INDOSatu.co – BRUSSELS – Keinginan Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta semua pemimpin negara Dunia mengirim Angkatan Laut guna membuka blokade di Selat Hormuz oleh Iran bakal sulit terwujud. Para pemimpin Eropa misalnya. Mereka menolak keinginan Trump dan tidak mau terlibat dalam perang Iran.
Dalam pertemuan Uni Eropa di Brussels pada Senin (15/3) yang membahas kenaikan harga minyak sangat tinggi selama perang AS-Israel di Iran, Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul mengaku bahwa Berlin tidak berniat bergabung dalam operasi militer selama konflik tersebut.
“Kita butuh kejelasan lebih lanjut di sini,” kata Wadephul kepada wartawan dilansir Al Jazeera menjelang pertemuan tersebut. “Kami berharap AS dan Israel memberi tahu kami, melibatkan kami dalam apa yang mereka lakukan di sana, dan memberi tahu kami apakah tujuan-tujuan ini tercapai.”
Hal senada juga disampaikan Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius. Ia mengatakan, meski tidak akan ada partisipasi militer dari Jerman, pihaknya siap mendukung upaya diplomatik untuk memastikan jalur aman melalui Selat Hormuz.
“Ini bukan perang kita. Kita tidak memulainya,” kata Pistorius. “Apa yang diharapkan Trump dari segelintir kapal fregat Eropa di Selat Hormuz yang tidak dapat dilakukan oleh Angkatan Laut AS yang perkasa?”
Sementara itu, Stefan Kornelius, juru bicara Kanselir Jerman Friedrich Merz mengatakan, bahwa perang Iran vs Amerika Serikat dan Israel tidak ada hubungannya dengan NATO. Kornelius mengatakan bahwa, NATO adalah aliansi untuk pertahanan wilayah, dan tidak ada mandat untuk mengerahkan pasukan NATO ke Selat Hormuz.
Sikap Jerman tersebut juga diutarakan oleh negara anggota NATO lainnya, Inggris. Berbicara dari London tentang kemungkinan bergabung dalam misi apa pun di Selat Hormuz, Perdana Menteri Keir Starmer mengatakan bahwa pengiriman pasukan tidak pernah direncanakan sebagai misi NATO.
Starmer menekankan bahwa Inggris tidak akan terseret ke dalam perang yang lebih luas. Namun, ia mengatakan Inggris sedang berdiskusi dengan AS dan sekutunya di Eropa dan Teluk tentang kemungkinan menggunakan drone pemburu ranjau yang sudah ada di wilayah tersebut.
Perdana Menteri Belanda Rob Jetten mengatakan kepada kantor berita ANP negara itu bahwa akan sangat sulit untuk meluncurkan misi yang sukses di sana dalam jangka pendek.
Sedangkan Lithuania dan Estonia mengatakan, negara-negara NATO harus mempertimbangkan permintaan bantuan dari AS, tetapi juga memperingatkan perlunya kejelasan yang lebih besar mengenai ajakan Trump itu.
Menteri Luar Negeri Estonia, Margus Tsahkna, juga mengatakan bahwa sekutu AS di Eropa ingin memahami tujuan strategis Trump. “Apa rencananya dan itu harus jelas?,” tanyanya.
Juru bicara pemerintah Yunani, Pavlos Marinakis, juga mengungkapkan hal serupa. Marinakis mengatakan bahwa Yunani tidak akan terlibat dalam operasi militer apa pun di Selat Hormuz.
Sementara Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani lebih tegas lagi. Tajani mengatakan, Italia tidak terlibat dalam misi angkatan laut apa pun yang dapat diperluas ke wilayah tersebut.
Hal senada juga diungkapkan Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen. Ia mengatakan, Eropa harus tetap berpikiran terbuka dalam membantu memastikan kebebasan navigasi di selat tersebut, meskipun benua itu tidak mendukung keputusan AS-Israel untuk berperang dengan Iran.
“Kita harus menghadapi dunia sebagaimana adanya, bukan sebagaimana yang kita inginkan,” kata Rasmussen, menambahkan bahwa Uni Eropa harus memutuskan rencana dengan tujuan untuk meredakan ketegangan.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Polandia Radek Sikorski mengajak pemerintahan Trump untuk menempuh jalur yang rasional dan tidak menyeret negara-negara yang tergabung NATO dalam perang antara Iran vs AS dan Israel. (*)



