Sempat Menguat, Kini Kurs Rupiah Melemah lagi, Akankah Tim Prabowo Kembali Jadi Tumbal?

  • Bagikan

INDOSatu.co – JAKARTA – Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan menilai, menguatnya kurs rupiah terhadap hingga di titik Rp 16.375 per dolar AS diawal pekan ini hanya bersifat sementara. Sebab, ancaman keterpurukan mungkin akan terus mengintai seiiring perkembangan ekonomi dunia.

Kurs rupiah memang sempat menguat sedikit pada awal minggu ini, meski tidak signifikan. Kurs rupiah ditutup Rp 16.375 per dolar AS pada Selasa 25 Juni 6 lalu. Meski demikian, Anthony meminta agar menguatnya kurs rupiah yang tidak seberapa itu jangan didramatisasi dengan sandiwara-sandiwara yang justru membodohi masyarakat.

‘’Maksudnya penguatan kurs rupiah yang tidak signifikan ini kemudian didramatisir: seolah-olah kurs rupiah menguat karena penampilan bersama antara pemerintah (Airlangga Hartarto, Sri Mulyani) dengan Tim Gugus Tugas Sinkronisasi Pemerintahan Prabowo,’’ kata Anthony kepada INDOSatu.co, Kamis (27/6).

Baca juga :   Kasus Tom Lembong Bermotif Politik, Anthony: Ada yang Bermain. Pelakunya Sudah Jelas

Penampilan bersama ini, kata Anthony, sesungguhnya merupakan jebakan kepada Tim Prabowo. Anehnya, Tim Prabowo mau saja tampil untuk menjadi aktor pendukung sinetron Jokowi, Airlangga dan Sri Mulyani.

Penampilan bersama antara pemerintah dan Tim Peabowo ini sebenarnya hanya untuk mempertontonkan sinetron kepada publik, guna membuktikan bahwa kurs rupiah anjlok karena Prabowo mau menaikkan defisit menjadi lebih dari 3 persen dan menaikkan rasio utang terhadap PDB menjadi 50 persen dalam 5 tahun.

Tim Prabowo kemudian bagaikan kerbau dicucuk hidungnya, sangat penurut, mengikuti skenario Sri Mulyani dan Airlangga, untuk berjanji (memberi komitmen) taat terhadap ketentuan defisit anggaran. Artinya, Tim Prabowo dipaksa “mengaku dosa”, bahwa pelemahan kurs rupiah selama ini akibat ulah Prabowo ingin menaikkan defisit dan utang.

Baca juga :   Nilai Tukar Rupiah Masih Melemah, Anthony: Ekonomi Indonesia Terus Tertekan

Usai konferensi pers, kurs rupiah kemudian memang menguat, tetapi sangat tidak signifikan. Sri Mulyani, Airlangga Hartarto, dan Bank Indonesia kemudian berteriak lantang. Rupiah menguat setelah Tim Prabowo berjanji untuk tidak ugal-ugalan lagi dalam menentukan defisit anggaran. Artinya, “terbukti” pelemahan rupiah selama ini disebabkan kebijakan fiskal Prabowo tahun 2025.

Mereka dengan gampang berdalih dengan pelemahan rupiah selama ini bukan karena kegagalan ekonomi, fiskal dan moneter rezim Jokowi, Sri Mulyani, Airlangga Hartarto, atau Perry Warjiyo. Tapi karena kebijakan fiskal Prabowo tahun 2025.

Baca juga :   Aleg PKS Minta Pemerintah Harus Lebih Tegas untuk Tagih Denda ke PT. Freeport

Dalam hati Sri Mulyani, Airlangga Hartarto dan Perry Warjiyo tertawa. Dalam hati mereka berkata, betapa mudahnya mengecoh Tim Prabowo, untuk cuci tangan atas kegagalan mereka.

‘’Padahal, penguatan kurs rupiah pada awal pekan ini karena intervensi, atau artifisial: bukan natural,’’ kata Doktor Ekonomi alumni Erasmus University Rotterdam, Belanda, itu.

Faktanya, kurs rupiah kemarin, Rabu (26/6), kembali melemah, dibuka Rp16,442 per dolar AS. Apakah Sri Mulyani dan Airlangga Hartarto akan memanggil Tim Prabowo lagi untuk mengatasi merosotnya rupiah kali ini? Akan tim Prabowo menjadi tumbal untuk yang kedua kalinya? ”Kita tunggu saja,” pungkas Anthony. (adi/red)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *