Kutuk Zionis Israel, Kutuk PT KAI

  • Bagikan

ISRAEL pantas dikutuk dunia karena memperlakukan rakyat Palestina sekehendaknya. Penggunaan kekuatan bersenjata kerap dilakukan tentara Israel kepada warga Palestina, meski pun sedang beribadah di Masjid Al-Aqsa. Dunia tidak berdaya melihat kebengisan Israel. Merebut tanah, membangun pemukiman ilegal dan unjuk kekejian. Israel adalah contoh negara penjajah yang tidak satu pun negara, mampu menekan, apalagi menghukum. PBB pun tidak berdaya.

Di bulan suci Ramadan saat umat Islam sedang beribadah, tentara Israel menyerbu ke dalam Masjid. Jamaah banyak terluka dalam serangan itu dan ratusan orang ditangkap. Bukan itu saja. Kejuaraan sepak bola Palestina pun diobrak-abrik dengan tembakan gas air mata ke arah penonton. Intervensi, bahkan invasi Israel memang terang-terangan. Dunia hanya mampu mengutuk.

Baca juga :   Muhammadiyah sebagai Potret Pendidikan Indonesia

Israel memang didukung Amerika Serikat, karenanya pantas atas sebutan bahwa Negara Paman Sam itu Israel besar dan Israel adalah Amerika kecil.

Masjid Al-Aqsa terus diganggu dan dikuasai Israel. Fondasi Al-Aqsa digali dan dibuat terowongan dengan alasan mencari Kuil Sulaeman, tentu sengaja membuat Masjid Aqsa rapuh dan mudah runtuh. Targetnya ialah menghancurkan Masjid ketiga yang dimuliakan umat Islam setelah Masjid Masjid Al Haram dan Masjid Nabawi. Menghancurkan Masjid adalah perbuatan zalim, terkutuk dan memancing kemurkaan Allah.

Di Indonesia, tepatnya di Kota Bandung terjadi juga penghancuran masjid oleh perusahaan yang katanya milik negara PT. KAI. Masjid Jamie Nurul Ikhlas di Jalan Cihampelas No 149. Padahal, Masjid Nurul Ikhlas itu sudah ditetapkan sebagai bangunan Heritage (Cagar Budaya) oleh Perda Kota Bandung. Pengelola Masjid diusir paksa kemudian dibangun gedung ilegal. Namanya IndoMaret.

Baca juga :   Tampilkan Politik yang Bermartabat, Pembelajaran Bagi Generasi Muda

Kita sepakat gangguan dan kezaliman Israel atas Masjid Aqsa harus dikutuk. Akan tetapi, kita juga harus mengutuk penghancuran Masjid Nurul Ikhlas oleh PT KAI di Bandung. Hanya penjajah yang tega berlaku sewenang-wenang atas tempat ibadah. Apalagi kemudian dengan seenaknya tanpa izin (ilegal) membangun gedung komersial.

Apa bedanya dengan Israel yang membangun pemukiman ilegal di tanah Palestina?

Pemerintah Kota Bandung harus bertindak tegas dengan menyegel bangunan ilegal itu agar tidak boleh digunakan. Tahap selanjutnya melakukan pembongkaran. Tidak bisa dan tidak boleh membiarkan IndoMaret leluasa menjalankan usahanya di gedung tidak berizin. Jika dibiarkan, maka akan menjadi tontonan dari sebuah lakon ketidakberdayaan. Pemerintah yang didikte oleh pelaku bisnis.

Baca juga :   Kiprah Muhammadiyah untuk Indonesia

PT KAI yang berkantor pusat di Kota Bandung harusnya malu telah melakukan penghancuran Masjid Cagar Budaya untuk kemudian membiarkan di bekas puing-puing Masjid yang dihancurkan itu dibangun gerai mini market IndoMaret. Di bawah kekuasaan PT Indomarco, milik Salim Group. Satu dari 9 (sembilan) naga.

IndoMaret sendiri sudah punya 22.500 gerai seluruh Indonesia. Sungguh hal ini adalah gambaran dari keserakahan kelompok usaha konglomerat. Demi sebuah keserakahan, maka aturan hukum dilabrak dan bangunan cagar budaya dihancurkan. Masjid Jamie Nurul Ikhlas. Sungguh menyedihkan dan mengerikan. Quo vadis, Indonesia? (*)

M. Rizal Fadillah;
Penulis adalah Pemerhati Politik dan Kebangsaan, tinggal di Bandung.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *