PERUBAHAN drastis Rismon Hasiholan Sianipar mengejutkan. Dari singa galak tidak takut apapun menjadi tikus cerurut yang lari-lari sambil menggigit. Lari dari medan juang, menggigit teman seiring. Publik mengecam perilaku Rismon yang kehilangan keseimbangan moral.
Mengkritisi karyanya sambil tampil arogan mengecilkan karya teman, seolah hanya dia peneliti paling ulung sedunia. Mampu menyulap palsu menjadi asli. Mempertuhankan keahlian digital tanpa martabat dan integritas.
Sikap plintat-plintut Rismon dimanipulasi sebagai kejujuran ilmiah dan berbalik sikap disebut temuan berkelanjutan. On going. Kecaman menempatkannya sebagai ternak baru dan menjadi cerita buruk tentang anak manusia sok benar. Maling teriak maling, palsu teriak palsu. Bukan sadar akan kelemahan melainkan beratraksi macam-macam.
Macam kesatu, playing victim menempatkan diri sebagai korban eksploitasi sehingga terbawa-bawa mempermasalahkan ijazah jokowi dengan konklusi 11 ribu triliun persen palsu.
Macam kedua, menuduh teman seiring memiliki kepentingan politik dengan konsekuensi Rismon keluar dari urusan ijazah Jokowi maupun Gibran. Hal ini adalah atraksi gerbang exit mengada-ada dan keji.
Macam ketiga, translasi, rotasi, dan pencahayaan menjadi alat barter agar Jokowi membantu melepaskan ancaman kepalsuan ijazah S-3 dan kepura-puraan dari kematian. Jepang siap menghujam.
Macam keempat, mengobrak-abrik buku Jokowi White Papers (JWP) dengan mengerdilkan kontribusi sejawat. Buku mahal yang direndahkan harganya. Bahkan dinegasi melalui persiapan konten antitesa. Rismon membakar bagian buku karya bersamanya. Dungu.
Macam kelima, buku bagus best seller tanpa cela Gibran End Game (GEG) dihinakan sendiri. Parcel hadiah Gibran mampu menghancurkan reputasi dan harga diri. Entah bagaimana Rismon akan mampu berbohong untuk membuat antitesa GEG?
Rismon sedang meluncur dari peneliti profesional yang tangguh menjadi pengabdi Jokowi yang liar. Hancur oleh karakter sombong, songong, dan bohong. Ancaman hukum masih harus dihadapi. Pengkhianat biasanya berujung akan diburu sana dan sini. Menderita dan tidak merdeka. Tertawa dalam luka. (*)
M. Rizal Fadillah;
Penulis adalah Pemerhati Politik dan Kebangsaan, tinggal di Bandung.



