Buntut Tewasnya 21 Pekerja Nikel, DPR RI Tagih Hasil Audit Komprehensif Smelter PT. ITSS

  • Bagikan
MAKAN BANYAK KORBAN: Anggota Komisi VII DPR RI, Mulyanto, menagih janji Pemerintah yang akan mengumumkan hasil audit smelter PT ITSS di Morowali yang hingga kini hanya sekedar janji belaka. Padahal, dalam tragedi itu, puluhan pekerja tewas dan belasan mengalami luka berat.

INDOSatu.co – JAKARTA – Menyusul kejadian semburan uap panas feronikel yang mencederai dua orang pekerja di industri smelter PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel (ITSS) di Morowali, Sulawesi Tengah, Kamis, (13/6) Anggota Komisi VII DPR RI, Mulyanto, justru menagih janji Pemerintah mengumumkan hasil audit komprehensif smelter di perusahaan tersebut.

Mulyanto menilai, hasil audit PT. ITSS atas kecelakaan sebelumnya, yaitu ledakan smelter yang menyebabkan lebih dari 35 orang luka dan menewaskan 21 orang pekerja pada Ahad, 24 Desember 2023 menjadi penting untuk menimbang kelayakan operasional smelter tersebut.

Baca juga :   Songsong Pemilu 2024, Bambang Pacul: Segera Bentuk Panja Netralitas Polri

“Sampai hari ini tidak begitu jelas apakah audit komprehensif itu sudah dilaksanakan atau belum. Dalam RDP Komisi VII DPR RI dengan Kementerian Perindustrian belum lama ini, Pemerintah tidak memberi kejelasan terkait audit komprehensif smelter PT. ITSS tersebut,” kata Mulyanto.

Karena itu, Mulyanto mendesak Pemerintah segera mengumumkan secara terbuka hasil audit komprehensif terhadap industri smelter ini, sehingga publik menjadi paham bahwa industri smelter tersebut memang benar-benar layak untuk menjalankan operasional industri dan aman bagi pekerja dan masyarakat.

Baca juga :   Terkait Pembatasan BBM Bersubsidi, Fraksi PKS: Koordinasi Antar Menteri Amburadul

Politikus dari Fraksi PKS ini menilai, Pemerintah punya kewajiban untuk memastikan dan melindungi keamanan dan keselamatan pekerja dan masyarakat terhadap industri smelter asing ini.

Ditambahkan Mulyanto, Pemerintah jangan membiarkan warga masyarakatnya menjadi korban uji coba kelayakan peralatan kerja perusahaan asing.

Jangan sampai, kata Mulyanto, demi pertimbangan politik investasi, masalah keselamatan pekerja dan masyarakat dinomorduakan. Negara memang membutuhkan investasi pada industri smelter nikel ini, namun bukan industri yang abal-abal yang menjadi mesin pembunuh para pekerja.

Baca juga :   DPR RI Ragukan Profesionalitas IUPK, Mulyanto Curiga untuk Transaksi Politik

”Yang kita butuhkan adalah investasi yang berkualitas dengan nilai tambah tinggi, sehingga investasi tersebut benar-benar bermanfaat bagi kita semua. Bukan hanya sekedar menguntungkan segelintir orang,” tegas Mulyanto. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *