INDOSatu.co – WASHINGTON – Karena ancamannya selalu diabaikan oleh Iran, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akhirnya mengumumkan diri perpanjangan gencatan senjata dengan Iran. Iran tidak menggubris Trump karena selalu melanggar gencatan senjata yang telah disepakati.
Apa yang dilanggar Trump dalam gencatan senjata tersebut? Tak lain adalah blokade Selat Hormuz, pelabuhan Iran, dan penyitaan satu kapal kargo milik Iran yang mengangkut bahan pokok untuk kebutuhan rakyat Iran. Tiga pelanggaran itulah membuat Teheran tidak mau menghadiri pertemuan putaran kedua di Islamabad, Pakistan.
Dilansir Al Jazeera, sebagai negara mediator, Pakistan sudah berusaha menyelamatkan putaran kedua perundingan perdamaian untuk AS dan Iran. Tetapi upaya Pakistan itu tercederai oleh ulah Trump yang selalu berubah-ubah dan mengumbar ancaman.
Padahal, dalam perjanjian damai, kedua belah pihak harus bebas dari segala intimidasi dan ancaman. Harapannya, agar dicapai hasil yang sama-sama diterima oleh kedua belah pihak. Untuk menyelamatkan upaya damai putaran kedua itu, Pakistan mengirim utusan ke Teheran dan bertemu dengan pejabat penting Iran.
Pengumuman perpanjangan gencatan senjata Amerika Serikat itu diungkapkan pakar kebijakan luar negeri AS, Barbara Slavin, tentang pengumuman Trump bahwa gencatan senjata dengan Iran diperpanjang.
Padahal, sehari sebelumnya, Trump mengatakan tidak akan ada perpanjangan gencatan senjata, dan jauh sebelumnya, tepatnya pada hari Jumat, dia mengatakan bahwa akan ada kesepakatan, mungkin pada akhir pekan; bahwa Iran telah menyetujui kesepakatan yang bagus.
Pertanyaannya adalah, dengan siapa dia berbicara, dan dari siapa dia mendengar hal itu? Kini telah diputuskan bahwa JD Vance, Wapres AS tidak akan pergi ke Islamabad, tetapi gencatan senjata akan diperpanjang. Terlihat Trump adalah presiden yang labil dan membahayakan bagi negara sebesar Amerika Serikat, sebagai negara super power.
Beberapa jam sebelum mengumumkan perpanjangan tersebut, Trump juga mengancam bahwa jika tidak ada kesepakatan, maka ia akan memulai kembali mengebom Iran karena militer AS sudah siap untuk bertindak.
Jika Trump membuka peluang untuk pembicaraan lebih lanjut, hal itu juga belum disetujui oleh Iran. Amerika Serikat berharap Iran menerima semua proposal yang diajukan Amerika, termasuk tidak akan pernah memiliki senjata nuklir, pengembalian uranium yang diperkaya, yang akan diterima oleh pasukan AS… dan juga, Selat Hormuz akan dibuka.
Padahal, semua proposal yang diajukan Trump itu merupakan kedaulatan Iran yang tidak mungkin dikabulkan. Bagi Iran, lebih baik perang sampai titik darah penghabisan daripada harus patuh dan tunduk pada negara agresor seperti Amerika Serikat.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, tindakan pemblokiran pelabuhan Iran adalah tindakan perang. Tindakan tersebut merupakan pelanggaran gencatan senjata. Dan Teheran tahu, bagaimana melawan intimidasi kampungan tersebut. Bicara gencatan senjata, blokade dan penyitaan kapal kargo, jelas merupakan pelanggaran.
Sedangkan di sisi lain, Israel juga terus membombardir Lebanon selatan dan menghancurkan rumah-rumah warga Lebanon, meskipun ada gencatan senjata selama 10 hari, jelas merupakan pelanggaran pelanggaran gencatan senjata tersebut.
Sementara itu, platform berita The Hill yang berbasis di Washington, DC melaporkan bahwa militer AS telah menghabiskan hampir setengah dari persediaan rudal pencegat pertahanan udara Patriot dan telah banyak menggunakan enam kategori rudal utama lainnya selama perang melawan Iran.
Menurut analisis baru dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), skala kampanye udara dan rudal Operasi Epic Fury telah menciptakan kesenjangan yang signifikan dalam cadangan amunisi AS, demikian laporan The Hill. Dengan komposisi tersebut, pantas Iran tidak akan pernah menggubris ancaman Trump. Ancaman TRump tersebut tak lebih sebagai pepesan kosong tak bermakna.
Sementara, Iran dikabarkan masih memiliki bekal yang cukup rudal berbagai kelas dan kekuatan yang mampu melululantakkan aset AS dan Israel. Selama gencatan senjata selama dua pekan lalu, dimanfaatkan Iran untuk kembali memperkuat militernya, baik Angkatan Darat, Laut dan Angkatan Udara. (*)
Laporan CSIS, yang dirilis pada hari Selasa, merinci tingkat penipisan sebagai berikut:
- Rudal Patriot: hampir 50 persen dari total persediaan telah habis.
- Pencegat THAAD: lebih dari setengah persediaan telah digunakan.
- Rudal Serang Presisi (PrSM): lebih dari 45 persen dari persediaan telah digunakan. (*)



