INDOSatu.co – JAKARTA – Pegiat Politik yang juga Tokoh Oposisi, Muhammad Said Didu mensinyalir bahwa saat ini tengah berlangsung bergulatan kekuasaan antara Presiden Prabowo Subinato melawan para pendukung mantan Presiden Joko Widodo yang biasa disebut Geng SOP (Solo, Oligarki dan Parcok).
Jika tidak diwaspadai, bisa saja terjadi pergantian kekuasaan sebelum Pilpres 2029, sesuatu yang tidak dikehendaki dalam negara demokratis yang menjamin pergantian kekuasaan secara damai, berkala dan melalui pemilu yang demokratis.
Said Didu mensinyalir bahwa saat ini terjadi gonjang-ganjing politik di ‘belakang panggung’ yang tidak terlihat tetapi bisa dirasakan. “Saya khawatir, jika Presiden Prabowo tidak serius dalam masalah ini, bisa jadi apa yang dikatakan pengamat politik Bu Connie Rahakundini Bakrie bisa menjadi kenyataan” kata Said dalam keterangannya Selasa (7/4).
Dalam sebuah wawancara pada tahun 2024 di podcast Akbar Faisal, kata Said Didu, Connie menyatakan bahwa dia dihubungi oleh Ketua Tim Kampanye Prabowo, Rosan Roslani, yang memberitahukan bahwa Prabowo meminta kepada Jokowi agar mengizinkan Gibran menjadi calon Wapresnya.
Menurut Connie, Rosan menyatakan bahwa Prabowo menjanjikan dirinya hanya berkuasa dua tahun, hingga akhir 2026, dan selanjutnya jabatan presiden akan diteruskan oleh Gibran.
Jika apa yang dikatakan Rosan itu benar, kata Said Didu, berarti pada akhir tahun kedua kekuasaannya, atau tahun ini, Prabowo harus menyerahkan kekuasaan kepada Gibran. “Jika itu terjadi, maka dipastikan pemegang kekuasaan akan berganti sebelum masanya habis. Ini tentunya membuat kita bertanya-tanya apakah informasi Connie itu benar adanya atau isu belaka,” kata Said.
Terlepas dari itu semua, Said menengarai, gerakan untuk membusukkan Prabowo sudah mulai muncul. CEO Syaiful Muzani Reseach and Consulting (SMRC) sudah menggaungkan penggulingan Prabowo sebelum 2029. Apakah Syaiful memang berbuat murni sebagai seorang demokrat yang risau atas keadaan atau atas dasar pesanan, itu yang harus didalami.
”Tetapi, sukar dimengerti sebuah institusi riset dan survei yang terkenal melakukan inisiatif murni tanpa pesanan,” kata Said Didu.
Saat ini, kata Said Didu, Gibran sedang mempersiapkan diri jika terjadi pergantian kekuasaan di tengah jalan. Menurut Said, pendukung Jokowi yang tergabung dalam Akronim SOP (Solo, Ologarki dan Parcok) sudah siap dalam penyerangan, yaitu Serangan Darat berupa mempersiapkan dukungan kepada Gibran dari masyarakat berupa Laskar Gibran yang sudah terbentuk di 34 Provinsi. Lalu Serangan Udara seperti yang dilakukan Syaiful Muzani yang mendorong Probowo dijatuhkan di tengah jalan.
Berdasarkan pengalaman selama puluhan tahun berpolitik, Said Didu mencatat beberapa langkah sistematis yang dilakukan Geng SOP untuk merebut kekuasaan dari Prabowo, seperti penuhi Kabinet Prabowo dengan loyalis Jokowi, mempertahankan Kapolri, membuatkan program pemerintah yang akan dikritik rakyat karena diduga akan menemui kegagalan seperti MBG, BoP, ART, KDMP dan lain-lain.
Program strategis lain adalah Gibran tidak diikut-sertakan dan dilibatkan dalam program tersebut, sehingga namanya bersih. Lalu dibentuklah relawan Gibran dari Pusat sampai ke Desa-Desa, gerakkan tim buzzer untuk bikin pertentangan antara Presiden Prabowo dengan aktivis dan kelompok kritis, yang tidak kalah penting adalah melakukan pembusukan kepada TNI, seperti kasus penyiraman air keras kepada Andrie Yunus yang dilakukan oleh anggota TNI yang bertugas di BAIS.
Hal lain yang dilakukan, kata Said Didu, gerakkan opinion leader Jokowi untuk menyuarakan bahwa Prabowo harus dijatuhkan. Lalu masukkan pimpinan buzzer Jokowi ke Tim Presiden untuk menyerang siapapun agar makin banyak yang benci Prabowo.
“Jangan lupa dua orang tokoh yang dahulu adalah orang Jokowi yang sekarang masuk ke dalam tim Prabowo,” kata Said tegas.
Ditambahkannya, melihat dan menganalisa indikasi tersebut di atas, mungkin sekali informasi dari Bu Connie dulu bahwa Prabowo hanya 2 (dua) tahun berkuasa bisa menjadi benar. ”Karena itu, rakyat harus harus bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi,” kata Said Didu. (*)



