Trump Kembali Tebar Ancaman, Menlu Araghchi: Tak akan Ada Negosiasi

  • Bagikan
CIPTAKAN INSTABILITAS: USS Abraham Lincoln dan kapal induk terbesar di dunia, USS Gerald R. Ford milik Amerika Serikat sudah mendekat di perairan Timur Tengah.

INDOSatu.co – TIMUR TENGAH – Situasi kawasan di Timur Tengah, terutama di Iran, makin tidak menentu setelah Presiden AS Donald Trump kembali menyuarakan ancaman bahwa Negeri Paman Sam siap melancarkan serangan militer terhadap Iran, seraya menuntut agar Teheran mencapai kesepakatan terkait program nuklirnya.

“Armada besar sedang menuju Iran. Armada itu bergerak cepat, dengan kekuatan, antusiasme, dan tujuan yang besar,” kata Trump dalam unggahan panjang di Truth Social, Rabu (28/1) dilansir Al Jazeera, Rabu (28/1).

Trump menambahkan bahwa AS menginginkan Teheran segera ‘Duduk di Meja Perundingan’ dan menegosiasikan kesepakatan yang adil dan merata, tanpa senjata nuklir– kesepakatan yang menguntungkan semua pihak.

Baca juga :   62 Warga Gaza Tewas Ditembaki Israel, Termasuk yang Cari Makanan

”Waktu hampir habis, ini benar-benar sangat penting! Seperti yang pernah saya katakan kepada Iran sebelumnya, buat kesepakatan!,” kata Trump.

Dalam pernyataan yang tampaknya merujuk pada pemboman tiga fasilitas nuklir Iran oleh AS pada bulan Juni 2025, presiden AS memperingatkan bahwa jika Teheran gagal mencapai kesepakatan, serangan berikutnya akan jauh lebih buruk.

Ledakan amarah Trump terjadi tak lama setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa negaranya tidak akan memulai kembali negosiasi di tengah ancaman serangan.

SIAGA PENUH: Bom nuklir milik Iran sudah siap siaga untuk merespon ancaman serangan Amerika Serikat dalam sepekan ini.

Diplomat tertinggi Teheran menegaskan bahwa negaranya tidak berupaya memulai kembali negosiasi dan tidak akan melakukannya selama ancaman masih berlanjut.

“Tidak ada kontak antara saya dan [utusan AS Steve] Witkoff dalam beberapa hari terakhir dan tidak ada permintaan untuk negosiasi yang diajukan dari kami,” kata Araghchi dilansir Al Jazeera, Rabu (28/1).

Baca juga :   Dikepung Taliban, Presiden Ashraf Ghani Tinggalkan Istana

“Sikap kami jelas: Negosiasi tidak berjalan seiring dengan ancaman, dan pembicaraan hanya dapat dilakukan ketika tidak ada lagi ancaman dan tuntutan yang berlebihan,” sambung Araghchi.

Awal bulan ini, Araghchi mengatakan negaranya siap berperang jika Washington ingin “menguji” kesiapannya.

Komentar tersebut muncul setelah Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengecam “ancaman” AS, dengan mengatakan bahwa ancaman tersebut “bertujuan untuk mengganggu keamanan kawasan dan tidak akan menghasilkan apa pun selain ketidakstabilan”.

Tanggapan tegas tersebut tampaknya bertentangan dengan pernyataan menteri luar negeri Turki. Berbicara kepada Al Jazeera pada hari Rabu, Hakan Fidan mengisyaratkan bahwa “Iran siap untuk kembali menegosiasikan masalah nuklir”.

Baca juga :   Dibantu Arab Saudi Rp 59 Triliun, PM Khan Ucapkan Terima Kasih

Para pejabat Iran telah berjanji akan melancarkan “tanggapan komprehensif dan yang akan menimbulkan penyesalan” jika diserang lagi.

Trump berulang kali mengklaim bahwa serangan AS pada bulan Juni “menghancurkan” program nuklir Iran, yang dikhawatirkan oleh negara-negara Barat dan lembaga internasional bertujuan untuk mengembangkan senjata nuklir.

Namun, Teheran bersikeras bahwa program nuklirnya tersebut murni untuk tujuan sipil dan mereka berhak untuk melakukan pengayaan uranium. Keberadaan uranium yang sangat diperkaya milik negara itu tetap tidak diketahui sejak serangan bulan Juni. (*)

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *