INDOSatu.co – GAZA – Bukan Israel jika tidak ingkar janji. Meski sanggup melakukan gencatan senjata seperti yang diinisiasi Presiden AS Donald Trump, tetap saja negeri Zionis itu membantai rakyat Palestina di Gaza. Bahkan, caranya sangat biadab. Yakni dengan cara mengembom di wilayah penduduk sipil.
Tak heran Gerakan Perlawanan Islam, Haraqah Muqawamah al Islamiyah (Hamas) langsung bereaksi keras. Hamas mengkonfirmasi Israel masih terus melakukan pemboman dan pembantaian terhadap rakyat Palestina di Gaza.
Hamas mengungkap penerimaan gencatan senjata yang diklaim Perdana Menteri Benjamin Netanyahu merupakan janji palsu. Bahkan upaya penarikan pasukan Israel dari Gaza juga tidak dilakukan alias bohong belaka.
Menurut pernyataan tersebut, pasukan pendudukan Israel (IDF) terus melakukan kejahatan dan pembantaian yang mengerikan di Jalur Gaza. Sejak Sabtu pagi, serangan tersebut telah menewaskan 70 warga Palestina, termasuk perempuan dan anak-anak. Hamas menggambarkan serangan tersebut merupakan “eskalasi berdarah” yang mengungkap tipu daya penjajah.
Hamas kembali menyerukan kepada komunitas internasional, negara-negara Arab dan Islam untuk memikul tanggung jawab hukum dan kemanusiaan mereka. Hamas mendesak tindakan segera untuk melindungi dan membantu rakyat Palestina serta memberikan tekanan maksimal untuk mengakhiri genosida dan kelaparan yang sedang berlangsung di Gaza, dikutip dari laman Al Mayadeen.
Gerakan ini juga menyerukan kepada orang-orang bebas di seluruh dunia untuk melanjutkan dan meningkatkan kegiatan solidaritas mereka dengan rakyat Palestina. Hamas juga meminta mereka untuk menekan pendudukan agar menghentikan kejahatan genosida dan hukuman kolektifnya.
Presiden AS Donald Trump mengumumkan Israel telah menyetujui garis penarikan awal sebagai bagian dari negosiasi yang sedang berlangsung menuju gencatan senjata di Gaza.
Dalam sebuah unggahan di Truth Social, Trump mengatakan bahwa proposal tersebut telah dibagikan dengan Hamas, dan setelah konfirmasi diterima, gencatan senjata akan segera berlaku, bersamaan dengan pertukaran tawanan dan tahanan.
Ia menambahkan rencana tersebut akan menciptakan kondisi untuk fase penarikan berikutnya dan membawa konflik ini untuk menjadi akhir dari bencana 3.000 tahun ini. (*)



