DPR Marah. Jumlah Sumur Bertambah, Lifting Minyak PHR Justru Turun

  • Bagikan
DISOROT: Pertamina Hulu Rokan (PHR) kini dalam sorotan tajam DPR karena lifting minyak makin menurun, sedangkan penambahan titik sumur bertambah lebih banyak.

INDOSatu.co – JAKARTA – Penurunan produksi lifting minyak di Blok Rokan, Riau mendapat sorotan tajam dari Komisi XII DPR RI. Padahal jumlah sumur di Blok Rokan tersebut bertambah secara signifikan. Tak heran jika anggota Komisi XII marah besar menyikapi fenomena tersebut.

Anggota Komisi XII DPR Yulian Gunhar. Gunhar mengungkapkan, sebelum alih kelola dari Chevron ke Pertamina Hulu Rokan (PHR), sebanyak 133 titik sumur mampu memproduksi sekitar 159 barel minyak per hari. Namun, saat ini, meskipun jumlah sumur telah bertambah signifikan hingga mendekati 500 titik, produksi justru berada di angka sekitar 151 barel per hari.

Baca juga :   Main Lawan Paraguay 0-0, Messi Banggakan Masa Lalu

“Jumlah sumur bertambah, tetapi produksinya menurun. Ini yang harus kita cermati bersama. Kinerja PHR harus didorong agar lifting minyak bisa lebih tinggi dari capaian saat ini,” ujar Gunhar dalam keeterangannya saat mengikuti Tim Kunjungan Kerja Spesifik Komisi XII ke Kantor PT. pertamina Hulu Rokan di Pekanbaru, Riau, Jumat (23/1).

Menurut Politisi F-PDI Perjuangan itu, kondisi tersebut dinilai perlu mendapat perhatian serius, mengingat pemerintah telah menggelontorkan dana cost recovery yang sangat besar melalui APBN, yakni sekitar 8,5 hingga 8,7 miliar dolar AS, atau setara Rp 144,5 triliun. Dana tersebut seharusnya berdampak langsung pada peningkatan lifting migas nasional.

Baca juga :   Klaim Tak Larang Retret, PDIP: Prabowo dan Megawati Tetap Baik

Ia menegaskan, PHR memiliki posisi strategis sebagai tulang punggung peningkatan lifting migas nasional dalam rangka mewujudkan ketahanan, kemandirian, dan kedaulatan energi. Dengan jumlah sumur yang jauh lebih banyak dibanding sebelumnya, potensi produksi dinilai seharusnya bisa lebih optimal.

Legislator Dapil Sumsel I ini mengungkapkan, terkait isu teknologi dan pasokan listrik yang sempat disampaikan dalam paparan internal, DPR menilai kedua hal tersebut seharusnya tidak menjadi kendala utama. Pemerintah dinilai memiliki ruang pembiayaan serta akses pembelajaran teknologi dari negara-negara produsen migas maju seperti Arab Saudi maupun negara Timur Tengah lainnya.

Baca juga :   Janggal, Penasihat RW Menduga Depo Pertamina Plumpang 'Sengaja' Dibakar

“Teknologi bisa kita pelajari, pembiayaan juga ada. Tinggal bagaimana formulanya dan bagaimana kinerjanya dimaksimalkan,” tegasnya.

Selain itu, ia juga menyoroti insiden kebocoran pipa gas yang berdampak pada terganggunya pasokan gas ke industri dan smelter. Peristiwa tersebut dinilai jarang terjadi, namun tetap perlu diusut secara menyeluruh agar tidak menimbulkan kecurigaan dan gangguan berulang terhadap sektor energi nasional.

“Kami berharap, ke depan PHR dapat melakukan evaluasi menyeluruh dan meningkatkan efektivitas pengelolaan sumur migas, sehingga investasi besar negara benar-benar berbanding lurus dengan peningkatan produksi minyak dan gas untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri,” pungkasnya. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *