INDOSatu.co – WASHINGTON – Tidak banyaknya pemihakan media massa Dunia terhadap serangan AS dan Israel terhadap Iran yang diklaim sebagai keberhasilan membuat menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth, murka.
Saat Konferensi Pers di Pentagon, Hegseth menuduh para jurnalis meremehkan apa yang dianggap sebagai keberhasilan oleh Washington di medan perang melawan Iran. Kampanye militer AS melawan Iran yang diklaim sukses ternyata tidak diberitakan secara berlebih.
Berbicara bersama Kepala Staf Gabungan, Hegseth mengklaim bahwa Iran telah kehilangan angkatan udara, angkatan laut, dan jaringan pertahanan rudal yang berfungsi setelah 13 hari serangan. Namun hingga kini, Iran tetap melakukan perlawanan dan terus melakukan serangan ke Israel dan Pangkalan AS di beberapa negara Tiimur Tengah.
“Amerika Serikat sedang menghancurkan militer rezim radikal Iran dengan cara yang belum pernah dilihat dunia sebelumnya,” kata Hegseth kepada wartawan dilansir The Guardian, Jumat (13/3).
Dia mengatakan kapasitas produksi rudal balistik Iran telah “secara fungsional dikalahkan” dan bahwa para pemimpin mereka bersembunyi di bawah tanah, yang dianggap Presiden Trump sebagai “tikus”.
Tetapi faktanya, beberapa pemimpin senior Iran, – termasuk presiden, Masoud Pezeshkian; kepala keamanan, Ali Larijani; dan menteri luar negeri, Abbas Araghchi – hari ini terlihat dalam video berbaris di Teheran untuk pawai Hari Quds tahunan.
Hegseth juga mengklaim bahwa pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei – yang terpilih oleh Majelis Pakar pada 8 Maret setelah pembunuhan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei – “terluka dan kemungkinan cacat”. Klaim tersebut belum diverifikasi secara independen.
Para analis seperti Institut Studi Perang independen telah mengkonfirmasi kerusakan besar pada infrastruktur militer Iran menggunakan citra satelit komersial, termasuk melalui serangan terhadap kompleks rudal dan pangkalan udara serta angkatan laut.
Meskipun demikian, serangan oleh Iran terus berlanjut. Media pemerintah Iran mengatakan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) terus meluncurkan rentetan rudal dan drone ke instalasi militer AS di negara-negara Teluk dan ke Israel.
Terlepas dari klaim dominasi medan perang yang hampir total, Pentagon mengakui bahwa Selat Hormuz – jalur pelayaran utama untuk minyak Teluk, terutama minyak Iran sendiri – sebagian masih tertutup untuk pelayaran komersial, dan bahwa mereka belum memulai operasi pengawalan angkatan laut.
Menanggapi isu selat tersebut, Hegseth mengecam pemberitaan yang menyatakan bahwa AS belum siap menghadapi penutupan jalur pelayaran secara efektif oleh Iran. “Satu-satunya hal yang menghambat transit di [Hormuz] saat ini adalah Iran yang menembaki kapal,” kata Hegseth. “Selat tersebut terbuka untuk transit jika Iran tidak melakukan itu.”
Sepanjang proses tersebut, Hegseth berulang kali mengkritik liputan berita tentang perang, bahkan pada satu titik mengusulkan judul berita alternatif untuk liputan TV. Tetapi ocehan Hegseth tidak digubris wartawan. (*)



