INDOSatu.co – TEHERAN – Eskalasi di Timur Tengah, terutama di teritorial Selat Hormuz bakal terus memanas. Hal itu terjadi karena Iran telah mengonfirmasi dan mengumumkan pembentukan badan baru yang bertugas mengelola Selat Hormuz. Padahal, di area Selat tersebut, sedang terjadi blokade oleh Angkatan Laut Amerika Serikat (AS).
Otoritas baru tersebut akan memberikan “pembaruan langsung mengenai operasi di Selat Hormuz dan perkembangan terkini,” kata Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran di perusahaan media sosial AS, X.
Tidak ada rincian tambahan yang dirilis mengenai struktur, wewenang, atau tanggung jawab badan baru tersebut. Selat Hormuz adalah salah satu jalur energi penting di dunia, yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan pasar internasional.
Gangguan di wilayah ini telah memicu kekhawatiran atas pasokan minyak, bahan bakar, dan gas global sejak dimulainya perang Iran serta meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat terkait jalur air strategis tersebut.
Dilansir Anadolu Agency, Ebrahim Azizi, ketua Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri parlemen Iran, mengatakan bahwa, negaranya telah menyusun mekanisme untuk mengatur lalu lintas maritim melalui rute yang ditentukan di Hormuz dan akan mengenakan biaya “untuk layanan khusus” yang disediakan di bawah sistem tersebut.
“Dalam proses ini, hanya kapal komersial dan pihak-pihak yang bekerja sama dengan Iran yang akan mendapat manfaat darinya,” tulisnya di X.
AS dan Israel yang melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, memicu pembalasan dari Teheran terhadap Israel serta sekutu AS di Teluk, bersamaan dengan penutupan Selat Hormuz.
Gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April melalui mediasi Pakistan, tetapi pembicaraan di Islamabad gagal menghasilkan kesepakatan yang langgeng. Sejak 13 April, AS telah memberlakukan blokade angkatan laut yang menargetkan lalu lintas maritim Iran di selat tersebut.
Sebagai pemilik Selat Hormuz, Iran akan menjaga kedaulatan wilayah tersebut dari tangan para agresor. Bagi negara sahabat, Iran tentu akan memandu dan memberi petunjuk cara aman melewati selat untuk lalu lintas 20 persen energi dunia tersebut.
Jika tidak melibatkan Iran, tanker milik berbagai negara itu dipastikan menjadi sasaran dari ribuan ranjau yang ditanam oleh pasukan militer Iran selama perang dengan Amerika Serikat.
Iran sendiri saat ini sudah sangat siap untuk merespon yang apa yang akan terjadi di masa-masa mendatang, terutama bila diserang kembali oleh Amerika Serikat, di tengah proses negoisasi yang alot tersebut.
Kekuatan militer Iran saat ini jauh lebih kuat dibanding sebelum perang. Jika sebelum perang pada 28 Fenruari 2026 saja, Amerika Serikat sudah kuwalahan, apalagi menghadapi kekuatan Iran yang sekarang.
”Yang pasti, Iran siap melayani AS dengan perang apapun. Darat, laut maupun udara,” kata Menlu Abbas Araghchi mengonfirmasi kekuatan militer Iran belum lama ini. (*)



