Saif Al Islam Ditembak di Kediaman, Jaksa Libya Gelar Penyelidikan

  • Bagikan
BERAKHIR TRAGIS: Saif Al Islam Qaddafi, putra mendiang Presiden Libya Muammar Qaddafi, yang tewas ditembak kawanan penjahat di rumahnya, di Kota Zintan, Libya Barat Utara.

INDOSatu.co – TRIPOLISaif al-Islam Gaddafi, putra manatan Presiden Libya, Muammar Gaddafi, tewas setelah ditembak empat tak dikenal di kediamannya, di Kota Zindan, Libya Barat Laut. Kini, Jaksa Libya sedang sedang menyelidiki pembunuhan Saif al-Islam Gaddafi tersebut.

Kantor kejaksaan mengatakan bahwa para ahli forensik telah dikirim ke Zintan, tempat Saif Al Islam ditembak mati. Para jaksa menambahkan bahwa mereka berupaya sedang mengidentifikasi para tersangka.

“Korban meninggal dunia akibat luka tembak,” kata kantor tersebut dalam sebuah pernyataan seraya menambahkan bahwa para penyelidik sedang meminta keterangan beberapa saksi dan siapa pun yang mungkin dapat memberikan keterangan terkait insiden tersebut.

Baca juga :   Militer Thailand-Kamboja Baku Tembak, Dua Tewas, Hubungan Diplomatik Putus

Pengacara Saif al-Islam, Marcel Ceccaldi, mengatakan bahwa kliennya dibunuh oleh “empat orang komando” tak dikenal yang menyerbu rumahnya di Zintan pada hari Selasa (3/2).

Ketua Dewan Kepresidenan, sebuah badan transisi yang seharusnya mewakili seluruh Libya yang terpecah berdasarkan kesepakatan PBB, mendesak “kekuatan politik, media, dan aktor sosial untuk menahan diri dalam pernyataan publik dan menghindari hasutan untuk membenci.

“Kami menyerukan kepada semua kekuatan politik untuk menunggu hasil penyelidikan resmi,” demikian pernyataan Mohamed al-Menfi dilansir AFP, yang menyebut Seif al-Islam sebagai kandidat presiden.

Baca juga :   Usai Mundur dari Jabatan Kado Trump, Elon Musk segera Dirikan Parpol

Gaddafi muda, yang berusia 53 tahun, dipandang oleh sebagian orang sebagai penerus ayahnya. Menfi menambahkan bahwa eskalasi dapat merusak upaya rekonsiliasi nasional dan penyelenggaraan pemilihan umum yang bebas dan adil.

Libya kesulitan pulih dari ketidakstabilan mendalam yang meletus setelah pemberontakan yang didukung NATO pada tahun 2011 menggulingkan Muammar Gaddafi. Libya tetap terpecah antara pemerintah yang didukung PBB yang berbasis di Tripoli dan pemerintahan timur yang didukung oleh Khalifa Haftar .

Saif al-Islam ditangkap pada November 2011 di Libya selatan menyusul surat perintah yang dikeluarkan oleh Mahkamah Pidana Internasional di Den Haag atas tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Baca juga :   Qatar-Turki Bekerja Buka Kembali Bandara Kabul, AS Sambut Baik

Pengadilan Tripoli kemudian menjatuhkan hukuman mati kepadanya pada tahun 2015 setelah persidangan yang cepat, tetapi ia diberikan amnesti. Pada tahun 2021 ia mengumumkan akan mencalonkan diri sebagai presiden, tetapi pemilihan tersebut ditunda tanpa batas waktu.

Sementara itu, hingga Rabu belum ada informasi yang dirilis mengenai pemakamannya. Tetapi penasihatnya, Abdullah Othman Abdurrahim, mengatakan kepada media Libya bahwa otopsi telah selesai dan ia dapat dimakamkan di Bani Walid, selatan ibu kota Tripoli. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *