INDOSatu.co – TEHERAN – Amerika Serikat harus berpikir ulang jika harus menyerang atau berperang melawan Iran. Sebab, saat ini Iran ternyata memiliki bekal nuklir yang jumlahnya lebih banyak. Lebih dari 1.000 drone telah diterima berbagai cabang angkatan darat Iran.
Dilansir kantor berita Tasnim, Kamis (29/1), penegasan itu disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan dengan Presiden AS Donald Trump yang memperingatkan akan adanya serangan jika Teheran menolak kesepakatan nuklir.
“Angkatan darat mempertahankan dan meningkatkan keunggulan strategisnya untuk pertempuran cepat dan memberikan respons yang menghancurkan terhadap setiap agresor,” kata Panglima Angkatan Darat Amir Hatami.
Laporan tersebut mengatakan bahwa penambahan baru ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan operasional keempat cabang angkatan darat.
Ditambahkan bahwa drone tersebut dikembangkan oleh spesialis angkatan darat bekerja sama dengan kementerian pertahanan. Pengembangan drone berdasarkan ancaman yang muncul dan pelajaran yang dipetik dari perang 12 hari yang terjadi pada Juni 2025.
“UAV (pesawat tanpa awak) telah dirancang dalam kategori destruktif, ofensif, pengintaian, dan peperangan elektronik, dengan kemampuan untuk menargetkan sasaran tetap dan bergerak tertentu di wilayah darat, laut, dan udara.”
Sejak Iran melancarkan penindakan terhadap protes yang disertai dengan pemadaman internet, Presiden AS Donald Trump telah memberikan sinyal yang beragam mengenai kemungkinan intervensi.
Washington bergabung dengan perang 12 hari Israel pada bulan Juni yang bertujuan untuk melemahkan program nuklir dan rudal balistik Iran.
Trump Dinilai Gamang
Presiden Amerika Serikat Donald Trump tengah mempertimbangkan semua opsi terkait situasi dengan Iran, termasuk melancarkan serangan kuat dan menentukan. Tetapi juga meja perundingan. Opsi itulah yang dinilai sebagai bentuk kegamangan.
“Jika perintah serangan terhadap Iran dikeluarkan, Trump ingin bisa segera mendeklarasikan kemenangan,” sebut laporan itu seraya mengutip sumber dan pejabat anonim.
Namun, Trump menyadari serangan terhadap Iran jauh lebih menantang karena kemampuan militernya. Bahkan, Trump membandingkan dengan Venezuela. Ibu kota Teheran juga lebih jauh dari pesisir.
Perbedaan lainnya ada di jalur diplomasi. Hingga kini, pejabat Iran menolak berkomunikasi dengan AS. Iran menolak didikte oleh Amerika Serikat, sedangkan Venezuela diduga sempat menjalin kontak dengan pemerintahan Trump sebelum operasi militer dilancarkan.
Trump pada Rabu mengatakan sebuah “armada besar” sedang bergerak menuju Iran dengan cepat. Ia memperingatkan bahwa jika kesepakatan tidak tercapai, serangan AS di masa depan akan berakibat jauh lebih buruk.
Trump sebelumnya menyatakan dukungan terhadap para pengunjuk rasa di Iran dan mengancam akan melancarkan serangan. Pernyataan itu dikecam Iran, yang menyebutnya sebagai ancaman terhadap kedaulatan Iran. (*)



