INDOSatu.co – JAKARTA – Setelah lama tak terdengar suaranya menyikapi perang Iran vs Amerika Serikat dan Israel, Presiden Indonesia Prabowo Subianto akhirnya angkat bicara. Bahkan, Prabowo menilai tidak melihat adanya rasionalitas serangan AS dan Israel terhadap Iran.
Pernyataan Prabowo itu disampaikan dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg belum lama ini.
“Jadi, dunia, termasuk kita bingung. Dan saya sedih. Saya merasa tidak ada rasionalitas dalam (perang, Red) hal ini,” kata Prabowo tentang perang tersebut.
Menariknya, Prabowo juga mempertanyakan apakah strategi AS untuk mengebom Iran akan mampu mengarah pada perubahan rezim. Berdasarkan analisisnya, tidak mudah merubah suatu rezim di negara yang berdaulat, apalagi jika serangan hanya dilakukan melalui udara.
“Sangat sulit, saya kira sangat sulit,” kata Prabowo singkat.
Mantan Danjen Kopassus itu mengungkapkan, Iran baru-baru ini mengatakan kepadanya bahwa mereka waspada untuk memasuki negosiasi baru dengan AS buat menghentikan perang.
Pengakuan Iran, kata Prabowo, bukan tanpa alasan. Iran merasa telah ditipu dua kali oleh Amerika Serikat. Dalam perang asimetris, tambahnya, mereka (Iran) melakukan perlawanan untuk menjaga eksistensi mereka sebagai negara berdaulat. ”Itu yang dilakukan Iran agar mampu bertahan hidup,” kata Prabowo.
Prabowo mengaku tidak dapat memprediksi berapa lama perang akan berlangsung. Namun, ia menambahkan bahwa semua pihak harus bersedia terlibat agar mediasi dapat membantu mengakhiri konflik yang berkepanjangan.
Sebagai pemimpin yang cinta damai, Prabowo telah menawarkan diri sebagai mediator dalam konflik Iran vs Amerika Serikat dan Israel. Meski demikian, diakuinya bahwa hingga kini belum ada persetujuan kedua belah pihak bertikai.
Menjawab sejumlah kritik terhadap langkah Indonesia bergabung Dewan Perdamaian (Board of Peace = BoP) Presiden AS Donald Trump, Prabowo mengatakan rencana untuk mengirim pasukan penjaga perdamaian ke Gaza kini ditunda.
“Setiap kebijakan akan memiliki pro dan kontra, dan itu wajar saja,” kata Prabowo.
“Jika kita berada di dalam BOP (Base of Protection), kita masih dapat memengaruhi dan berupaya menuju solusi yang langgeng, yang menurut pandangan kami adalah Palestina yang merdeka, yakni solusi dua negara,” pungkasnya. (*)



