INDOSatu.co – JAKARTA – Sorotan tajam disampaikan Pemerhati Politik dan Kebudayaan, M. Rizal Fadillah terkait langkah dan manuver Presiden Prabowo Subianto di panggung global. Rizal menyebut langkah Presiden Prabowo itu seperti Gemoy Diplomacy.
”Gemoy Diplomacy adalah diplomasi goyang-goyang ala Prabowo di panggung tontonan publik. Geser sana geser sini. Lupa diri telah lansia dirasa masih muda. Menyedihkan meski gembira ria. Gemoy Diplomacy merupakan gambaran ketidakajegan politik luar negeri Prabowo yang mengakibatkan ancaman dari kiri dan kanan (China dan AS, Red). Maklum motif awal hanya puja-puji bukan konstitusi atau ideologi,” kata Rizal kepada INDOSatu.co, Selasa (3/3).
Rizal lalu merinci langkah Gemoy Diplomacy tersebut. Dimulai Januari 2025, Indonesia digiring bergabung dalam BRICS Brasil, Rusia, India, China and South Africa. Kehadiran Indonesia disambut hangat China.
Dalam pandangan China, Prabowo masih sama dengan Jokowi sebagai pelanjut kebijakan ekonomi pro China. Di dalam negeri ada suara kritik atas politik blocking Indonesia tersebut. Tetapi suara kritis itu lambat laun menghilang. Tercatat dua kali Prabowo bertemu Xi Jinping di Beijing.
Para oligarki dalam negeri merespons positif dan konstruktif kebersamaan Indonesia dalam BRICS. Oligarki pun, khususnya oligarki bisnis, meyakini akses gurita bisnis mereka akan tetap bertahan. Luhut menjadi komandan kesuksesan status quo.
”Rakyat sesungguhnya tidak suka dan jengkel atas penguatan BRICS atas Indonesia. BRICS adalah kerja sama politik berbaju ekonomi. Blok China,” tukas Rizal.
Belakangan, kata Rizal, Board of Peace serta merta membuat Prabowo berubah haluan. Kini atas nama perdamaian Gaza, Indonesia bergoyang gemoy ke arah Amerika-Israel. Urusan ekonomi dengan Agreement of Resiprocal Trade (ART) Amerika menyembelih Indonesia.
”Penandatanganan agreement Februari 2026 menjadi formal penyerahan kedaulatan ekonomi dan politik Indonesia kepada blok Amerika,” ungkap Rizal.
Indonesia memainkan politik goyang gemoy atau zig zag. Berbelok tajam ke BoP. Ternyata hal ini fatal. Israel tandem Amerika itu adalah musuh rakyat Indonesia, musuh kemanusiaan, dan musuh peradaban.
”Prabowo memperlihatkan kebodohannya. Terlihat bodoh saat masuk BoP, terlihat lebih bodoh sewaktu menandatangani ART dengan Amerika, dan sangat bodoh sekali ketika mengajukan diri sebagai mediator konflik atau perang Israel-Iran,” kata Rizal.
Rizal mengatakan, diplomasi yang dilakukan Prabowo tidak berbasis persetujuan rakyat dan menyimpang dari konstitusi berakibat hukum dan politik. BRICS China Rusia tentu kecewa atas perilaku Prabowo. Berita penolakan Komandan Yon Infiltrasi Israel Mayjen Jacoob Ariel Ashaabi atas ikut campur Prabowo adalah indikasi kegagalan itu.
”Kacau, di BRICS Indonesia dan Iran sama-sama anggota, di sisi lain Indonesia menjadi sekutu AS-Israel di BoP. Benar-benar kacau,” kata Rizal.
Belum lagi di dalam negeri berbagai kecaman atas langkah zig zag semau gue Prabowo cukup keras. Hal ini dapat mengancam kedudukannya sebagai Presiden. Suara makzulkan Prabowo-Gibran akan terus menggelinding. Politik luar negeri BoP dan dalam negeri MBG merawankan posisi Prabowo.
Kata Rizal, dalam beberapa diplomasi politik belakangan ini, Prabowo sangat kepepet, mundur kena maju kena, akibat plin-plan dalam bersikap. Aneh jika ada yang terjebak pada mitos dan kultus Prabowo hebat berdiplomasi luar negeri.
Faktanya, kata Rizal, diplomasi tersebut belepotan tanpa arah yang jelas. Tim penasehat luar negerinya memang butut. Jangan dulu bangga ditepuk-tepuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang dinilai hebat sederajat, tetapi pujian itu adalah ejekan atau sinyal perendahan. Prabowo dianggap boneka yang lucu, gemoy, geboy, dan letoy.
”Gemoy Diplomacy gagal total. Indonesia menjadi bahan tertawaan karena fakta miskin merasa kaya, bodoh merasa pintar, kacung merasa majikan, dan terbelenggu merasa merdeka. Saatnya berubah, kita harus buat kaya, pintar, dan merdeka tanpa Prabowo,” kata Rizal.
”Setelah Jokowi, kini Prabowo nampaknya yang justru menjadi sumber dari masalah bangsa, negara, dan rakyat Indonesia. We need to eliminate the waste (Kita perlu menghilangkan limbah tersebut, Red),” pungkas Rizal. (*)



