INDOSatu.co – TIMUR TENGAH- Ini perkembangan termutakhir polemik antara Amerika Serikat dan Iran yang terus menghangat. Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengonfirmasi bahwa negaranya tidak akan tunduk pada tekanan dari kekuatan dunia di tengah pembicaraan nuklir dengan Amerika Serikat.
“Kekuatan-kekuatan dunia berbaris untuk memaksa kita menundukkan kepala… tetapi kita tidak akan menundukkan kepala meskipun menghadapi semua masalah yang mereka ciptakan untuk kita,” kata Pezeshkian dilansir AFP dalam pidato yang disiarkan langsung oleh televisi pemerintah, Sabtu (21/2).
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump terus menebar ancamannya di tengah negosiasi yang sedang berlangsung di Jenewa, Swiss. Bahkan, Ytump mengaku sedang mempertimbangkan serangan terbatas terhadap Iran setelah memerintahkan pengerahan angkatan laut besar-besaran di Timur Tengah.
Tujuan menebar ancaman tersebut tak lain untuk memberikan tekanan pada Teheran agar mencapai kesepakatan untuk mengekang program nuklir maupun rudal balistiknya.
Ancaman terbaru ini muncul setelah menteri luar negeri Iran Abbas Araghchi yang mengatakan, bahwa draf proposal untuk kesepakatan dengan Washington akan siap dalam beberapa hari setelah negosiasi antara kedua pihak di Jenewa awal pekan ini.
Pada hari Kamis, Trump mengisyaratkan bahwa “hal-hal buruk” akan terjadi jika Teheran tidak mencapai kesepakatan dalam waktu 10 hari, yang kemudian diperpanjangnya menjadi 15 hari.
Ketika ditanya oleh seorang reporter pada hari Jumat apakah ia mempertimbangkan serangan militer terbatas, Trump menjawab: “Yang paling bisa saya katakan,– saya sedang mempertimbangkannya.”
Setelah pembicaraan di Jenewa, Teheran mengatakan kedua pihak telah sepakat untuk menyerahkan draf perjanjian potensial, yang menurut Menlu Araghchi kepada media AS akan menjadi langkah selanjutnya.
“Saya yakin dalam dua atau tiga hari ke depan, itu akan siap, dan setelah konfirmasi akhir dari atasan saya, itu akan diserahkan kepada Steve Witkoff ,” kata Araghchi, merujuk pada negosiator utama Trump untuk Timur Tengah .
Araghchi juga mengatakan bahwa para negosiator AS tidak meminta Teheran untuk mengakhiri program pengayaan nuklirnya, yang bertentangan dengan pernyataan dari para pejabat Amerika.
“Kami belum menawarkan penangguhan apa pun, dan pihak AS belum meminta pengayaan nol,” kata Araghchidalam sebuah wawancara yang dirilis Jumat oleh jaringan TV AS MS NOW.
“Yang sedang kita bicarakan sekarang adalah bagaimana memastikan bahwa program nuklir Iran, termasuk pengayaan, bersifat damai dan akan tetap damai selamanya,” tambah Araghchi.
Komentarnya bertentangan dengan informasi yang disampaikan oleh pejabat tinggi AS, termasuk Trump, yang berulang kali mengatakan bahwa Iran tidak boleh diizinkan untuk memperkaya uranium pada tingkat apa pun.
Negara-negara Barat menuduh Republik Islam Iran berupaya memperoleh senjata nuklir, yang dibantah oleh Teheran, meskipun mereka bersikeras pada haknya untuk melakukan pengayaan uranium untuk tujuan sipil. (*)




