Tolak Dimanfaatkan AS, Pasukan Kurdi Ogah Bertempur Lawan Iran

  • Bagikan
TOKOH PENTING KURDI: Shahnaz Ibrahim Ahmed, istri Presiden Irak menolak tawaran Presiden Donald Trump memanfaatkan Suku Kurdi untuk melawan militer Iran.

INDOSatu.co – BAGHDAD – Upaya Presiden Amerika Serikat membuat proxy melalui Suku Kurdi Irak untuk bertempur melawan Iran dipastikan sulit diwujudkan. Tokoh-tokoh Kurdi sudah muak dengan bualan Trump yang menciptakan ketidaksetabilan di kawasan Timur Tengah.

Tokoh Suku merespons kegentingan di Timur Tengah (Timteng) yang mengancam suku tersebut terseret paksa ke dalam peperangan antara Zionis Israel-Amerika Serikat (AS) dengan Republik Islam Iran.

Dengan memanfaatkan Suku Kurdi untuk diadu dengan tentara Iran, menunjukkan bahwa Amerika Serikat sudah kewalahan menghadapi Iran. Cara licik Amerika mengadu domba seperti itu sudah bisa dibaca. Karena itu, tokoh Suku Kurdi menolak mentah-mentah upaya adu domba Trump tersebut.

Ibu Negara Republik Irak, Shanaz Ibrahim Ahmed mengatakan, Suku Kurdi, kini sudah hidup dalam ketenangan dan perdamaian. Dia menegaskan Suku Kurdi bukan tentara bayaran yang bisa kembali diseret ke dalam perang pihak lain.

Baca juga :   Diinisiasi Erdogan, Menlu Rusia-Ukraina Bakal Bertemu di Turki

“Biarkan Kurdi sendiri. Kami bukan tentara bayaran,” kata Shanaz dalam pernyataan tertulis yang dipublikasikan melalui laman resmi media sosial (medsos) miliknya, Kamis (5/3).

Shanaz Ibrahim Ahmed adalah ibu negara Irak, isteri dari Presiden Republik Irak Abdul Latif Jamal Rashid. Kedua pasangan tersebut adalah tokoh politik penting dari Suku Kurdi di Irak. Keduanya adalah politikus dari Partai Patriotik Kurdi (PUK) yang merupakan salah satu faksi politik terbesar di Irak.

Shanaz juga merupakan tokoh perempuan penting dari garis keturunan keluarganya di Sulaimania yang merupakan kota utama semi otonom untuk rakyat Kurdi di Irak.

Baca juga :   Terkait Pemerintahannya, Taliban Klaim Dunia akan Mengakui

Shanaz mengecam masa lalu peran Amerika Serikat (AS) yang memperlakukan Suku Kurdi hanya sebagai pion untuk kepentingan peperangan semata. Ibu Negara kelahiran 1954 itu dalam pernyataan tertulisnya mengingat padal 1991, Kurdi didesak untuk melawan kekuasaan Saddam Hussein di Irak. “Tetapi lalu kami ditinggalkan ketika prioritas berubah,” ujar dia.

Ia mengatakan, tak ada yang membela Suku Kurdi ketika upaya melawan Saddam Hussein 35 tahun lalu itu berakhir dengan pembantaian. “Tidak ada yang membela kami ketika rezim (Saddam Hussein) mengerahkan helikopter tempur dan tank untuk menumpas kami,” ujar dia.

Iran sendiri sepenuhnya siap untuk perang berkepanjangan dan siap untuk memperkenalkan persenjataan canggih yang belum pernah digunakan dalam konflik-konflik sebelumnya. Pernyataan itu disampaikan juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Baca juga :   Dua Menteri Mundur, Kabinet PM Muhyiddin Goyah
SUPER CANGGIH: Petinggi militer Iran mengonfirmasi negaranya siap perang dalam waktu panjang, karena persediaan beragam nuklir masih belum diluncurkan.

Dalam sebuah pernyataan, Brigadir Jenderal Ali Mohammad Naeini mengatakan, bahwa musuh-musuh Iran harus menerima serangan yang mematikan dalam gelombang serangan baru yang akan datang.

“Inisiatif dan senjata baru Iran sedang dipersiapkan. Dan teknologi ini belum diterapkan secara luas,” kata Nueni dilansir Al Jazeera, Kamis (5/3).

Naeini mengatakan, Iran kini lebih siap dibandingkan perang 12 hari tahun lalu yang dilancarkan oleh AS dan Israel, dan menggambarkan konfrontasi militer yang sedang berlangsung sebagai perang suci dan sah. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *