Gus Ulil: Pelengseran Ketum PBNU Sangat Bahaya bagi Organisasi

  • Bagikan
PRIHATIN: Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Ulil Abshar Abdalla menyikapi upaya pemakzulan terhadap Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf.

INDOSatu.co – JAKARTA – Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Ulil Abshar Abdalla, angkat bicara terkait mencuatnya isu pemakzulan terhadap Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf. Dalam sebuah pernyataan yang diunggahnya, Gus Ulil menilai, wacana pelengseran tersebut sebagai langkah yang berbahaya bagi tradisi organisasi.

Gus Ulil, panggilan akrabnya, membandingkan situasi saat ini dengan masa kepemimpinan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Pada era Orde Baru, kata dia, upaya pendongkelan terhadap Ketum PBNU justru datang dari pihak eksternal yang berkuasa.

Meski menghadapi tekanan berat, Gus Dur tetap bertahan dan NU mampu melewati masa-masa sulit itu. “Di zaman Gus Dur dulu, upaya pendongkelan Ketua Umum dilakukan oleh pihak eksternal (pemerintah otoriter Orba). Dan saat itu, NU survive, selamat. Gus Dur pun sebagai Ketum PBNU saat itu tetap bertahan. Luar biasa,” ujar Gus Ulil melalui tulisan di Facebook pribadinya, Sabtu (22/11).

Baca juga :   Rais Syuriah PBNU Berhentikan Gus Yahya, Ini Alasan Utamanya...

Ia menegaskan bahwa periode tersebut menjadi fase penting yang dikenang manis oleh generasi NU, termasuk dirinya. Namun, menurut Ulil, kondisi yang muncul hari ini sangat berbeda dan justru lebih memprihatinkan.

“Itu fase sejarah NU yang selalu dikenang dengan manis oleh generasi NU dari waktu ke waktu, terutama generasi saya. Sekarang, upaya pendongkelan itu justru datang dari dalam. Ironis. Tidak terbayangkan,” kata Gus Ulil.

Ia pun menyebut langkah melengserkan ketua umum di tengah masa khidmat sebagai “sunnah sayyi’ah” atau preseden buruk yang seharusnya tidak dimulai, terlebih jika wacana itu muncul dari pucuk pimpinan tertinggi dalam struktur jam’iyah.

Baca juga :   Jelang Pemilu, Ijtima Ulama Nusantara Beri Mandat Penuh Cak Imin Tentukan Arah Politik PKB

“Bukan saja ironis, ini juga memulai “sunnah sayyiah”, kebiasaan buruk, yaitu melengserkan Ketua Umum di tengah jalan. Yang lebih ironis lagi, kebiasaan baru yang tidak baik ini justru dimulai dari pucuk pimpinan tertinggi,” ucapnya.

Gus Ulil berharap NU kembali mampu melewati ujian internal ini dan organisasi tetap solid. “Semoga kali ini pun NU survive, dan Ketum selamat,” ujarnya.

Isu pemakzulan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf mencuat menyusul beredarnya surat yang ditandatangani oleh Rais Aam PBNU Miftachul Akhyar berisi hukuman atas keputusan mendatangkan didatangkannya pembicara pro-Zionis dalam acara PBNU. Gus Yahya sejak lama memang kerap disoroti terkait hubungannya dengan Israel.

Baca juga :   Setelah Salim Segaf dan SBY Bertemu, Pencapresan Anies Baswedan Makin Kokoh

Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Afifuddin Muhajir, telah membenarkan adanya surat pemakzulan tersebut. “Iya benar,” kata dia singkat kepada wartawan, di arena Munas XI MUI di Hotel Mercure, Jakarta, Jumat (21/11) malam.

Surat itu merupakan risalah rapat tertutup pada Kamis (20/11), yang digelar KH Miftachul Achyar bersama para pengurus harian Syuriah di Hotel Aston City Jakarta. Berdasarkan dokumen Risalah Rapat Harian Syuriah PBNU tanggal 20 November 2025 yang dihadiri 37 dari 53 pengurus Syuriah itu menghasilkan beberapa poin penting.

Yang utama adalah soal aksi Gus Yahya mendatangkan pembicara yang terafiliasi dengan jaringan Zionisme global. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *