INDOSatu.co – TEHERAN – Provokasi yang terus dilakukan Amerika Serikat (AS) benar-benar membuat Iran murka. AS dianggap melanggar kesepakatan damai yang telah diteken oleh Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada 18 Juni 2026.
Akibat sikap plin-plan AS itu, ketegangan di Selat Hormuz kembali meningkat. Ketua parlemen Iran sekaligus negosiator utama Iran dalam perundingan dengan Amerika Serikat, Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan, masa kesepakatan sepihak telah berakhir dan Iran siap membalas. di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz.
“Era kesepakatan sepihak telah berakhir. Kami sudah memperingatkan Anda, tepati janji Anda atau tanggung akibatnya. Kenyataan sudah di depan mata,” tulis Ghalibaf dikutip dari jejaring medsos miliknya.
Unggahan Ghalibaf itu juga menyertakan gambar berisi kutipan Pasal 5 di “Memorandum of Understanding Islamabad”, yang merupakan kesepakatan perdamaian antara AS dan Iran yang diteken pada 18 Juni lalu.
Pasal lima MOU Islamabad tersebut mengatur tentang pembukaan kembali Selat Hormuz, dengan sorotan pada frasa “Republik Islam Iran akan membuat pengaturan”, yang menjadi pemilik wilayah sah atas Selat Hormuz.
Pernyataan Ghalibaf itu disampaikan setelah Iran melancarkan serangan rudal dan drone terhadap pangkalan dan instalasi militer milik AS di sejumlah negara Teluk. Beberapa pangkalan militer AS di Teluk hancur diserang Iran, baik yang ada di Bahrain, UEA, Kuwait, dan Yordania.
Sementara AS melancarkan babak ketiga serangan dengan mengincar instalasi radar, rudal, dan drone di Iran selatan.
Menurut Komando Pusat AS (CENTCOM), serangan yang mereka lakukan tersebut untuk membalas Iran karena telah menembaki kapal dagang di Selat Hormuz dan menutup jalur laut strategis tersebut hingga waktu tidak ditentukan, dengan satu orang dilaporkan hilang. (*)



