Makin Rumit Taklukkan Iran, Presiden Trump Dikabarkan Stres Berat

  • Bagikan
FRUSTASI: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dikabarkan mengalami stres berat karena sulit menaklukkan Iran. Bahkan, Iran kini malah semakin berani membalas serangan di jantung dan pengkalan militer AS di Timur Tengah tanpa ampun.

INDOSatu.co – WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump makin stres karena penaklukan terhadap Iran ternyata makin rumit. Trump tidak puas terhadap jalannya operasi militer yang dilakukan AS terhadap Iran. Cara diplomasi yang kampungan membuat Iran makin menjauh untuk berdamai dengan AS.

Diplomasi kampungan yang dimaksud adalah upaya teror dan terus mengancam untuk menyerang Iran dengan berbagai serangan. Termasuk memaksakan kehendak agar Iran menghentikan program nuklir dan menyerahkannya uranium yang diperkaya kepada AS.

Dilansir oleh CBS dari sejumlah sumber yang mengetahui masalah tersebut, Trump menilai Washington telah melewatkan peluang untuk menghindari konflik berkepanjangan setelah menolak proposal Teheran terkait program nuklirnya.

Dilaporkan pula bahwa konflik dengan Iran juga mengungkap adanya perbedaan pandangan antara Trump dan Menteri Perang AS Pete Hegseth. Hegseth, meski ada kekhawatiran dari Jenderal Daniel Caine, dilaporkan mendorong pendekatan yang lebih agresif terhadap Iran.

Baca juga :   AS Perkuat Pasukan, Iran dan Rusia Gelar Latihan Gabungan

Sementara itu, Trump dikabarkan semakin frustrasi karena operasi militer berlangsung lebih lama dan menjadi lebih rumit dibandingkan yang semula diperkirakan. Laporan tersebut juga menyebut Trump merasa kesal ketika Hegseth dan Caine menyampaikan kekhawatiran mengenai keterbatasan operasional.

Selain itu, sejumlah pejabat Pentagon dan lembaga pemerintah lainnya dilaporkan tidak puas dengan Kepala Komando Pusat AS (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper. Mereka menilai Cooper pada awalnya terlalu melebih-lebihkan kemampuan Pentagon dalam menghadapi Iran.

Menanggapi laporan tersebut, Wakil Sekretaris Pers Gedung Putih Anna Kelly mengatakan bahwa Trump “sangat bangga” atas kepemimpinan Hegseth dan Cooper selama pelaksanaan Operasi Epic Fury.

Baca juga :   Berdalih Biaya Tinggi, Junta Burkina Faso Bubarkan Komisi Pemilu

Pada Selasa (14/7), Presiden AS Donald Trump mengadakan pertemuan di Ruang Situasi Gedung Putih, untuk membahas serangan berskala besar terhadap Iran dengan cakupan lebih luas daripada serangan yang saat ini berlangsung di kawasan Selat Hormuz.

Menurut laporan Axios, Rabu (15/7), mengutip sumber-sumber yang mengetahui masalah tersebut, para pejabat senior AS yang menghadiri pertemuan tersebut antara lain Wakil Presiden J.D. Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth.

Rapat itu berfokus pada rencana-rencana baru untuk serangan terhadap sasaran-sasaran strategis di Iran di luar operasi yang sedang berlangsung di Selat Hormuz, demikian disampaikan sumber-sumber tersebut kepada Axios.

Trump juga mengancam akan meningkatkan intensitas serangan mulai pekan depan dengan menyasar pembangkit listrik dan jembatan di Iran apabila Teheran tetap menolak berunding.

Baca juga :   Kecam Serangan IDF di Masjid Al Aqsha, Ketua MUI: Jadi Bukti Israel Islamofobia

Trump mengaku yakin Iran tidak memiliki pilihan selain mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat. Ia menambahkan bahwa pejabat kedua negara masih berkomunikasi hingga sekitar satu jam sebelum wawancara berlangsung.

“Mereka ingin membuat kesepakatan… Lebih baik mereka melakukannya. Jika tidak, tidak akan ada yang tersisa,” ujar Trump.

Mengenai Selat Hormuz, Trump mengatakan Amerika Serikat ingin jalur pelayaran tersebut tetap terbuka bagi lalu lintas internasional.

“Saya sempat ingin mengenakan biaya, tetapi mereka (negara-negara Teluk) lebih memilih membelanjakan lebih banyak uang di Amerika Serikat. Menurut saya itu lebih baik karena saya tidak menyukai gagasan mengenakan biaya. Selat itu harus tetap bebas,” pungkasnya. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *