Kesalehan Ramadan: Perut Kosong dan Syahwat Kuasa

  • Bagikan

INDONESIA berdiri di bawah sacred canopy yang kokoh. Pancasila menempatkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai kompas bernegara; pejabat publik bersumpah di bawah Kitab Suci; bahkan spiritualitas dilembagakan dalam struktur negara. Kita jelas bukan negara sekuler.

Namun di balik simbol kesalehan itu, tumbuh anomali moral yang menyesakkan. Religiosity without integrity menjelma penyakit kronis. Ironinya telanjang: institusi yang mengelola urusan agama pun tercemar praktik korupsi yang telah berkekuatan hukum tetap. Inilah yang oleh para pemikir disebut the collapse of conscience.

Angka tak bisa dibungkam retorika. Indeks Persepsi Korupsi yang stagnan di kisaran 34–37 adalah cermin retak: ritualitas belum mampu membasuh syahwat kleptokrasi. Ada diskoneksi purba antara kesalehan ritual (ritual piety) dan integritas publik (civic virtue). Corruptio optimi pessima,— pembusukan dari yang terbaik adalah yang paling berbahaya.

Ketakwaan: Melampaui Ritual Fisik

Ramadan kembali hadir—sering disambut gegap gempita dekorasi, namun miskin transformasi. Kita piawai menahan lapar dari fajar hingga maghrib, tetapi gagap menahan sombong, rakus jabatan, dan ketamakan mengambil yang bukan hak. Kita takut menelan sisa makanan, namun santai menelan hak orang lain.

Baca juga :   Chinaisasi akan Berlanjut?

Kesalehan administratif pun marak: puasa sah secara fiqh, nihil dampak sosial. Disiplin sahur, lalai jujur saat meneken kebijakan. Padahal, ketakwaan bukan sekadar memindahkan jadwal makan. Kesalehan sejati adalah integritas saat tak ada yang melihat. Jangan sampai rajin tahajud, tetapi siang hari menandatangani kebijakan yang memiskinkan rakyat.

Puasa Nafsu, Bukan Sekadar Puasa Makan

Tantangan terbesar bukan perut kosong, melainkan ego yang lapar. Ramadan seharusnya menjadi rem bagi lust for power. Ironis melihat mereka yang kuat menahan haus, tetapi tetap haus menjarah aset negara demi kenyamanan dinasti.

Baca juga :   Jawaban Terbuka kepada Yusril Ihza Mahendra

Kita diajari imsak,— menahan diri. Jika menahan gorengan bisa, seharusnya menahan suap lebih bisa. Jangan sampai mulut terkunci dari makanan, sementara lidah memfitnah dan tangan sibuk “mengamankan” proyek. Puasa adalah latihan menjadi tuan atas nafsu, bukan budaknya.

 Empati: Jangan Dijadikan Komoditas

Rasa lapar semestinya melahirkan empati sejati, bukan konten musiman. Kepedulian sosial harus berkelanjutan, bukan dekorasi menjelang pemilu. Menyantuni anak yatim dengan kamera siaga bukan ibadah—itu eksploitasi. Charity is not a photo op. Ramadan mengajarkan bahwa lapar kaum miskin nyata sepanjang tahun.

Muhasabah: Berhenti Menunjuk Keluar

Penyakit akut kita adalah mahir menghakimi orang lain, namun menjadi pembela paling gigih untuk diri sendiri. Muhasabah menuntut cermin, bukan kambing hitam. Jangan menunjuk jari ketika tangan sendiri kotor. Hisablah diri sebelum kelak dihisab.

Sederhana vs. Flexing Berjamaah

Bulan prihatin kerap berubah menjadi festival konsumerisme. Buka bersama menjelma panggung flexing. Kesenjangan yang dipamerkan di tengah kesulitan rakyat adalah sumbu pendek menuju kecemburuan sosial. Syukur itu sunyi; kesombongan berisik. Bersahajalah—tanpa melukai.

Baca juga :   Presiden Joko Widodo Wajib Berhenti Dalam Masa Jabatan, Ini Alasannya… (Bagian 2)

Penutup

Ramadhan bukan ajang mengganti casing religi, melainkan momentum overhaul mesin ruhani. Ia bukan pula “cuci dosa” tahunan untuk melegitimasi penindasan sebelas bulan berikutnya. Jangan biarkan puasa menyisakan lapar dan dahaga belaka, atau menjadi jeda singkat di antara dua kemunafikan.

Kesalehan yang kita cari bukan pada dahi yang menghitam saat sujud, melainkan pada tangan yang bersih dari penjarahan hak rakyat. Bangsa ini lelah pada orang pintar yang rajin beribadah, namun gemar “mencuri” saat berdiri. (*)

Wassalâmu ‘alâ man ittaba‘al hudâ wa a‘mala ‘aqlahu bil haq.

Abas Tohar;
Penulis adalah Aktivis Pusat Studi Sengketa Wilayah dan Konflik Perbatasan.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *