INDOSatu.co – TEHERAN – Presiden Amerika Serikat Donald Trump benar-benar tebal muka. Sudah tahu kalau para petinggi Iran tidak berpikir soal negoisasi dengan AS, Trump tetap saja meminta Steve Witkoff, orang kepercayaan Trump untuk menawarkan kesepakatan damai.
Akibatnya, bisa ditebak. Para pemimpin di Teheran tetap teguh dan tidak punya agenda berunding dengan agresor Amerika Serikat dan Israel. Setidaknya, Iran telah menolak dua pesan dari utusan khusus Donald Trump, Steve Witkoff, yang meminta gencatan senjata seiring tekanan dunia. termasuk Trump juga merasakan tekanan politik.
Menteri Luar Negeri, Abbas Araghchi, mengatakan bahwa deklarasi kemenangan sepihak dari Trump, bahwa AS telah memenangkan perang hanya bualan belaka. Iran menganggap tidak penting bualan Trump itu.
Yang pasti, jika AS terus melancarkan serangan, Iran justru siap untuk melanjutkan konflik dalam beberapa bentuk, atau mempertahankan cengkeramannya pada pelayaran yang berusaha melewati Selat Hormuz.
Abbas Araghchi meyakini, bahwa konflik tidak akan berakhir sampai Trump sadar bahwa biaya perang itu sangat tinggi, baik secara ekonomi, politik, dan militer, sehingga tidak layak untuk diulangi. AS harus tahu diri bahwa tidak boleh mengintervensi dapur negara lain yang berdaulat.
“Jika gencatan senjata akan ditegakkan atau perang dihentikan, harus ada jaminan bahwa tindakan agresif terhadap Iran tidak akan terulang. Jika tidak, gencatan senjata tersebut tidak akan ada artinya,” timpal Kazem Gharibabadi, wakil menteri luar negeri dilansir The Guardian.
Sikap kukuh Iran ini sungguh luar biasa bagi sebuah negara yang pada awal perang 11 hari lalu hanya menginginkan kelangsungan hidupnya sendiri. Tetapi, karena telah diserang terlebih dahulu, Iran tentu tidak tinggal diam. ”Kami sebagai negara daulat, tidak mungkin didikte AS dan Israel, negara yang baru kemarin lahir,” kata Kazem.
Meski demikian, kementerian luar negeri dalam pembicaraan dengan sejumlah besar negara yang menawarkan diri untuk menjadi mediator sedang menjajaki kemungkinan apakah perang dapat dihentikan begitu saja seperti yang terjadi pada Juni tahun lalu, atau harus diakhiri dengan semacam kesepakatan yang mungkin mencakup pencabutan sanksi ekonomi AS secara bersyarat.
Namun, dari nada-nada di kalangan tokoh-tokoh elit Iran, mereka akan bertahan dan tidak perlu mencari kesepakatan apa pun. Saat ini lebih dari 80 negara akan mensponsori resolusi yang disponsori Bahrain.
Propagandanya, mereka mengutuk Iran atas serangannya terhadap negara-negara Teluk, tetapi mereka tidak menyuarakan kritik terhadap AS atau Israel. Rusia mungkin akan mensponsori mosi terpisah yang menyerukan gencatan senjata.
“Kami sama sekali tidak mencari gencatan senjata,” kata Ketua Parlemen, Mohammed Ghalibaf, di media sosial. “Biarkan musuh tahu bahwa apa pun yang mereka lakukan, pasti akan ada pembalasan yang proporsional dan segera. Kami berjuang habis-habisan, tanpa kompromi atau pengecualian.”
Sedangkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) telah menekankan, bahwa mereka akan mengendalikan Selat Hormuz, yang dilalui hampir 20 persen minyak mentah dunia dan sekitar 20 persen gas alam cair.
“Pada awal perang, kami mengumumkan dan kami umumkan lagi bahwa tidak ada kapal yang terkait dengan agresor terhadap Iran yang berhak melewati Selat Hormuz. Jika Anda ragu, mendekatlah dan buktikan sendiri.” kata pejabat IRGC.
IRGC sendiri juga mengatakan bahwa pihaknya hanya akan mengizinkan kapal-kapal dari negara-negara yang mengusir duta besar mereka untuk AS dan Israel untuk melewatinya.
Bahkan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, menyuarakan nada menantang dengan menyatakan bahwa para perusak telah datang dan pergi. Iran tetap ada. Iran yakin dengan kemampuan militer dan teknologi. ”Perang panjang pun, Iran siap.”
Para elit Iran saat ini tidak mau gegabah menerima tawaran gencatan senjata dari AS. Mereka tidak ingin dikhianati untuk yang ketiga kalinya. Dua kali perang, dua kali pula menawarkan gencatan saja.
Ketika perundingan masih terus berjalan, bahkan hampir mencapai kata kesepakatan, AS dan Israel malah menyerang Iran. Karena mereka sering berkhianat, sehingga sama sekali tidak ada dasar untuk mencapai kesepakatan dengan AS dan Israel. (*)



