Didukung Kakak Kandungnya, Gus Baha Ajak Anies Baswedan Kunjungi Rumah Peninggalan Leluhur

  • Bagikan
TERSAMBUNG BERKAT KAKAK: Anies Baswedan dan KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha), Pengasuh Ponpes Tahfidzul Quran LP3IA Narukan, Rembang, Jawa Tengah.

INDOSatu.co – REMBANG – Tak banyak terendus media, Anies Baswedan diam-diam bertemu dengan KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha di Ponpes Tahfidzul Quran LP3IA Narukan, Rembang, Jawa Tengah. Silaturahmi Anies ke Ponpes Narukan merupakan yang pertama kalinya.

Dalam silaturahmi tertutup itu, Capres dari Koalisi Perubahan itu juga sempat diajak Gus Baha mengunjungi rumah geladak, yakni rumah peninggalan leluhur Gus Baha yang sudah berusia ratusan tahun.

“Iya, Pak Anies (Anies Baswedan) bersilaturahmi ke Ponpes Narukan, bertemu Gus Baha dan sempat diajak ke rumah geladak,” ujar KH Nasirul Mahasin atau Gus Mahasin kakak kandung Gus Baha dikonfirmasi melalui telepon dikutip dari hajinews.id, Jumat (14/4).

Lokasi rumah geladak berada satu komplek dengan pesantren. Sebagai peninggalan leluhur berumur ratusan tahun, rumah geladak dianggap sebagai kediaman yang sakral, terutama bagi dzuriyah Ponpes Narukan. Bukan hanya lantaran berbahan kayu jati lawas, tapi di sana tersimpan banyak cerita sejarah.

Baca juga :   Dukung Kejagung, Komisi III: Tak Cukup Tangkap Pelaku, Sita juga Asetnya

Di rumah itu, Rais Aam Syuriah PBNU ke-8, almarhum KH Sahal Mahfudz sewaktu masih kecil pernah diasuh Nyai Fatimah, nenek Gus Baha. Karena itu, tidak semua tamu di Ponpes Narukan bisa mengunjungi rumah geladak. Ada keyakinan di lingkungan pesantren Narukan, mereka yang pernah belajar di rumah geladak akan menjadi tokoh yang alim. Oleh Gus Baha, Anies Baswedan diajak mengunjungi rumah geladak.

Sebelumnya, keduanya berbincang di Tegal, yakni salah satu lokasi di pesantren Narukan, tempat di mana Gus Baha biasa menulis kitab dan mutholaah. Menurut Gus Mahasin, pertemuan Anies dan Gus Baha berlangsung gayeng. Dalam diskusi itu keduanya lebih banyak memperbincangkan soal Keislaman dan Keindonesiaan.

“Pertemuan berlangsung gayeng, kurang lebih 2,5 jam,” ungkap Gus Mahasin selaku Pimpinan Pengasuh Ponpes Tahfidzul Quran Narukan dan Ketua Dewan Masayikh itu.

Dalam silaturahmi itu, Anies Baswedan sempat salat berjamaah bersama para santri Ponpes Narukan. Anies juga berziarah ke makam orang tua Gus Baha, yakni KH Nursalim al-Hafidz dan Nyai Yuchanidz Nursalim. Di depan pusara orang tua Gus Baha, Anies khusyuk berdoa.

Baca juga :   Ditanya soal Pilpres 2024, Jawaban Anies Sangat Tegas

Setelah berziarah ke orang tua Gus Baha, mantan Rektor Universitas Paramadina Jakarta itu, kemudian juga menziarahi makam Gus Rouf Nursalim, yakni kakak kedua Gus Baha yang pernah menjadi mudir (pimpinan pesantren) Ma’had Aly Pesantren MUS Sarang, asuhan KH Abdurrahim Ahmad.

“Saya selaku pimpinan pondok pesantren menghaturkan terima kasih kepada Pak Anies yang sudah bersilaturahmi ke Ponpes Narukan,” pungkas Gus Mahasin.

Seperti diketahui, akhir tahun lalu, Gus Mahasin mengajak para kiai dan santri di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, untuk memberikan dukungan terhadap Anies Baswedan sebagai calon presiden (capres) pada Pilpres 2024.

“Kiai-santri harus kompak. Pilihan kita ya Pak Anies (Anies Baswedan),” ujar Gus Mahasin dalam acara Halaqah Kebangsaan di Ponpes Ath-Thohirin, Desa Mojopurno, Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, Ahad.

Baca juga :   Kampanye di Cikarang, Anies Baswedan Fokus pada Pentingnya Ketersediaan Lapangan Kerja

Dalam Halaqah Kebangsaan yang digelar sebagai peringatan Hari Santri Nasional tahun 2022 tersebut, Gus Mahasin menjelaskan alasan mendukung Anies Baswedan sebagai capres dalam Pilpres 2024. Yakni, Anies dikenal sebagai sosok islami, amanah, dan memiliki visi masa depan.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa ajakannya saat ini bukanlah kampanye. Sebab, koalisi partai politik pengusung Anies Baswedan hingga saat ini belum final. Selain itu, bisa saja kalangan lain memiliki dukungan calon lain. Gus Mahasin mengibaratkan ajakannya tersebut baru tarhim, yakni shalawat yang dikumandangkan umat Islam sebelum azan. Dari tarhim, fase berikutnya adalah azan.

Adapun, fase adzan, menurutnya, ditandai jika Anies Baswedan telah resmi mendaftar sebagai capres pada Pemilu 2024 di KPU RI. Pada saat itu, lanjut Gus Mahasin, maka saatnya semua elemen santri, kiai, dan ulama untuk merapatkan barisan. (adi/red)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *