Rupiah Anjlok, Cadangan Devisa Turun, Anthony: BI Jadi Mesin Utang LN

  • Bagikan
DAMPAK GLOBAL: Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan menyikapi anjloknya nilai tukar rupiah akibat konflik di Timur Tengah dan tatanan ekonomi global yang membuat rapuh ekonomi RI.

INDOSatu.co – JAKARTA – Konflik Amerika Serikat dan Israel melawan Iran sudah berlangsung lebih dari tujuh bulan memikul beban ekonomi yang tidak ringan. Selain Selat Hormuz yang tertutup sejak Maret 2026, konflik juga meluas dan melibatkan proxy.

Pandangan tersebut disampaikan Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan. Houthi, kata Anthony, dikalim sudah menguasai seluruh pantai Laut Merah Yaman dan Selat Bab al-Mandab, serta mengumumkan blokade terhadap kapal Saudi.

Fasilitas minyak Arab Saudi, kata Anthony, juga berulang kali diserang. Pada 11 September, pipa Timur–Barat, jalur utama ekspor minyak Saudi untuk menghindari Hormuz, diserang dan sempat ditutup. Kemarin, 3 Oktober, Houthi juga menyerang fasilitas minyak Saudi di selatan Riyadh dengan rudal balistik dan drone.

Menurut Anthony, konflik yang terus memburuk membuat harga minyak mentah kembali melambung. Harga Brent ditutup 102,31 dolar AS per barel pada 1 Oktober 2026, naik sekitar 43 persen dari 71,32 dolar AS pada 27 Februari 2026, sehari sebelum perang. Kondisi ini memicu kenaikan inflasi global. IMF memperkirakan inflasi global 2026 mencapai 4,7 persen, lebih tinggi dari proyeksi April 2026.

Bahkan, ungkap Anthony, IMF juga menurunkan proyeksi pertumbuhan global 2026 menjadi hanya 3 persen, lebih rendah dari rata-rata 3,5 persen pada 2024 dan 2025. Bank Dunia lebih pesimistis, dengan proyeksi pertumbuhan sekitar 2,5 persen dan bisa anjlok sampai 1,3 persen.

Baca juga :   Ekonomi Nikel Tahun Ini Mulai Redup, Anthony: Ekspor Q2/2023 Anjlok 71,1 Persen

Indonesia, tukas Anthony, tidak bisa lepas dari perkiraan pesimisme ekonomi dunia. Pertumbuhan ekonomi triwulan I dan triwulan II 2026 nampaknya masih kuat, dengan pertumbuhan masing-masing 5,61 persen dan 5,29 persen. Tetapi, kata dia, hal ini perlu dibedah secara terpisah. Untuk sementara, anggap saja data ini benar. Karena sulit dibantah, hanya dapat dirasakan, khususnya oleh masyarakat menengah bawah.

Di lain sisi, beber Anthony, data menunjukkan ekonomi Indonesia semakin memprihatinkan. Defisit transaksi berjalan juga terlihat sangat melebar. Defisit pada triwulan pertama 2026 masih 3,6 miliar dolar AS atau 1,0 persen terhadap PDB, kemudian meningkat menjadi 12,5 miliar dolar AS atau 3,3 persen terhadap PDB pada triwulan II 2026.

Dalam tiga bulan, kata Anthony, defisit transaksi berjalan bertambah hampir 9 miliar dolar AS. Sepanjang semester I/2026, defisit transaksi berjalan mencapai sekitar 16,1 miliar dolar AS, atau 2,2 persen terhadap PDB.

Anthony mengatakan, neraca perdagangan barang dan jasa juga dalam kondisi memprihatinkan, karena mencatat defisit 4,57 miliar dolar AS pada triwulan II 2026. Defisit ini terjadi lagi untuk pertama kalinya setelah pandemi COVID-19. Semua ini mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang rapuh.

Baca juga :   Lima dari Sembilan Hakim MK, termasuk Anwar Usman Dinilai Khianati Konstitusi

Defisit transaksi berjalan membuat kurs rupiah tertekan, kembali ke posisi sekitar Rp 18.000 per dolar AS. Padahal, kurs tersebut mendapat intervensi cukup agresif dari Bank Indonesia. Utang luar negeri naik dari 434,3 miliar dolar AS pada akhir Desember 2025 menjadi 454,5 miliar dolar AS pada akhir Juni 2026. Dalam enam bulan, utang bertambah 20,2 miliar dolar AS atau 4,6 persen.

Yang mengejutkan, kata Anthony, 88 persen kenaikan utang luar negeri tersebut berasal dari kenaikan utang Bank Indonesia (BI) yang melonjak dari 24,67 miliar dolar AS menjadi 42,46 miliar dolar AS, naik 17,78 miliar dolar AS atau 72 persen dalam enam bulan.

Hal itu jelas membahayakan posisi BI sebagai Bank Sentral, yang sekarang menjadi mesin utang luar negeri. Padahal, kata dia, pada akhir Juli 2021, utang luar negeri Bank Indonesia hanya sekitar 2,84 miliar dolar AS.

Bank Indonesia, kata Anthony, kini secara agresif menerbitkan instrumen utang untuk menarik dana asing dan menahan rupiah. Stabilitas rupiah kini dibiayai dengan utang bank sentral berjangka pendek, kurang dari satu tahun, dengan bunga yang lebih besar dari surat berharga pemerintah. Pembiayaan jangka pendek Bank Sentral membuat kurs rupiah semakin rentan.

Baca juga :   Bilang Kasus Korupsi BTS 4G Sudah Selesai, Anthony: Jaksa Agung Berpolitik

Kenaikan utang luar negeri Bank Sentral juga mencerminkan utang pemerintah kurang diminati oleh investor asing. Utang luar negeri pemerintah hanya naik 2 miliar dolar AS selama 6 bulan, dari 214,3 miliar dolar AS pada akhir Desember 2025 menjadi 216,3 miliar dolar AS pada akhir Juni 2026.

Di sisi lain, ungkap dia, tambahan utang luar negeri yang begitu besar masih tidak mampu menahan penurunan cadangan devisa. Selama delapan bulan, cadangan devisa turun 10 miliar dolar AS atau 6,4 persen, dari 156,5 miliar dolar AS pada Desember 2025 menjadi 146,5 miliar dolar AS pada akhir Agustus 2026.

Tekanan harga minyak mentah memicu The Fed, Bank Sentral AS, menaikkan suku bunga acuan sebesar 0,25 persentase poin pada 16 September 2026. Dampaknya langsung terasa pada rupiah, yang turun dari Rp 17.700 menjadi sekitar Rp 18.000 per dolar AS.

Kalau harga minyak bertahan di atas 100 dolar AS per barel sampai akhir tahun, defisit transaksi berjalan akan meningkat, dan rupiah siap-siap mendekati Rp19.000 per dolar AS, bahkan bisa lebih rendah. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *