Melebihi Tamu Lain, Begitu Tiba di China, Putin Disambut Xi Jinping Meriah

  • Bagikan
TAMU ISTIMEWA: Presiden China Xi Jinping (kiri) dan Presiden Rusia Vladimir Putin (kanan) diterima dengan disambut melalui parade militer tentara China. (foto: The Guardian)

INDOSatu.co – BEIJING – Vladimir Putin benar-benar merealisasikan janjinya untuk mengunjungi Beijing. Kedatangan Putin di Beijing persis empat hari setelah kunjungan kenegaraan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meninggalkan negeri Tirai Bambu tersebut.

Saat tiba di China Selasa malam, Putin disambut oleh Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, dengan barisan kehormatan bersama para pemuda China yang mengibarkan bendera nasional China dan Rusia dalam upacara penyambutan di landasan pacu bandara.

Kunjungan pemimpin Rusia ke China – yang ke-25 menurut media pemerintah China – mencerminkan meningkatnya kepercayaan diri Beijing di panggung dunia sebagai pusat aktivitas diplomatik global. Saat Trump mendarat ke China, sambutannya tampak senyap. Sementara sambutan terhadap Putin begitu sangat meriah. 

Hal ini juga menggarisbawahi hubungan yang erat antara Putin dan pemimpin Tiongkok, Xi Jinping . Kedua pria tersebut telah bertemu lebih dari 40 kali, jauh melampaui pertemuan Xi dengan pemimpin Barat mana pun.

William Yang, seorang analis senior di International Crisis Group, mengatakan: “Menjadi tuan rumah bagi dua pemimpin paling berpengaruh di dunia dalam hitungan hari menunjukkan meningkatnya kepercayaan diri China akan posisi dan kedudukannya di dunia,” kata William Yang dilansir The Guardian, Rabu (20/5). 

Baca juga :   TKW Kembali Alami Penyiksaan, Badan Susut 30 Kg, Lari Berkat Bantuan Orang Lain

Dia mengatakan, Xi Jinping kemungkinan ingin mengingatkan Trump bahwa Beijing memiliki hubungan lain yang solid dan kuat yang dapat diandalkan, sehingga Washington tidak dapat dengan mudah mengisolasi atau merugikan Beijing jika mencoba melakukannya.

Citra kunjungan ini akan dicermati dengan saksama dan dibandingkan dengan kunjungan Trump pekan lalu. Xi dikenal sering menjamu para pemimpin yang berkunjung dengan minum teh, tetapi suasana dan cara pertemuan tersebut dapat dilihat sebagai sinyal penghargaan pemimpin Tiongkok terhadap tamunya.

Ketika Xi menjamu Putin untuk pembicaraan pada Mei 2024, keduanya melepas dasi mereka saat berbicara sambil minum teh di luar ruangan di Zhongnanhai, sebuah kompleks yang kadang-kadang disebut sebagai Kremlin-nya China.

Xi juga mengajak Trump berkeliling kediaman tersebut pekan lalu, dan mengatakan kepada presiden AS bahwa Putin adalah salah satu dari sedikit pemimpin asing lain yang diundang ke kompleks Zhongnanhai. “Bagus,” jawab Trump.

Kunjungan Putin terjadi saat ia memasuki periode yang mungkin merupakan masa paling sulit dalam masa pemerintahannya yang panjang. Citra dirinya sebagai pemimpin yang kuat di dalam negeri mulai terkikis karena Rusia hanya sedikit mengalami kemajuan di medan perang di Ukraina tahun ini.

Masalah ekonomi Rusia yang semakin meningkat secara bertahap meningkatkan ketergantungannya pada China, mengubah apa yang Kremlin gambarkan sebagai kemitraan yang setara menjadi hubungan yang jauh lebih timpang.

Baca juga :   Menlu AS: Trump Pilih Negosiasi daripada Perang dengan Iran

Pemimpin Rusia tersebut menerbitkan pidato video kepada China pada malam sebelum kunjungan tersebut. Ia mengatakan hubungan China-Rusia telah mencapai “tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya”, merujuk pada peningkatan pesat perdagangan bilateral kedua negara, fakta bahwa penyelesaian transaksi hampir seluruhnya dilakukan dalam rubel dan yuan, bukan dolar AS, dan kebijakan bebas visa timbal balik untuk pelancong China dan Rusia.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, mengatakan bahwa, persahabatan antara China dan Rusia akan semakin diperdalam dan akan semakin mengakar di hati masyarakat melalui arahan strategis dari Xi dan Putin.

Tahun ini menandai 30 tahun sejak Beijing dan Moskow menandatangani perjanjian kemitraan strategis dan 25 tahun sejak mereka menandatangani “perjanjian bertetangga baik dan kerja sama persahabatan”.

Pernyataan Putin tentang transaksi non-dolar menyoroti sejauh mana kedua negara telah berupaya membangun ketahanan mereka terhadap sanksi Barat, yang bergantung pada dominasi dolar AS agar efektif.

China tidak mematuhi sanksi Barat terhadap Rusia dan sejak dimulainya invasi skala penuh ke Ukraina telah membeli bahan bakar fosil Rusia senilai lebih dari $367 miliar, berdasarkan data yang dikumpulkan oleh Pusat Penelitian Energi dan Udara Bersih.

Baca juga :   Tolak Dimanfaatkan AS, Pasukan Kurdi Ogah Bertempur Lawan Iran

Para analis akan mengamati apakah Putin dan Xi menyepakati kesepakatan apa pun untuk lebih memperdalam kerja sama energi. Sekitar 40 dokumen diperkirakan akan ditandatangani dan pernyataan bersama setebal 47 halaman tentang penguatan kemitraan mereka akan dikeluarkan, menurut Kremlin.

Putin dan Xi juga diperkirakan akan mengadopsi deklarasi bersama tentang pembentukan tatanan dunia multipolar dan jenis hubungan internasional baru, menyaingi tatanan yang sudah ada..

Namun, proyek paling penting yang sedang dibahas adalah Power of Siberia 2, sebuah jalur pipa gas alam sepanjang 1.600 mil (2.600 km) yang akan menambah kapasitas gas sebesar 50 miliar meter kubik ke aliran gas Rusia ke China. Jalur pipa ini akan melewati Mongolia dan dipandang oleh Kremlin sebagai kunci untuk mengimbangi hilangnya pasar ekspor Eropa.

Pasokan energi tambahan melalui jalur darat dari Rusia akan mengurangi ketergantungan China pada Selat Hormuz, yang telah lumpuh akibat perang AS dengan Iran. Namun, hal itu juga dapat membuat China terlalu bergantung pada Rusia pada saat China ingin meningkatkan kemandirian energinya. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *