Bikin Dunia Tercengang, Mojtaba: Yang Menang adalah Rakyat Iran

  • Bagikan
KHARISMATIK: Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei dicintai rakyat Iran karena ketegasan dan keberaniannya melakukan perlawanan terhadap Amerika Serikat dan negara zionis Israel. (foto: Al Jazeera).

INDOSatu.co – TEHERAN – Tak hanya media Israel yang mengklaim kemenangan Iran dalam berperang melawan negaranya, Israel ,dengan dibantu AS, pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, juga mengonfirmasi kemenangan Iran dalam perang selama 41 hari tersebut.

”Kemenangan (Iran, Red) ini adalah kemenangan rakyat Iran. Dan kemenangan itu telah mencengangkan dunia,” kata Mojtaba Khamenei dalam sebuah pernyataan yang dilansir Al Jazeera, Kamis (9/4).

Sejak ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, meninggal 40 hari lalu ketika serangan pertama oleh AS dan negara Zionis Israel, menandai babak baru. Gugurnya Ayatollah Ali Khamenei yang syahid memantik semangat militer dan rakyat Iran. Sejak saat itulah, perlawanan Iran makin berlipat.

Baca juga :   Aturan Baru di Singapura, Tak Mau Vaksin, Biaya Ditanggung Sendiri

Mojtaba sendiri hingga kini belum terlihat atau terdengar kabarnya sejak perang dimulai. Hanya saja, dalam sebuah pernyataan yang dibacakan jurnalis televisi milik pemerintah, Mojtaba mengatakan  bahwa Teheran tidak bermaksud berperang, tetapi memperjuangkan hak-haknya yang sah.

“Kami tentu tidak akan membiarkan pelaku kriminal (AS dan Israel, Red) yang menyerang negara kami tanpa hukuman. Mereka harus menerima akibat dari perbuatan dan kebiadaban mereka,” katanya, seraya menambahkan bahwa Iran akan menuntut kompensasi atas semua kerusakan, serta darah para syuhada dan korban luka.

Mengenai Selat Hormuz, yang secara efektif diblokade oleh Iran sejak perang pecah pada tanggal 28 Februari dan telah menjadi titik penting dalam proposal AS-Iran untuk mengakhiri perang, Mojtaba mengatakan bahwa negaranya akan bergerak menuju “fase baru” tanpa menjelaskan lebih lanjut.

Baca juga :   MUI Ajak Umat Islam Salat Gaib Atas Wafatnya Asy-Syahid Ismail Haniyeh

Pada Rabu, AS dan Iran menyetujui gencatan senjata selama dua minggu dalam kesepakatan yang dimediasi oleh Pakistan untuk memungkinkan negosiasi dilakukan, setelah serangan terhadap negara-negara Teluk dan penutupan Selat Hormuz telah menimbulkan kekhawatiran akan konflik yang lebih panjang yang dampaknya akan terasa lama setelah konflik tersebut berakhir.

Sebagai bagian dari gencatan senjata, Iran setuju untuk mengizinkan pengiriman barang melewati jalur perairan penting tersebut, dan terdapat laporan bahwa Teheran akan mengenakan biaya pada kapal yang transit di selat tersebut untuk mendanai upaya rekonstruksi negara tersebut.

Baca juga :   Saif al-Islam Ditembak di Kediaman, Jaksa Libya Gelar Penyelidikan

Dalam gencatan senjata dengan AS tersebut, Iran berharap agar tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh. Iran menginginkan gencatan senjata yang dikehendaki, harus untuk menyudahi perang di seluruh kawasan, termasuk di wilayah-wilayah yang menjadi proxy Iran. Yakni Hizbulloh di Lebanon dan Gaza Palestina.

Karena itu, jika Israel masih tetap menyerang Hizbulloh di Lebanon, gencatan senjata dipastikan tidak akan berumur panjang. Iran sendiri mengancam, tidak akan mengirim delegasi ke Pakistan untuk berunding dengan AS jika Israel tetap menyerang dan membombardir Hizbulloh di Lebanon.  (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *