AS Minta Iran Mau Bernegoisasi, Araghchi: Syarat Kami yang Tentukan

  • Bagikan
DIATAS ANGIN: Menlu Iran Abbas Araghchi menyikapi upaya Amerika Serikat (AS) yang meminta bernegoisasi dengan Iran untuk menyudahi perang yang sudah berlangsung hampir 7 bulan itu.

INDOSatu.co – TEHERAN – Presiden Amerika Serikat (AS) katahuan belangnya. Dia merengek minta kepada Iran agar mau bernegoisasi untuk menyudahi perang. Pernyataan itu diungkap Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.

Araghchi menyebut bahwa Amerika Serikat selama ini gagal memaksa Teheran untuk menyerah selama perang. Karena itu, AS telah memohon ke Iran untuk bernegosiasi.

“Amerika sekarang memohon untuk bernegosiasi dengan kami sesuai dengan syarat-syarat kami,” kata Araghchi dilansir Al Jazeera, Selasa (18/8).

Araghchi mengeklaim bahwa, nota kesepahaman yang ditandatangani dengan Washington berisi 13 ketentuan yang menguntungkan Teheran. “Hanya satu yang menguntungkan mereka,” katanya sambil menuduh Israel mencoba untuk menyabotase pelaksanaannya.

“Kami memenangkan perang, dan kami juga menang dalam diplomasi, dan kami memaksa musuh untuk menerima syarat-syarat kami,” kata Araghchi seraya enambahkan bahwa kemampuan militer dan medan perang Iran memperkuat posisi negosiasi diplomat Teheran.

Konflik terbuka antara Amerika Serikat dan Iran dalam skala militer besar dimulai pada 28 Februari 2026. AS dan Israel meluncurkan serangan udara besar-besaran terhadap situs militer dan nuklir Iran. Teheran membalas dengan melancarkan serangan ke Israel dan negara sekutu AS di Timur Tengah. Upaya negosiasi setelah kesepakatan gencatan senjata belum menuai hasil.

Baca juga :   AS Kirim Militer Berantas Kartel Narkoba, Senat Meksiko Adu Jotos

Presiden Donald Trump pada Selasa menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak sedang melakukan pembicaraan dengan Iran—dan tidak menjadwalkan pembicaraan apa pun—namun di saat yang sama bersikeras bahwa Selat Hormuz tetap terbuka.

Pemimpin AS tersebut menegaskan meskipun blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran tetap ‘berlaku sepenuhnya, namun semua lalu lintas laut lainnya bebas untuk melintas. Ia juga mengunggah peta yang menggambarkan jalur air strategis tersebut sebagai wilayah AS.

Komentar ini merupakan perubahan sikap terbaru dari Trump. Pada Senin, ia sempat mengklaim bahwa AS sedang melakukan pembicaraan melalui jalur tidak resmi dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran. Teheran dengan cepat membantah klaim tersebut.

Pernyataan Selasa itu tampaknya mencerminkan rasa frustrasi Trump, mengingat Iran dan Oman—negara-negara yang berbatasan dengan Hormuz—terus melakukan pembicaraan mengenai pengelolaan selat tersebut.

Baca juga :   Ditekan Amerika Hentikan Program Nuklir, Iran Tidak Mau Tunduk

“Tidak ada pembicaraan atau percakapan yang sedang berlangsung, ataupun yang dijadwalkan, dengan Republik Islam Iran. Blokade Angkatan Laut tetap berlaku sepenuhnya. Selat Hormuz terbuka dan beroperasi. Semua ranjau laut telah disingkirkan atau diledakkan,” tulis Trump.

Iran menegaskan kembali bahwa Hormuz akan tetap ditutup sampai Washington memenuhi ketentuan dalam nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani kedua belah pihak pada Juni. MoU itu dibuat untuk mengakhiri permusuhan yang bermula pada Maret.

Kazem Gharibabadi, Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk urusan hukum dan internasional, tampaknya menanggapi unggahan Trump tersebut.

“Sama seperti Trump yang menuliskan nama Teluk Persia yang abadi dengan benar, tak lama lagi delusinya mengenai Selat Hormuz akan dikoreksi, atau kami yang akan meluruskan delusi pria yang sedang berkhayal ini,” tulis Gharibabadi di media sosial.

Seorang pejabat AS mengatakan kepada Al Jazeera bahwa pembicaraan positif dengan Iran terus berlangsung. Namun Trump kini telah memutuskan untuk menunggu dan menginstruksikan tim negosiasinya untuk menunda langkah lebih lanjut sampai Teheran siap untuk mencapai kesepakatan.

Baca juga :   Trump Kirim Kapal Selam Nuklir, Amerika vs Rusia Mendekati Perang

Pejabat tersebut menegaskan bahwa tidak ada pertentangan dalam sikap pemerintah AS terkait pembicaraan dengan Iran.

Presiden AS mengunggah gambar di platform Truth Social miliknya yang memperlihatkan peta Selat Hormuz dengan keterangan “Wilayah Baru AS”—sebuah pengulangan atas ancamannya pekan lalu untuk menyatakan selat tersebut sebagai wilayah AS setelah Iran “menyerah”.

Sementara itu, negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, dalam komentar yang diterbitkan oleh media pemerintah pada Selasa mengatakan bahwa selat tersebut akan tetap ditutup sampai AS memenuhi ketentuan dalam nota kesepahaman (MoU).

“Ketentuan-ketentuan tersebut mencakup pencabutan blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, pencabutan sanksi minyak, pelepasan aset Teheran yang dibekukan, serta penghentian ancaman dan operasi militer di semua lini,” ujar Ghalibaf di hadapan parlemen. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *