INDOSatu.co – TEL AVIV – Akhirnya, Iran yang memenangi peperangan melawan AS dan Israel yang berlangsung hampir satu setengah bulan. Pengakuan jujur tersebut bukan tanpa alasan. Karena faktanya, Iran masih gagah dan terus melawan selama perang berlangsung.
Bukan hanya itu. Bukti kemenangan Iran atas AS dan Israel itu, di Iran tidak berganti rezim sebagai negara yang umumnya kalah dalam perang. Dan munculnya gencatan senjata juga bukan dari Iran, tetapi dari AS. Gencatan senjata menjadi bukti bahwa AS sudah mulai lemah secara militer.
Media-media Israel bereaksi terhadap pengumuman gencatan senjata Amerika Serikat dan Iran dengan kritik yang sangat tajam. Mereka menggambarkan hasil gencatan senjata tersebut sebagai sebuah kekalahan dan bukan sebuah terobosan diplomatik.
Dilansir Channel 14 Israel, komentar di berbagai media menggambarkan perjanjian tersebut sebagai sebuah konsesi di bawah tekanan, dengan beberapa pihak menyatakan bahwa Iran berhasil mendikte Trump, dan bahwa hasilnya “bukan hanya sebuah pencapaian Iran tetapi sebuah kemenangan besar.”
“Di dunia manakah dia tinggal saat dia mempromosikan perjanjian menyerah sebagai sebuah pencapaian?” tulis Channel 14 Israel secara terbuka mengkritik Presiden AS Donald Trump. “Yang paling mengkhawatirkan adalah Israel tidak melawan kegilaan ini.”
Sedangkan Palestine Chronicle melaporkan, media Israel lainnya menggambarkan Trump sebagai “orang lemah” yang “tidak dapat menahan tekanan.” Mereka mengatakan bahwa pengumuman gencatan senjata – yang disampaikan ketika rudal masih diluncurkan ke Israel – “mencerminkan ejekan terhadap kami.”
Koresponden militer i24 juga mengejek gencatan senjata tersebut, dan menyerukan agar waktunya “ditentukan secara tepat di masa depan,” yang mencerminkan skeptisisme terhadap substansi dan implementasinya.
Penilaian Israel semakin menunjukkan adanya kesenjangan antara tujuan perang yang dinyatakan dan hasil sebenarnya. Komentar media menyoroti bahwa kampanye tersebut tidak mencapai tujuan utamanya, khususnya upaya untuk membongkar kemampuan militer Iran atau mengacaukan sistem politiknya.
Laporan mencatat bahwa menargetkan kepemimpinan Iran “tidak menyebabkan jatuhnya rezim,” dan bahwa Iran mempertahankan struktur politik dan kapasitas operasionalnya selama konflik.
Kelanjutan operasi Iran hingga fase akhir perang juga ditekankan, dengan media Israel mencatat bahwa Iran mempertahankan kecepatan serangan dan “melepaskan tembakan terakhir.”
Komentar Israel juga berfokus pada pihak Lebanon, yang hasilnya secara luas digambarkan sebagai sebuah kegagalan. Laporan menyatakan bahwa “Israel kalah dalam pertempuran” di Lebanon, mencatat bahwa hubungan antara Iran dan Hizbullah tetap utuh dan bahwa gencatan senjata mencakup Lebanon tanpa perlucutan senjata Hizbullah.
Shai Tzvi, seorang peneliti di Institut Kebijakan Strategis Israel, mengatakan bahwa memasukkan Lebanon dalam perjanjian tersebut, jika dikonfirmasi, akan merupakan pencapaian penting bagi Iran.Penilaian ini mencerminkan kekhawatiran bahwa perang tersebut tidak mengubah keseimbangan regional yang menguntungkan Israel dan malah memperkuat posisi Iran dan sekutunya.
Sementara itu, surat kabar Israel, Maariv, menyoroti dampak perang di dalam negeri, dan menggambarkan gangguan dan kerusakan yang meluas di seluruh negeri. Surat kabar tersebut melaporkan bahwa ribuan rudal diluncurkan dari Iran, Yaman, dan Lebanon, mengakibatkan korban jiwa, kerusakan lebih dari lima ribu bangunan, dan penutupan infrastruktur utama, termasuk bandara.
Maariv menambahkan bahwa dampak ekonominya sangat parah, menggambarkan keadaan “kelumpuhan hampir total” yang berlangsung selama 41 hari.
Pemimpin oposisi Israel Yair Lapid mengkritik Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, dengan menyatakan bahwa ia telah gagal secara politik dan strategis serta tidak mencapai tujuan apa pun yang ditetapkan untuk perang tersebut, menurut Jerusalem Post. (*)



