Deklarasi Geng Bandung, Rocky: Kontrak Sosial Bisa Dibatalkan Protes Sosial

  • Bagikan
POROS KEKUATAN BARU: Aktivis Syahganda Nainggolan (pegang) bersama ratusan aktivis lintas generasi dan masyarakat sipil mendeklarasikan Geng Bandung di bilangan Terusan Pasteur Bandung, pada Selasa (4/11).

INDOSatu.co – BANDUNG – Ratusan aktivis lintas generasi dan kelompok masyarakat sipil mendeklarasikan Geng Bandung di bilangan Terusan Pasteur, Bandung, Selasa (4/11). Dalam pertemuan itu, berbagai sikap kritis yang mewakili kelompok masing-masing disampaikan secara terbuka.

Meski kritik disampaikan secara terbuka dan gamblang, hampir semua perwakilan masih memberi kepercayaan kepada Prabowo Subianto. Catatan kritis yang disampaikan dalam pertemuan itu pada umumnya keseriusan dalam menghentikan perampokan kekayaan negara dan pemberantasan korupsi, terutama yang menyangkut Joko Widodo dan keluarganya.

Hadir dalam pertemuan itu, Delfero, kakak kandung dari Delpredo yang saat ini sedang ditahan akibat kerusuhan akhir Agustus lalu. Delpredo ditahan karena disangka melakukan penghasutan melalui media sosialnya.

Menurut para aktivis, penahanan akibat suara kritis di media sosial bukan zamannya dikriminalisasi. Pertemuan itu menganggap sudah selayaknya bila seribu penggiat media sosial yang ditahan itu dibebaskan saja.

“Delpredo itu hanya membuka posko bantuan hukum dan advokasi, kemudian dipakai sebagai garansi agar massa aksi berani melakukan demonstrasi, tapi dianggap sebagai penghasutan. Kalau kita tidak bersolidaritas terhadap penahanan ini, maka suatu saat kita semua bisa juga menjadi korban,” kata Delfero.

Sedangkan Presiden KBMI (buruh) Wahidin menjelaskan bahwa, setahun pemerintahan Prabowo belum mampu menjawab persoalan yang dtinggalkan Jokowi. “Saat ini PHK masih terus berlanjut di mana-mana dan masalah perampasan lahan oleh PIK-2 bukannya selesai malah sekarang lautnya sedang diuruk,” ujar Wahidin

Baca juga :   Kecam Kasus Penyiksaan TKW di Malaysia, Kang Anton: Jika Perlu Tunda MoU Sektor Domestik

Sementara itu, Aktivis Syahganda Nainggolan, melihat huhungan antara Prabowo dan kalangan aktivis hendaknya tidak menjadikan Prabowo menghegemoni terhadap aktivis, tapi harus bermitra dalam pemikiran. Menurut Syahganda, pasca reformasi, kekuasaan dijalankan oleh oligarki dan oligarki jahat yang bersekutu dengan mereka yang berpura-pura mengabdi pada rakyat.

“Kalangan elit itu saat ini hanya menggunakan negara untuk merampok, sehingga korupsi sekarang bisa puluhan kali lebih banyak dibanding era Soeharto,” ujarnya.

Syahganda juga menyampaikan bahwa, Prabowo sedang melakukan perubahan paradigma, di mana selama ini negara hanya menjadi proxy dari oligarki dan oligarki hitam yang mengkapling-kapling hutan dan laut dan sekarang mau diubah menjadi negara untuk kepentingan rakyat.

Berbeda dengan Syahganda yang menyoroti hubungan Prabowo dengan aktivis, Rocky Gerung mengingatkan kembali bahwa, demokrasi adalah kontrak sosial antara penguasa dan rakyat. Tapi kontrak sosial bisa dibatalkan oleh protes sosial. Karena itu, kata Rocky, harus diuji dulu apakah kontrak sosial dengan Prabowo dalam setahun ini sudah cukup, sehingga sudah ada alasan untuk melakukan protes sosial.

“Kalau setahun dianggap belum cukup bisa ada tambahan 10 persen, margin of error supaya ada kesempatan untuk renegosiasi tentang apa yang dijanjikan oleh Prabowo,” tegas Rocky.

Baca juga :   Terkait Vonis Tom Lembong, Kuasa Hukum Buka Peluang Ajukan Banding

Sementara itu, aktivis senior LBH Dindin S Maolani menyebut bahwa, Prabowo tidak ada waktu lagi untuk menjalankan apa yang menjadi visi misinya, yaitu kembali kepada rakyat. Prabowo sudah memberikan banyak sinyal positif untuk perbaikan.

Namun sinyal-sinyal itu tidak segera menjadi kenyataan. Rakyat sepertinya tidak bisa membiarkan Prabowo seperti sekarang yang hanya asyik dengan kalangan internalnya saja. Padahal, ngurus negara itu sangat kompleks.

“Karena itu, butuh tekanan dari masyarakat agar Prabowo bisa menjalankan visi-misinya yang baik itu,” ujar Dindin.

Giliran Ilyas, tokoh mahasiswa Bandung, dengan tegas menyatakan, rezim Jokowi dengan UU Cipta Kerja telah menjadikan Ibu Pertiwi tidak hanya diperkosa atau dilacur oleh Amerika Serikat, tapi juga dilacur oleh banyak negara.

“Perlu diskursus baru tentang negara ini. Saya mengapresiasi seperti mahasiswa ITB yang sudah mencita-citakakan manifesto, yaitu bangun ulang negara usang,” kata Ilyas.

Merespons semua pembicara-pembicara sebelumnya, tokoh buruh Arif Minardi yang pernah memimpin ribuan buruh PT. DI konvoi naik motor ke Jakarta mengajak peserta membentuk Geng Bandung.

“Saya masih percaya Prabowo baik. Karena itu, jangan hanya mendengarkan Geng Solo. Dia juga harus mau mendengarkan Geng Bandung. Kalau kita dengan cara baik-baik tidak bisa juga, ya harus bangun kekuatan, bahkan kita gelar demo dengan massa besar-besaran,” tegas Arif.

Baca juga :   Diduga terkait Fee Proyek dan Dana CSR, Walikota Madiun Terjaring OTT KPK

Dalam pertemuan itu, juga hadir Moch. Jumhur Hidayat, tokoh aktivis mahasiswa Bandung yang memberi komentar tentang ketahanan rakyat menghadapi pelemahan ekonomi selama 10 tahun ini akan habis batasnya bila tidak segera ada pemulihan.

“Ibarat kebanjiran, selama 10 tahun ini genangan air sudah mencapai mulut. Tinggal perlu waktu sedikit lagi untuk sampai hidung dan tenggelam. Kalau sudah begitu instabilitas sosial bisa terjadi,” tegas Jumhur.

Seperti dijelaskan oleh inisiator pertemuan, Paskah Irianto bersama Apipudin, peserta pertemuan lintas generasi itu dhadiri oleh banyak aktivis mahasiswa dari UPI, POLBAN, ITB, Universitas Nurtanio, Poltekkes Bandung, Politeknik Pajajaran, UI, UIN, STIE Ekuitas, Univ Sangga Buana, PII, PMII, IMA Persis, IMA AMS, KAMMI, PMB, Univ Al Gifari, UKRI, UNPAS, Poltekkesos, STBA, STAI Sabili, UT dan Internasional Women University.

Adapun komunitas masyarakat sipil yang hadir dari AMS, Walhi Jabar, Hedjo Institute, Forum Dangiang Siliwangi, Gaspermindo GOBSI, Simpul Garut, Eksponen 98, Aktivis 66, Aktivis 78, Aktivis 80-an, Aktivis 90-an, Akademisi, Peneliti, Seniman budayawan, Simpul Kasundaan, KPJ, Kawan Bergerak, Sahabat Walhi dan Simpul buruh. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *