Bicara soal Keadilan, Ganjar Isi Kuliah Kebangsaan di Unisa Yogyakarta

  • Bagikan
BERBAGI ILMU: Mantan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo saat mengisi Kuliah Kebangsaan di Universitas Aisyiyah Yogyakarta usai salat Tarawih di Masjid Walidah Dahlan, Rabu (18/2).

INDOSatu.co – YOGYAKARTA – Keadilan merupakan terbukanya kesempatan yang sama kepada setiap orang tanpa pandang bulu, baik miskin maupun kaya. Momentum Ramadan menjadi pengingat bahwa di lingkungan sekitar masih banyak orang yang tidak mendapatkan haknya.

Pernyataan tersebut disampaikan mantan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) itu hadir di Universitas Aisyiyah Yogyakarta untuk mengisi Kuliah Kebangsaan setelah salat Tarawih di Masjid Walidah Dahlan, Rabu (18/2).

Agenda tersebut mengangkat tema “Keadilan Sosial sebagai Ruh Peradaban: Perspektif Keislaman dan Kebangsaan.” Penyelenggaraan Kuliah Kebangsaan ini menjadi momentum strategis penguatan kualitas keimanan, ketakwaan, serta kepedulian sosial jamaah Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta selama Ramadan.

Keadilan Harus Diperjuangkan

Ganjar mengatakan, momentum Ramadan menjadi pengingat bahwa di lingkungan sekitar masih banyak orang yang tidak mendapatkan haknya. Apakah setiap orang punya kesempatan yang sama dalam akses pendidikan? Dalam kesehatan, apakah keadilan berjalan atau tidak?” tanya Ganjar memantik diskusi dengan jamaah.

Baca juga :   10 Kali Raih WTP, Ganjar: Bukti ASN Pemprov Reformasi Diri

Menurutnya, akses yang terbuka sangat penting untuk memastikan kesejahteraan dirasakan seluruh lapisan masyarakat. Ganjar menyitir sebuah penelitian skripsi dari pelawak legenda, Dono Warkop DKI.

Dalam penelitian tersebut ditemukan fakta bahwa status sosial ekonomi keluarga berbanding lurus dengan prestasi murid di sekolah. Temuan ini membuktikan perlunya akses pendidikan bagi orang miskin tanpa diskriminasi kualitas sedikit pun.

“Jika saya tidak punya akses ke perguruan tinggi, hari ini saya tidak akan diundang di sini,” ucap Ganjar, meyakinkan jamaah bahwa keadilan dalam pendidikan menjadi hal fundamental bagi kemajuan bangsa.

“Apakah kita memiliki akses yang sama terhadap pendidikan? Apakah kita memberikan bantuan kepada siapa pun dengan akses yang sama tanpa membedakan? Maka keadilan sosial ialah memiliki akses pendidikan, kesehatan, dan sosial yang sama. Hak orang kaya dan orang miskin sama. Tidak semuanya harus kaya, tapi tidak ada diskriminasi,” katanya menambahkan.

Baca juga :   Ketua MPR RI Apresiasi Kapolri Atas Kelancaran Arus Mudik Lebaran 2023

Ketika seluruh hak masyarakat tidak terpenuhi, Ganjar memastikan akan ada suara-suara yang menuntut keadilan. Ia menyayangkan bahwa keadilan sosial seperti yang tertuang dalam sila kelima Pancasila sampai hari ini belum terlaksana dengan sempurna. Beberapa kebijakan, pada kenyataannya, justru mengorbankan hak rakyat kecil.

“Ada sila ke lima, tapi jarak si kaya dan miskin makin jauh. Maka, treatment-nya yang miskin harus diperhatikan. Kebijakan publik mesti menyesuaikan kebutuhan masyarakat. Pertanyaannya, apakah kita masih punya adab untuk memperlakukan manusia dengan setara?” ucap Ganjar.

Untuk mengatasi masalah keadilan ini, Ganjar mengingatkan para pemangku kebijakan agar menegakkan keadilan dengan setegak-tegaknya. Korupsi, kolusi, dan nepotisme perlu disingkirkan agar keadilan sosial bagi seluruh rakyat dapat terwujud.

Baca juga :   Sikapi Jokowi soal Presiden Boleh Kampanye dan Memihak Pilpres, Pakar Hukum Bilang Begini...

Ganjar memberi contoh bahwa Rasulullah Saw. menegaskan jika anaknya, Fatimah ra., mencuri, maka beliau sendiri yang akan memotong tangannya. Sabda Nabi ini harus menjadi panutan bagi pemimpin.

Selain itu, Ganjar juga mengajak setiap orang menanamkan nilai-nilai keadilan dalam dirinya masing-masing. “Kita harus adil dimulai dari diri sendiri. Bahkan kita harus adil walau itu merugikan diri sendiri,” katanya.

Sebagai negara yang disebut paling dermawan di dunia, Ganjar meyakini bahwa masyarakat Indonesia pasti bisa mewujudkan keadilan sosial sebaik-baiknya. Baginya, Indonesia tidak kekurangan orang baik. Dalam momentum Ramadan, misalnya, banyak ditemukan orang-orang saling berbagi dan bersedekah.

”Fenomena ini menunjukkan bahwa kita masih saling peduli untuk mewujudkan keadilan dan mengentaskan ketimpangan. Keadilan sosial adalah cita-cita yang harus diperjuangkan. Jika kita diam, keadilan itu tidak akan terwujud,” pungkas Ganjar. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *