ADA orang-orang yang bekerja keras agar namanya diingat. Tetapi ada pula yang bekerja dalam sunyi, lalu justru dikenang jauh setelah dirinya tiada. Di tengah zaman yang riuh oleh ambisi dan hasrat untuk terlihat besar, seorang kiai memilih jalan berbeda: jalan diam, jalan doa, jalan pengabdian yang nyaris tak bersuara.
Pada pukul dua dini hari, ketika dunia terlelap dan tepuk tangan tak pernah terdengar, ia bangun dari istikharahnya, menggambar dalam cahaya yang temaram—tanpa pernah membayangkan bahwa goresan tangannya kelak akan mengikat jutaan hati. Dialah KH Ridlwan Abdullah, sosok yang mengajarkan kepada kita bahwa kebesaran sejati tidak lahir dari sorot cahaya, melainkan dari kesediaan untuk bekerja besar tanpa pernah merasa besar.
Pada 26 Februari 2026, bertepatan dengan 9 Ramadhan 1447 H, saya menghadiri haul beliau. Tidak ada panggung megah. Tidak ada jamuan berlebihan. Semua berlangsung sederhana—seperti hidup yang pernah ia jalani. Bahkan kesederhanaan itu bukan karena keterbatasan, melainkan karena wasiatnya sendiri: agar hidup tidak meminta-minta dan tidak merepotkan orang lain.
Di situlah hati saya terasa disentuh. Di tengah budaya yang gemar berlebih-lebihan, di tengah kehidupan yang sering mengukur nilai diri dari pengakuan sosial, pesan itu terasa seperti nasihat yang menampar pelan. Betapa sering kita tanpa sadar ingin dilayani lebih dahulu sebelum melayani. Betapa mudahnya kita menuntut perhatian, tetapi sulit menghadirkan empati.
Padahal Rasulullah SAW telah mengingatkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain. Prinsip melayani itulah yang menjadi napas kehidupan para ulama. Bukan melayani demi nama, bukan menolong demi balasan, tetapi karena cinta kepada Allah dan sesama.
Jejak sunyi itu tampak nyata dalam kisah lahirnya lambang Nahdlatul Ulama. Ketika menjelang Muktamar ke-2 NU di Surabaya, beliau diminta oleh KH Wahab Chasbullah untuk merancang lambang organisasi. Berbulan-bulan ia mencoba membuat sketsa, namun belum menemukan bentuk yang tepat. Hingga akhirnya, dalam kebuntuan, ia memilih jalan spiritual: berwudhu, melaksanakan shalat istikharah, lalu beristirahat dengan hati yang berserah.
Dalam mimpinya ia melihat bola dunia yang dilingkari tali, dihiasi bintang-bintang. Ia terbangun pukul dua dini hari, segera menggambar apa yang ia lihat. Dari kesunyian itu lahirlah simbol yang hari ini dikenal jutaan warga NU: tali yang melingkari bumi sebagai lambang persaudaraan dan perintah berpegang teguh pada agama, untaian 99 sebagai asmaul husna, sembilan bintang sebagai Wali Songo, satu bintang besar sebagai simbol Nabi Muhammad SAW, serta delapan bintang kecil sebagai Khulafaur Rasyidin dan empat mazhab.
Ketika lambang itu dihadapkan kepada KH Hasyim Asy’ari, beliau mengangkat tangan dan berdoa panjang, berharap Allah mengabulkan cita-cita yang terpatri dalam simbol tersebut.
Membayangkan momen itu membuat dada terasa hangat sekaligus pilu. Seorang kiai menggambar dalam sunyi, tanpa kamera, tanpa siaran langsung, tanpa gemuruh tepuk tangan. Ia tidak sedang membangun monumen untuk dirinya. Ia sedang melayani umat.
Haul yang sederhana kemarin seakan menjadi perpanjangan dari kehidupan beliau sendiri: tidak berisik, tetapi dalam; tidak megah, tetapi bermakna. Saya pulang dengan satu pertanyaan yang terus menggema dalam hati: sudahkah hidup kita menjadi tali yang menguatkan orang lain? Ataukah justru kita sering menjadi beban—secara materi, pikiran, atau perasaan?
Di bulan Ramadhan yang penuh keberkahan ini, teladan KH Ridlwan Abdullah terasa semakin relevan. Bahwa keikhlasan adalah kekuatan. Bahwa melayani adalah kemuliaan. Bahwa bekerja besar tidak harus merasa besar.
Jejak sunyi itu telah ditinggalkan. Kini pertanyaannya tinggal satu: apakah kita berani berjalan di atasnya?
M. Isa Ansori;
Penulis adalah Dewan Pakar LHKP PD Muhammadiyah Surabaya dan Wakil Ketua ICMI Jatim.



