Pompanisasi Jadi Solusi Percepatan Penanganan Banjir di Lamongan

  • Bagikan
MINIMALISASI BANJIR: Disampingi Bupati Laamongan Yuhronur Efendi (paling kanan), Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB Budi Irawan (pakai rompi biru) meninjau wilayah terdampak banjir di Dusun Meluke, Desa Sidomulyo, Kecamatan Deket, Jumat (20/2).

INDOSatu.co – LAMONGAN – Pemerintah Kabupaten Lamongan, Jawa Timur terus mengintensifkan upaya penanganan banjir yang hingga kini masih berdampak di lima kecamatan, yakni Kecamatan Kalitengah, Deket, Turi, Karangbinangun, dan kecamatan Glagah.

Salah satu langkah strategis yang ditempuh adalah mengoptimalkan pompanisasi. Optimalisasi pompanisasi menjadi langkah paling efektif dalam mempercepat penurunan debit air.

Pernaytaan tersebut disampaikan Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi saat mendampingi Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB Budi Irawan meninjau wilayah terdampak banjir di Dusun Meluke, Desa Sidomulyo, Kecamatan Deket, Jumat (20/2).

“Langkah yang bisa kita lakukan saat ini adalah pompanisasi, karena untuk mengurangi dengan cara lain dampaknya kurang efektif,” jelas bupati.

Hingga hari ini, kata Yes, sapaan akrab Bupati Lamongan, ketinggian air masih berselisih sekitar 66 sentimeter, sehingga belum dapat mengalir keluar secara optimal. Pemerintah berharap intensitas hujan tidak meningkat agar pengendalian debit air dapat berjalan maksimal.

Baca juga :   Didukung Bupati, 2002 Pelajar dan Santri Antusias Ikut Gerakan Menulis Alquran

Karena, kata Pak Yes, banjir yang terjadi di kawasan Bengawan Jero merupakan fenomena tahunan yang sangat dipengaruhi intensitas hujan. Seluruh aliran air dari 15 kecamatan bermuara ke Bengawan Jero sebagai satu-satunya saluran pembuangan utama, dengan pintu air Kuro sebagai titik kunci. Namun saat ini pintu Kuro belum dapat dibuka karena tingginya debit air di Bengawan Solo.

Selain itu, luapan dari Waduk Gondang ikut memperbesar debit air menuju Bengawan Jero. Pendangkalan waduk menyebabkan kapasitas tampung menurun hingga sekitar 65 persen. Upaya pendalaman waduk dan normalisasi sungai terus dilakukan, dengan bekerja sama dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).

Baca juga :   Melalui Megpreneur, Kabupaten Lamongan Siapkan Talenta Bisnis Masa Depan

Sebanyak 15 pompa telah beroperasi di lapangan, ditambah dua pompa aktif lainnya. Rata-rata pompa mampu mengeluarkan air selama 14 jam per hari dengan kapasitas sekitar 549 liter/detik.

Guna mendukung percepatan penanganan banjir, Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB Budi Irawan akan menambahkan, 1 unit pompa mobile dengan kapasitas 500 liter/detik, 5 unit perahu, dan tenda untuk memperkuat penanganan.

“Kami ingin persoalan banjir di Lamongan bisa terselesaikan. Yang paling penting adalah bagaimana menambah pompa dan melihat kemungkinan penggunaan pompa berkapasitas besar agar air di daerah terdampak bisa segera teratasi,” ujarnya.

Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) Kabupaten Lamongan Erwin Sulistya Pambudi menambahkan bahwa, percepatan pembangunan Waduk Karangnongko di Bojonegoro dan Blora menjadi bagian dari solusi jangka panjang untuk menahan air kiriman dari arah hulu. Selanjutnya, normalisasi sungai di wilayah Bengawan Jero juga dijadwalkan berlangsung tahun ini dan tahun depan.

Baca juga :   Bupati Lamongan Dukung BDL sebagai Kontributor Peningkatan Ekonomi Daerah

Pada kesempatan tersebut, Bupati Yes juga menyalurkan bantuan logistik berupa beras sebanyak 250 kilogram. Bantuan tersebut didistribusikan secara merata kepada masyarakat, dengan alokasi 125 kilogram untuk Desa Sidomulyo, Kecamatan Deket dan 125 kilogram untuk Desa Kuro, Kecamatan Karangbinangun.

Peninjauan diakhiri di UPTD PSDA Kuro. Di lokasi tersebut, seluruh pompa air diaktifkan guna mempercepat proses pengeluaran air dan mengurangi genangan di wilayah terdampak. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *