sektor pertanian dan kesejahteraan petani secara serius dan sungguh-sungguh. (adi/red)



