Keracunan Berulang, DPRD DIY Geregetan, Minta SPPG Dibubarkan

  • Bagikan
Ketua Komisi D DPRD DIJ Dwi Wahyu meminta SPPG dibubarkan seiring terus berulangnya kasus keracunan yang menimpa siswa usai menyantap makan gizi gratis (MBG) di sekolah-sekolah di Jogjakarta.

INDOSatu.co – JOGJAKARTA – Terus berulangnya kasus keracunan siswa karena menu makan bergizi gratis (MBG) membuat DPRD DIJ berang. Komisi D meminta agar satgas yang telah dibentuk di DIJ lebih ketat dalam melakukan pengawasan.

“Dari sisi proses makanan, bahan baku, cara masak, satgas harus lebih standar, walaupun sudah ada standarnya dari BGN,”  jelas Ketua Komisi D DPRD DIJ Dwi Wahyu kepada wartawan Kamis (10/9).

Karena keracunan selalu berulang, Wahyu pun meminta agar dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dibubarkan dan pengolahan MBG dilakukan di masing-masing sekolah. Dengan demikian, sekolah dapat memasak MBG secara mandiri, sehingga tidak lagi bergantung pada dapur SPPG.

Baca juga :   Prabowo Ikut Pilpres 2024, Muzani: Permintaan Rakyat sangat Masif

Menurutnya, kasus keracunan yang berulang disebabkan salah satunya oleh persoalan rantai pasok. “Kan makanan terlalu lama, makanan yang belum dingin, terus ditutup. Itu kan mengakibatkan fermentasi yang tidak baik,” kata Wahyu.

Selain itu, identifikasi kembali sekolah yang memang layak mendapatkan MBG juga diperlukan. Sebab, tujuan program MBG adalah memberikan asupan gizi kepada anak-anak yang berpotensi mengalami kekurangan gizi.

Slama ini, kata Wahyu, pemerintah daerah tidak memiliki kewenangan dalam membuat kebijakan mengenai program MBG. Di sisi lain, pemerintah daerah justru ikut direpotkan ketika terjadi persoalan di lapangan, termasuk saat harus membawa korban dugaan keracunan ke rumah sakit dan membayar biaya pengobatan.

“Walaupun katanya mau diganti oleh pusat. Tapi kan daerah repot,” tegas Wahyu singkat.

Ia memperkirakan bisa saja muncul gerakan dari sekolah yang tidak ingin menerima MBG karena kasus keracunan yang terus berulang. “Jangan sampai MBG ini justru pemilik dapur orientasinya tidak untuk gizi, tapi orientasinya profit. Konyol itu,” katanya. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *