INDOSatu.co – TEHERAN – Pemerintah Iran pada Ahad (1/3) mengonfirmasi bahwa Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei telah meninggal dalam serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada Sabtu (28/2) pagi. Pemerintah Republik Islam juga mengumumkan 40 hari masa berkabung nasional.
Beberapa kantor berita Iran, termasuk Tasnim, Mehr, dan Press TV, secara bersamaan mengumumkan bahwa pemimpin berusia 86 tahun itu telah gugur sebagai martir dalam serangan tersebut.
“Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, Ayatollah Ali Khamenei, meninggal dalam serangan gabungan oleh Amerika yang kriminal dan rezim Zionis,” bunyi pernyataan pemerintah Iran dilansir Al Jazeera, Ahad (1/3).
“Pada saat gugur sebagai syahid, dia sedang menjalankan tugas yang diberikan kepadanya dan berada di tempat kerjanya, ketika serangan pengecut ini terjadi,” lanjut pernyataan tersebut, menepis perang psikologis rezim Zionis yang mengklaim bahwa pemimpin tertinggi itu telah bersembunyi di lokasi yang aman.
“Kejahatan besar ini tidak akan pernah dibiarkan tanpa jawaban dan akan menandai babak baru dalam sejarah dunia Islam dan Syiah,” kata kantor Presiden Masoud Pezeshkian dalam sebuah pernyataan, mengumumkan 40 hari masa berkabung nasional.
“Dengan kekuatan dan keteguhan penuh…kami akan membuat para pelaku dan komandan kejahatan besar ini menyesali tindakan mereka,” lanjut kantor Pezeshkian. Konfirmasi pemerintah Iran muncul beberapa jam setelah laporan yang saling bertentangan tentang nasib Khamenei.
Sebelumnya pada hari Sabtu, Presiden AS Donald Trump mem-posting di Truth Social: “Khamenei, salah satu orang paling jahat dalam sejarah, telah meninggal.” Posting itu menyusul pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahwa ada banyak tanda pemimpin tertinggi tersebut telah tiada.
Netanyahu mengklaim bahwa kompleks kediaman Khamenei dihantam dalam serangan mendadak yang dahsyat, bersumpah bahwa ribuan target dalam kepemimpinan Iran akan ditumpas dalam beberapa hari mendatang serta menyerukan kepada warga Iran untuk turun ke jalan dan menggulingkan pemerintah.
Serangan tersebut, yang digambarkan oleh Washington dan Tel Aviv sebagai operasi “pencegahan”, menargetkan kepemimpinan Iran, serta fasilitas militer dan terkait nuklir.
Trump mengatakan serangan itu bertujuan untuk menghancurkan industri rudal dan Angkatan Laut Iran, serta memaksa perubahan rezim di Teheran. Iran sejak itu membalas dengan serangan rudal dan drone terhadap wilayah Israel dan pangkalan militer AS di seluruh Timur Tengah. (*)



