Perang Iran-Israel, Mana Suara Para Pemimpin Sunni?

  • Bagikan
AKSI BALASAN: Kepolisian Israel berada di lokasi serangan Iran pada Senin dini hari. Aksi Iran merupakan reaksi dari Israel yang menyerang Iran lebih dulu.

KETIKA rudal dan drone melesat di langit Timur Tengah, pertanyaan yang menggelisahkan dunia Muslim justru bukan hanya tentang siapa yang menang atau kalah, tapi: Di mana suara pemimpin Sunni?

Perang terbuka antara Iran dan Israel, yang semakin menunjukkan dimensi eksistensial, memperlihatkan satu realitas pahit: ketidakhadiran sikap tegas dari negara-negara besar berpenduduk Sunni. Padahal, secara historis, banyak dari negara-negara ini mengklaim dirinya sebagai pelindung umat Islam, penjaga kesucian Masjid Al-Aqsha, dan pemimpin dunia Muslim global.

Iran, yang selama ini menjadi musuh politik dan ideologis bagi sebagian besar dunia Sunni—terutama sejak Revolusi 1979—justru tampil paling lantang dan konkret dalam melawan hegemoni Israel di Palestina. Apa pun penilaian kita terhadap politik luar negeri dan sistem pemerintahan Teheran, tidak bisa dipungkiri bahwa Iran-lah yang mengirim drone, rudal, bahkan berani secara terbuka menantang Israel pasca serangan mematikan terhadap konsulatnya di Damaskus.

Sebaliknya, negara-negara Sunni besar seperti Arab Saudi, Mesir, Turki, Uni Emirat Arab, dan bahkan Indonesia—meski secara kultural dan geografis tidak berada langsung di pusat konflik—justru lebih banyak mengeluarkan pernyataan netral, diplomatik, atau bahkan diam. Di titik inilah umat bertanya: apakah solidaritas Islam hanya sebatas wacana simbolik?

Baca juga :   Bank Dunia, Jangan lagi Intervensi Proses Hukum Sri Mulyani, Cukup Sekali

Hegemoni Simbolik vs Ketegasan Moral

Arab Saudi, pemilik dua kota suci Islam, selama bertahun-tahun memosisikan dirinya sebagai “Pemimpin Dunia Islam”. Namun, dalam konflik Iran-Israel—terutama menyangkut pembelaan terhadap Palestina—sikap Riyadh lebih bersifat kalkulatif ketimbang prinsipil. Normalisasi diplomatik dengan Israel melalui proyek “Abraham Accords” yang difasilitasi Amerika Serikat menjadi latar belakang kehati-hatian ini.

Turki, di bawah Presiden Recep Tayyip Erdoğan, sesekali memang melontarkan retorika keras terhadap Israel. Namun, kerja sama ekonomi dan militer antara Ankara dan Tel Aviv tetap berlangsung. Sementara Mesir, yang memiliki perjanjian damai paling lama dengan Israel (sejak Camp David 1979), nyaris tidak terdengar menyuarakan pembelaan keras terhadap Gaza maupun Palestina, apalagi terhadap Iran.

Negara-negara Teluk seperti Uni Emirat Arab dan Bahrain bahkan telah menormalisasi hubungan secara terbuka dengan Israel. Di tengah tragedi kemanusiaan di Gaza, mereka justru memprioritaskan hubungan ekonomi, teknologi, dan keamanan dengan Tel Aviv ketimbang solidaritas Islam.

Baca juga :   Indonesia Sekarat, karena Sistem atau Pemimpin? Peran Kaum Intelektual (Bagian II-Habis)

Mengapa Pemimpin Sunni Diam?

Ada beberapa faktor yang menjelaskan sikap pasif atau ambigu pemimpin-pemimpin Sunni dalam konteks konflik Iran-Israel:

1. Kepentingan Geopolitik dan Keamanan Dalam Negeri: Iran dianggap sebagai ancaman langsung oleh banyak monarki Sunni karena faktor sekte (Syiah), milisi proksi, dan pengaruh revolusionernya. Dalam kalkulasi mereka, membiarkan Iran terisolasi secara militer dan diplomatik lebih menguntungkan ketimbang ikut menghadapi Israel.

2. Ketergantungan pada Barat: Sebagian besar negara Sunni memiliki hubungan pertahanan dan ekonomi yang erat dengan Amerika Serikat dan Uni Eropa. Membela Palestina dengan cara yang terlalu keras atau mendukung Iran secara terbuka dianggap bisa merugikan posisi strategis mereka di mata Barat.

3. Friksi Intra-Islam: Sektarianisme Sunni-Syiah masih menjadi luka dalam tubuh dunia Islam. Kebencian terhadap Syiah kadang lebih besar dibandingkan rasa solidaritas terhadap Palestina. Sebagian bahkan menyebut bahwa perang Iran-Israel hanyalah sandiwara politik antarsekutu lama. Atau itu perang antar dua musuh Islam—narasi yang banyak muncul dari kalangan Wahabi ekstrem.

Saatnya Refleksi Kritis Dunia Sunni

Ketika Iran, dengan segala kontroversinya, menunjukkan konsistensi dan ketegasan dalam menghadapi Israel, dunia Sunni justru terlihat gamang dan terpecah. Padahal secara populasi, infrastruktur, bahkan sumber daya, dunia Sunni jauh lebih besar dan berpengaruh dibandingkan komunitas Syiah global. Tetapi mengapa justru tak satu pun negara Sunni yang mengambil peran nyata dalam membela Gaza, apalagi menghadapi Israel secara terbuka?

Baca juga :   Jokowi Timpakan Blunder IKN kepada DPR

Bagi umat Islam global, hal ini adalah tamparan keras terhadap narasi “Ukhuwwah Islamiyyah” (persaudaraan Islam). Jika nilai itu hanya muncul dalam khutbah dan konferensi, namun tak terlihat dalam krisis yang nyata, maka kita sedang menghadapi krisis moral kepemimpinan.

Iran mungkin bukan aktor ideal dalam dunia Islam, namun realitas membuktikan bahwa ia tampil di garda depan ketika Al-Aqsha diserang dan Gaza dibombardir. Dunia Sunni, dengan segala pengaruh dan wibawanya, justru bungkam atau bahkan bersekutu diam-diam dengan Israel.

Pertanyaan akhirnya adalah: Jika bukan karena Palestina, karena apa lagi dunia Sunni akan bersatu dan bersuara? (*)

Nazaruddin;
Penulis adalah Kolumnis, Pemerhati Sosial Politik.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *